Sarung Produksi Warga Cerme Tembus Brunai Darussalam Hingga Arab Saudi

SURABAYAONLINE.CO, GRESIK – Bulan Ramadan adalah bulan suci umat Islam sedunia. Bulan penuh rahmad dan berkah.

Demikian juga dengan bisnis sarung H Abd Rochim (62) warga Desa Jambu Kecamatan Cerme ini.

Bisnis turunan yang dilakoninya sejak 1997 itu, semakin moncer setiap memasuki bulan suci Ramadan.

Di bulan-bulan biasa, Abah Rochim, sapaan akrabnya mengaku bisa menjual hingga 10 kodi setiap minggunya.

Namun bila memasuki bulan Ramadan hingga menjelang Lebaran, ordernya bisa meningkat hingga 4x lipat, bahkan sampai sampai semua stok di gudang pasti ludes terjual.

Sarung produksinya, ujar Abah Rochim, sebagian besar dijual ke Malaysia, Brunei bahkan hingga Arab Saudi.

Dia menjualnya tanpa merek, karena yang menjualnya adalah pedagang Arab dari kawasan Ampel Surabaya.

“Mereka ini yang beli dari saya, lalu diberi cap, dibungkus yang mewah lalu diekspor,” ujarnya.

Sarung produksi Abah Rochim, semuanya dikerjakan secara tradisional alias Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), dan dikerjakan di rumah pribadinya di Desa Jambu Kecamatan Cerme.

“Yang laris diekspor biasanya yang harganya Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribuan,” tambahnya.

Industrinya juga membuat sarung eksklusif, dari bahan utama sutera timbul yang dijualnya seharga Rp 1,3 juta. Yang lebih mahal lagi, bahan sutera motif Songket.

” Harganya memang mahal, karena untuk membuatnya seorang pekerja butuh waktu 2 minggu untuk menghasilkan 3 buah sarung sutera timbul,” tambahnya.

Usaha sarung yang dilakoni Abah Rochim, adalah turunan dari ayahnya. Dulu, ayahnya adalah seorang pekerja di sebuah industri sarung milik orang Arab di kawasan Pulopancikan Kota Gresik.

Setelah merasa memiliki ilmunya, dan mampu mandiri, pada tahun 1970 orang tua Abah Rochim mendirikan usaha sarung di rumah mereka di Desa Jambu.

Pada tahun 1997, Abah Rochim memberanikan diri membuka usaha sendiri meski usahanya masih di desa yang sama.

Dari tujuh bersaudara, enam orang memiliki usaha sarung. Sedangkan seorang adiknya memilih menjadi guru.

“Semua saudara saya punya usaha serupa, bahkan seorang kakak saya masih bertahan di rumah orang tua meneruskan usaha sarung turunan,” kata Abah Rochim (san)