SURABAYAONLINE.CO – Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat melakukan pertemuan dengan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Ahmad Muzani, di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Selasa (13/1/2026) sore.

Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat, reflektif, dan penuh makna, membahas esensi profesi wartawan sebagai panggilan nurani serta peran strategis pers dalam kehidupan kebangsaan dan demokrasi Indonesia.

Dalam audiensi tersebut, Ahmad Muzani mengenang kembali pengalamannya saat mengikuti ujian wartawan muda PWI DKI Jakarta pada tahun 1991. Salah satu pertanyaan dalam ujian itu, menurutnya, masih membekas hingga kini.

“Jika dalam meliput kita menemukan kecelakaan di tengah jalan, mana yang harus didahulukan, membantu korban atau menulis berita?” ujar Muzani mengenang.

Muzani mengaku memilih menolong korban terlebih dahulu, baru kemudian menulis berita. Pilihan itu mengantarkannya lulus sebagai wartawan muda PWI.

“Bagi saya, kemanusiaan harus selalu berada di atas kepentingan apa pun,” tegas Muzani.

Ketua MPR RI yang pernah berkiprah sebagai wartawan Majalah Amanah dan penyiar Radio Ramako itu menegaskan bahwa jurnalisme bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hati dan tanggung jawab moral.

“Menjadi wartawan itu memilih untuk mengatakan yang benar adalah benar, dan yang salah adalah salah,” ujarnya.

Menurut Muzani, nilai memperjuangkan kebenaran dan kepentingan rakyat harus tetap hidup, meski seseorang telah berpindah peran.

“Saya tidak pernah merasa terpisah dari wartawan. Sampai sekarang, hati saya masih wartawan.”

Ia juga mengingatkan kembali nilai-nilai dasar PWI yang dirumuskan sejak Kongres PWI 1946 di Solo, yang menempatkan pers sebagai alat perjuangan dan pengabdian kepada bangsa.

“Di PWI, wartawan disebut pejuang, karena memperjuangkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi,” tuturnya.

Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, menyambut baik refleksi yang disampaikan Ketua MPR RI tersebut. Menurutnya, kisah itu menjadi pengingat penting bagi seluruh insan pers tentang jati diri wartawan.

“Apa yang disampaikan Ketua MPR menunjukkan bahwa jurnalisme sejati selalu bertumpu pada kebenaran dan kemanusiaan. Nilai-nilai inilah yang terus kita jaga di PWI,” ujar Munir, yang juga menjabat Ketua Dewan Pengawas LKBN Antara.

Munir menambahkan, PWI hingga kini tetap merawat nilai-nilai luhur para pendiri sebagai rumah besar wartawan Indonesia yang berkontribusi besar bagi kemajuan bangsa dan negara.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PWI Pusat, Zulmansyah Sekedang, menyampaikan bahwa pertemuan ini juga menjadi bagian dari komunikasi PWI dengan pimpinan lembaga negara menjelang Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang akan digelar di Provinsi Banten.

“Kami secara resmi mengundang Ketua MPR RI untuk hadir pada peringatan Hari Pers Nasional 2026. Kehadiran beliau akan menjadi kehormatan sekaligus penguat semangat insan pers,” kata Zulmansyah, yang juga Ketua Panitia HPN 2026.

Ia menegaskan, HPN merupakan momentum refleksi bersama antara pers dan negara dalam menjaga demokrasi, persatuan, dan kepentingan nasional.

Dalam kesempatan itu, Ahmad Muzani juga menyinggung perubahan lanskap jurnalistik di era digital, di mana peran pewarta kini turut dijalankan oleh netizen dan konten kreator.

“Dari pemberitaan mereka, kita bisa mengetahui masih adanya bantuan yang belum sampai atau penanganan yang belum optimal,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pers profesional untuk tetap menjaga akurasi, etika, dan keberpihakan pada kepentingan publik.

Audiensi ini turut dihadiri jajaran Pengurus PWI Pusat, antara lain Bendahara Umum Marthen Selamet Susanto, Ketua Bidang Kemitraan dan Kerja Sama Ariawan beserta Wakil Kadirah, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Irfan Junaidi, Wakil Sekjen Haryo Ristamadji, Ketua Departemen Hankam TNI-Polri Johnny Hardjojo beserta wakilnya Musrifah dan Badar Subur, Ketua Departemen Parlemen Ade Candra, Ketua Departemen Seni, Musik, Film, dan Budaya Ramon Damora, Ketua Departemen Kajian dan Litbang Akhmad Sefudin, serta Wakil Humas Akhmad Dani.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version