Oleh: Hadipras

SURABAYAONLINE.CO – Selamat datang di negeri dimana statistik dan narasi adalah kosmetik dan gerobak gorengan adalah monumen ketangguhan bangsa. Disini, kita sedang menyaksikan sebuah teater absurd bertajuk “Benturan Logika”. Disisi panggung, berdiri para teknokrat penguasa berjas mentereng dengan gelar berderet, memaparkan slide tentang “Indonesia Emas 2045”. Di sisi lain, jutaan sarjana (korban PHK atau belum dapat kerja) sedang antre di depan penggorengan seblak atau menunggu notifikasi orderan ojek online di bawah pohon kamboja. Pemandangan yang miris ketika jumlah sektor informal naik tajam.

Sektor informal di Indonesia mencakup pekerja berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap, pekerja keluarga tak dibayar, dan pekerja bebas (PKL, ojek online, usaha mikro rumahan, dll.). Mayoritas adalah usaha mikro (99% dari total UMKM).

Usaha mikro ber-omzet kurang dari rp. 300 jt per tahun tetapi didominasi omzet kurang dari rp.150 jt per tahun), berarti pendapatan kurang dari Rp. Rp. 500 rb/hari omzet kotor. Itupun kalau tiap hari laku!

Februari 2025 jumlah usaha mikro informal 59,4% (sekitar 86,58 juta orang dari total pekerja). Sektor informal/mikro menjadi “tameng” saat PHK dan perlambatan ekonomi, dan berdampak memperburuk penurunan kelas menengah (sebesar 9 juta orang menuju rentan miskin) karena tidak memberikan stabilitas pendapatan yang dibutuhkan untuk bertahan di kelas menengah.

Apa ini salah? Menurut logika penguasa, ini bukan pengangguran tetapi “kemandirian ekonomi” (mungkin untuk menutup narasi kegagalan industrialisasi). Ketika pabrik-pabrik mulai angkat kaki ke Vietnam karena birokrasi disini lebih berbelit daripada kabel listrik di gang sempit, pemerintah tidak panik. Mereka justru melakukan branding ulang. Buruh pabrik yang kena PHK kini disebut “CEO Sektor Mikro” setelah mereka membeli gerobak sate.

Ini adalah benturan logika yang paripurna. Logika pertama berkata bahwa negara maju adalah negara yang menguasai teknologi dan manufaktur. Logika kedua, berkata bahwa selama rakyat masih bisa bertahan hidup walau saling menjual cilok satu sama lain, maka stabilitas nasional aman.

Kita telah menciptakan ekosistem unik yang disebut “ekonomi kanibal”, dimana orang miskin melayani orang miskin, orang susah memotong rambut orang susah, dan semuanya membayar menggunakan sisa tabungan yang kian menipis.

Lalu apakah mungkin membuat terobosan? Mungkin, tetapi sulit karena terobosan itu melelahkan. Membangun industri manufaktur itu butuh visi dua dekade, kepastian hukum yang tidak bisa disuap, dan kualitas pendidikan yang bukan sekedar bagi-bagi ijazah. Itu terlalu lama untuk siklus pemilu lima tahunan!. Jauh lebih mudah bagi pemerintah untuk meromantisasi penderitaan rakyat tiap lima tahunan.

Lihatlah, betapa “kreatifnya” rakyat kita! Tanpa bantuan modal yang nyata, tanpa pendampingan teknologi, mereka bisa bertahan hidup hanya dengan modal tepung dan cabai. Bukannya malu karena gagal menyediakan lapangan kerja formal, pemerintah justru memajang foto pedagang kaki lima di laporan tahunan sebagai bukti “UMKM yang Tangguh”.

Pemerintah tahu bahwa sektor informal adalah “katup penyelamat”. Kemiskinan yang dipoles dengan istilah “wirausaha” adalah obat bius paling mujarab untuk menjaga kursi kekuasaan tetap empuk.

Apakah bisa lahir kesadaran para elit? Mungkin jangan bermimpi ya. Logika kekuasaan itu tidak mengenal pertobatan, ia hanya mengenal tekanan. Perubahan radikal hanya akan terjadi ketika “logika perut” sudah tidak bisa lagi dikompromi dengan “logika pencitraan”.

Ketika jumlah penjual kopi starling(kopi keliling) sudah lebih banyak daripada pembelinya, dan ketika algoritma ojek online sudah tidak mampu lagi membagi remah pendapatan ke jutaan pengemudi, di sanalah benturan itu akan meledak. Perubahan radikal akan datang bukan dari ruang rapat di Jakarta, melainkan dari keputusasaan yang berubah menjadi kemarahan kolektif.

Teknologi AI mungkin akan mengambil alih pekerjaan admin, sementara robotika akan menggantikan kurir manusia. Di titik itu, romantisasi UMKM akan hancur lebur diterjang realitas bahwa manusia tidak bisa selamanya hidup hanya dengan saling menjual gorengan. Dan itu adalah ‘hanya soal waktu’.

Kita sedang berjalan di atas tali tipis. Di bawah kita adalah jurang deindustrialisasi, dan di depan kita adalah fatamorgana kemajuan. Tetapi para pemimpin kita tetap tenang karena mereka punya parasut emas Makan Bergizi Gratis yang konon akan menambal lapar rakyat. Namun, apakah perut yang kenyang secara cuma-cuma bisa membangun pabrik?

Ataukah kita hanya akan berakhir menjadi anggota Kopdes Merah Putih, sebuah koperasi desa yang (lagi-lagi) diharapkan menjadi juru selamat bagi rakyat yang sudah terlalu lelah menggoreng nasibnya sendiri di pinggir jalan?

Inilah negeri yang hebat. Negeri yang mampu mengubah kegagalan negara menjadi beban moral individu. Negeri di mana jika anda miskin, itu bukan karena kebijakan yang salah, tetapi karena anda kurang “inovatif” dalam menjual seblak. Mungkin konsep sistem ekonomi yang enabling, bagi sebagian besar Wakil Rakyat sulit dipahami, karena terlalu rumit dibanding wacana pensiun seumur hidup.

Akhirnya ada kejadian di warung kopi yang lucu dan mengenaskan. “Bagaimana kabarmu Bro? sapa seseorang kepada temannya. Temannya menjawab: “Makin remuk bin modyar Bro (sambil ketawa sinis)”.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version