SURABAYAONLINE.CO – Pengajian rutin dan istighosah yang setiap bulan dilaksanakan di Pondok Pesantren Rehabilitasi Mental Az Zainy, Tumpang, Kabupaten Malang, Jumat malam lalu (30/01) terasa istimewa. Selain dihadiri sejumlah pejabat, juga dihadiri kalangan selebritis.

Dari unsur pejabat, hadir Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) Prof Dr Fauzan M.Pd; Walikota Malang, Dr Ir Wahyu Hidayat; Sekda Kabupaten Malang, Dr Ir Budiar Anwar mewakili Bupati Malang; dan satu lagi pejabat dari ujung timur Indonesia, Bupati Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, Atenius Murip S.H, M.H.

“Saya dari jauh, khusus datang ke pondok ini yang diasuh abang kyai (sapaan untuk KH Zain Baik, Pengasuh Pondok Pesantren Az Zainy), karena didorong oleh cinta kasih. Saya tahu, abang Kyai ini sudah lama membina kerukunan antar agama di pondok ini. Dan ini tercermin dari para hadirin yang ikut dalam kegiatan malam hari ini. Ini ada para suster (suster dari Pertapaan Karmel) yang mewakili agama Katolik. Kebetulan saya juga Katolik,” kata Atenius Murip ketika memberikan sambutan di acara tersebut. Pada malam itu acara pengajian juga dihadiri sejumlah suster dari Pertapaan Karmel yang ada di Ngadireso, Kabupaten Malang.

Atenius menambahkan, apa yang dilakukan oleh Gus Zain (sapaan akrab KH Zain Baik) sama dengan yang dilakukan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur, Presiden ke 4 RI) yang sangat intens dalam merawat spirit kerukunan beragama. “Kegiatan seperti ini sangat mulia,” ujar Atenius.

Dari unsur selebritis, hadir Rizal Djibran, pemeran tokoh Lindu Aji (musuh Mak Lampir) dalam sinetron yang pernah tenar di tahun 1998-1999: Misteri Gunung Merapi. Dia datang bersama Syamsul Gondo, pemeran Basir dalam sinetron tersebut. Rizal dan Syamsul malam itu tampil dengan kostum Lindu Aji dan Basir. Ketika diminta memberikan sambutan, Rizal menyampaikan apresiasinya atas kegiatan pengajian rutin yang diselenggarakan di Pesantren Az Zainy. Dia juga sempat melihat dari dekat, bagaimana kiprah Gus Zain dalam mengasuh dan merawat para ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) di pondok pesantren itu. “Kalau bukan orang yang benar-benar sabar dan ikhlas, nggak akan mampu merawat dan mengasuh santri dengan ODGJ,” katanya.

Gus Zain dalam sambutannya sebagai tuan rumah, berpesan kepada para jamaah pengajian agar memahami makna hidup. Dia menjelaskan, bahwa makna hidup itu ditentukan dua hal: pilihan hidup dan tujuan hidup. Antara keduanya saling terkait. Tujuan hidup, sangat ditentukan oleh pilihan-pilihan hidup. Ketika seseorang tepat dalam membuat pilihan-pilihan dalam hidupnya, maka secara otomatis tujuan hidupnya akan berada pada rel yang tepat. Sebaliknya, ketika seseorang salah dalam membuat pilihan-pilihan dalam hidupnya, maka tujuan hidupnya pun akan salah. “Di sini lah pentingya ilmu dan agama. Keduanya harus berjalan beriringan memandu kita dalam membuat pilihan-pilihan hidup yang benar dan tepat,” katanya.

Di bagian terakhir kegiatan pengajian, Wamen Diktisaintek Prof Dr Fauzan M.Pd menggarisbawahi yang disampaikan Gus Zain. “Semuanya itu dipengaruhi oleh cara berpikir kita,” kata Fauzan. Jika cara berpikirnya selalu positif, maka perilakunya pun akan positif, dan output yang dihasilkan juga akan positif. Sebaliknya, jika cara berpikir selalu negatif, maka perilaku dan out put yang dihasilkan juga akan negatif. “Sekarang ini, kita sedang dijangkiti penyakit tidak mau bersyukur,”. Padahal, sebagai warga negara Indonesia, harusnya banyak-banyak bersyukur dengan keistimewaan yang dimiliki bangsa Indonesia saat ini. 

Pengajian rutin di Pesantren Az Zainy malam itu dihadiri ribuan jamaah. Kebanyakan dari wilayah Malang Raya. Mereka juga datang dari Pasuruan, Probolinggo, Sidoarjo dan Blitar. Kegiatan tersebut sudah diadakan sejak lebih dari 30 tahun. Dan selalu diikuti oleh banyak kalangan. Selain diikuti tokoh lintas agama, juga dihadiri masyarakat dari berbagai etnis, profesi dan latar belakang.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version