SURABAYAONLINE.CO | Jember – Cabor baru banyak bermunculan dalam ajang Porprov Jatim VII kali ini. Salah satunya adalah cabang dari bola basket tradisional yakni basket 3×3.
Basket 3×3 sendiri sejatinya menggunakan peraturan yang sama dengan peraturan permainan basket tradisional. Hanya saja, pertandingan ini hanya dimainkan oleh tiga orang lawan tiga orang alih-alih lima lawan lima. Lapangan yang digunakan juga hanya setengah lapangan basket tradisional. Waktu bertanding juga hanya dua periode selama sepuluh menit tiap periodenya.
Ketua Pengprov Perbasi Jatim Evi Ekawati menyatakan bahwa dirinya optimis akan kemajuan cabor baru ini.
Evi menjelaskan bahwa ini adalah cabor baru, baru dikompetisikan dan mewajari bahwa dirinya dan Perbasi Jatim butuh banyak belajar dan beradaptasi.
Secara umum kemajuan basket 3×3 di Jatim dinilai Evi sangat bagus. Namun untuk persiapan PON Evi meminta semua atlet harus lebih giat latihan untuk memupuk chemistry meskipun secara skill Evi menilai para atlet Jawa Timur sudah bagus. Dirinya meminta agar semua pihak tidak boleh menggampangkan wilayah lain. Evi menilai persiapan dua tahun untuk PON 2024 bisa dikejar. Ada banyak kompetisi yang akan didukung penuh oleh Perbasi Jatim.
Dalam gelaran Porprov Jatim VII kali ini, dari 38 Kabupaten/Kota banyak yang tidak ikut banyak yang tidak tahu bahwa ada nomor 3×3 putra putri. Dirinya siap menggencarkan sosialisasi ke daerah-daerah.
“Harapan saya sejatinya dari 38 Kabupaten/Kota bisa ikut semua. Tugas perbasi adalah sosialisasi dan promosi terhadap cabor baru demi pembibitan untuk menjaring atlet untuk PON 2024 dan kita bisa merebut emas dan menambah kuota emas bagi Jawa Timur” terang Evi.
Evi menjelaskan bahwa butuh adaptasi, persiapan dan latihan keras untuk menuju PON 2024 mendatang.
“Butuh persiapan, latihan, dan kerja keras terutama mengingat rule Porprov dan PON akan sedikit berbeda” jelas pengurus Badan Timnas Yunior PP Perbasi tersebut.
Dalam waktu dekat basket 3×3 akan mengadakan kejurprov dan event Porprov Jatim VIII 2023 sudah tidak lama lagi.
Evi tidak bisa memprediksi peta persaingan lantaran semua daerah di Jatim mulai bangkit. Banyak bibit-bibit daerah yang bisa disiapkan untuk seleksi PON. Semua akan terpetakan semakin jelas setelah Porprov Jatim VIII tahun depan.
Sebagai Ketua Umum Pengkot Perbasi Surabaya, Evi juga meminta tim Surabaya untuk tidak lengah. Dirinya mengharapkan Surabaya untuk terus menjadi benchmark bagi daerah-daerah lain agar perkembangan di daerah juga bisa meningkat dengan merata.
“Terbukti Mojokerto berhasil mengungguli Surabaya di 3×3. Surabaya jangan lengah dan meremehkan daerah lain. Supaya jadi benchmark bagi daerah lain dan meratakan peningkatan basket di daerah” lanjut Evi.
Untuk basket 5×5 tradisional, Evi menjelaskan bahwa ada pertumbuhan yang sangat baik untuk setiap daerah meskipun Surabaya berhasil mengawinkan emas di dua ajang Porprov terakhir.
“Semua daerah untuk 5×5 sudah baik. Bahkan beberapa daerah bisa saja mengalahkan dominasi Surabaya dengan berlatih dan kerja keras yang lebih giat”.
Evi menyatakan butuh dukungan maksimal dari KONI, Perbasi, orang tua atlet, semua pihak terkait demi perubahan skena basket yang lebih baik sehingga Jawa Timur mampu kawin gelar di PON 2024 baik di kategori 3×3 maupun di kategori 5×5.
“Optimis Jatim bangkit” tutup Evi.


