SURABAYAONLINE.CO – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Koperasi dan UKM terus memperkuat pengembangan program One Pesantren One Product (OPOP) Jawa Timur sebagai upaya mendorong kemandirian ekonomi pesantren. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) bersama unsur pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media, Senin (16/3/2026).
Sinergi lintas sektor tersebut diharapkan mampu memperkuat ekosistem pengembangan ekonomi pesantren di Jawa Timur, sehingga program OPOP dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi penguatan sektor UMKM berbasis pesantren.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur, Endy Alim Abdi Nusa, menegaskan bahwa berbagai masukan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut akan menjadi bahan penting dalam penyusunan agenda rapat kerja pengembangan OPOP ke depan.
Menurutnya, gagasan penguatan ekonomi pesantren sebenarnya telah lama digagas oleh para ulama sejak puluhan tahun lalu.
“Para ulama sejak tahun 1930-an sudah memiliki gagasan tentang perdagangan internasional. Artinya, semangat membangun kemandirian ekonomi ini sebenarnya sudah ada sejak lama, dan program OPOP menjadi salah satu upaya untuk melanjutkan semangat tersebut,” ujarnya.
Endy menambahkan bahwa program One Pesantren One Product perlu terus diperluas agar tidak hanya dikenal di kalangan pesantren, tetapi juga oleh masyarakat luas. Karena itu, penguatan strategi komunikasi dan publikasi menjadi langkah penting untuk meningkatkan awareness masyarakat terhadap produk pesantren.
Ia mengusulkan agar promosi OPOP dilakukan secara lebih masif melalui berbagai platform media, termasuk media sosial dan kanal komunikasi digital lainnya.
Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Jawa Timur, Agung Subagyo, menekankan pentingnya penguatan strategi pengembangan ekosistem OPOP agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Salah satu strategi yang dinilai penting adalah pemanfaatan digitalisasi dalam pengembangan produk pesantren. Melalui digitalisasi, promosi dan branding produk dapat dilakukan lebih luas, sekaligus mempermudah sistem transaksi yang kini semakin berkembang menuju pembayaran non-tunai.
Menurutnya, saat ini jumlah pesantren yang tergabung dalam program OPOP telah mencapai lebih dari 1.600 pesantren di Jawa Timur, sehingga menjadi kekuatan besar dalam pengembangan ekonomi berbasis pesantren.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar, menilai program OPOP merupakan jawaban atas tantangan kemandirian ekonomi pesantren di tengah persaingan ekonomi yang semakin terbuka.
Ia menilai program tersebut kini telah memasuki tahap pengembangan yang lebih serius.
“Jika pada tahap awal lebih banyak berfokus pada pengenalan program, maka ke depan pengembangan harus diarahkan pada peningkatan kualitas produk dan penguatan kapasitas pelaku usaha pesantren,” jelasnya.


