Surat Al-Audiyah di Dalamnya ada 10 Tangga Ruhani

Surabaya Online –  Manzilah Al-Audiyah (rasa) merupakan persinggahan tangga ruhani dalamnya ada 10 Tangga Ruhani.

Pertama Al-Ihsan (Baik).
Yakni engkau sembah Tuhanmu seakan melihatnya. Merasa melihat dan dilihat, menghadirkanNYA setiap saat.

Ihsan adalah inti iman, puncak kebaikan. “Tidak ada balasan Ihsan kecuali Ihsan pula,” demikian Oman menjelaskan sembari mengutip QS al-Rahman: 60.

Kedua pada Manzilah Al-Audiyah adalah Al-‘Ilm (Ilmu).
Dengan pengetahuan yang berdasar pada argumen dan menghilangkan kebodohan. Ada ilmu yang bisa didengar, dilihat, dan dicerna, ada ilmu yang hanya diketahui orang tertentu.

Ketiga, Al-Hikmah (Hikmah).
Rahasia segala sesuatu, memahami hubungan sebab akibat. Hikmah dalam arti bijak, menempatkan sesuatu pada tempatnya, tidak berlebihan, tidak menyegerakan waktu yang sudah ditetapkan, juga tidak menundanya.

Keempat Al-Bashirah (Mata Batin)
Kekuatan batin yang melampaui penglihatan lahir, menyingkap hijab, dan menghilangkan keraguan atas hal ghaib.

“Pengetahuan mata batin menuntun pada kebenaran hakiki, memilahnya dari pngetahuan lahir nan nisbi,” jelas Oman.

Kelima adalah Al-Firasah (Firasat).
Pengetahuan tentang hal ghaib dengan melalui mata batin, tanpa perlu saksi atau bukti kehadirannya.

Firasat yang diperoleh dengan memperhatikan tanda-tanda itu tidak didatangkan namun masuk ke dalam hati tanpa diketahui penyebabnya.

Keenam Al-Ta’zim (Pengagungan). “Mengetahui dan tunduk pada Keagungan Al-Haq, tidak menyalahi perintahNYA, tidak meratapi takdirNYA,” ujar Oman.

“Pengagungan juga berarti tidak memilih amaliah yang menggampangkan atau meremehkan, sebaliknya tidak berlebihan,” lanjutnya.

Ketujuh, Al-Ilham (Ilham).
Adalah pengetahuan Rabbani (dari Tuhan) yang meresap ke dalam hati. Ilham itu maqom para ahli hadis (Al-Muhadditsin). Ia lebih tinggi dari firasat karena lebih permanen.

“Firasat hanya datang sesekali dan terkadang menyulitkan,” terang Oman.

Kedelapan Al-Sakinah (ketenangan). Membawa pada keadaan di mana jiwa merasa tenteram setelah menghadapi guncangan, kegelisahan, dan ketakutan. Ketenangan diberikan kepada Rasulullah SAW saat bersembunyi di Gua Hira. Al-Sakinah adalah anugerah dariNYA.

Kesembilan, Al-Tuma’ninah (tenteram).
Merupakan istirahat, tenang dengan rasa aman. Al-Harawi, kata Oman, mengartikan Al-Tuma’ninah sebagai ketenangan yang diperkuat dengan rasa aman hakiki.

“Tuma’ninah adalah puncak sakinah. Kalau sudah sakinah, maka akan merasakan tuma’ninah,” tuturnya.

Terakhir yang kesepuluh Al-Himmah (hasrat).
Dengan gairah kuat yang menggerakkan diri untuk mencapai tujuan, tidak bisa dibendung atau dihindari oleh pemiliknya. Himmah tertinggi adalah ketergantungan pada Al-Haq.

“Kualitas hamba terletak pada himmah yang dimilikinya,” tandas Oman.(*sut)