Hampir 60 persen Petani di Desa Basoka Gagal Panen, Apa Penyebabnya?

SURABAYAONLINE.CO, Sumenep– Hampir sekitar 60 persen petani padi di Desa Basoka, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep Jawa Timur mengalami gagal panen pada musim panen tahun ini

Hal itu disampaikan oleh Ketua Kelompok Tani Suka Maju (salah satu kelompok tani di Desa Basoka) Moh Rais, “Secara presentase hampir 60 persen masyarakat petani di Desa Basoka gagal panen,” katanya. Senin 01/03/2021

Gagal panen yang dialami mayoritas petani di desa setempat, menurut Rais disinyalir lantaran benih yang digunakan oleh mayoritas petani di desa setempat. Karena berdasarkan sampel tanam disalah satu petakan lahan miliknya dimana dilokasi tersebut ditanami dua jenis benih dari berbeda. Salah satunya memakai merk benih yang dinilai jadi penyebab petani gagal panen. Penanamannya pun dibikin separuh-separuh. Separuh pakai merk benih lain, separuh pakai bibit yang dianggap jelek. “Sedangkan yang pakai bibit lain hasil taninya bagus,” ujarnya kepada SurabayaOnline.co sambil menunjukkan lahannya.

Atas hal itu petani menduga kuat rusakanya tanaman padi mereka tidak mungkin disebabkan oleh faktor alam ataupun hama.

“Curah hujan musim ini sangat bagus untuk tanaman padi. Terus kalau memang disebabkan karena perawatan, itu ada yang separuh padinya rusak tapi separuhnya lagi bagus. Harusnya kalau memang sebab faktor alam atau perawatan kan rusak semua, bukan separuh-separuh,” jelasnya.

Rais juga mengaku, benih tersebut sudah pernah dipakai oleh petani di sana pada musim penghujan tahun lalu. Namun, sambungnya, kali ini benih tersebut tidak menghasilkan kualitas padi seperti musim sebelumnya.

Pada musim lalu, dengan memakai bibit tersebut bisa menghasilkan padi dua kali lipat. Hal tersebut yang membuat petani di Desa Basok berbondong-bondong berebut membeli bibit padi tersebut dengan harga Rp. 89 ribu per kilo gram.

“Beda dengan tahun sekarang. Padinya hanya berbuah gabah, tidak ada bijinya. Biasanya saya dapat 18 karung padi, sekarang hanya 6 karung dan ketika sudah dibersihkan hanya jadi dua karung, itu kualitas padinya hancur ketika sudah digiling,” terangnya.

Rais masih merupakan orang yang beruntung dibanding petani yang lain. Hasil tanaman padi petani lain dengan merek benih tersebut banyak dijadikan pakan ternak. Sebagian lain ada yang dibiarkan begitu di tengah sawah. “Panen kali ini gagal total,” tegas Rais.

Dari pengakuan Rais, benih tersebut dibeli lewat suplayer yang langsung datang ke desanya. “Entah dari toko mana tidak tahu. Datang langsung ke masyarakat. Tapi bibit ini juga tersedia di Pasar Rubaru, ada yang jual pakai mobil,” tuturnya.

Rais berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep mendengar dan sigap keluhan mereka. Pemerintah diharapakn lebih ketat lagi dalam melakukan pengawasan terhadap pasokan bahan yang dibutuhkan oleh petani.

“Dinas-dinas terkait sangat diharap bisa melakukan pengawasan terutama di pembibitan. Juga mengenai pupuk yang tahun ini langka. Sangat sulit untuk mendapatkan pupuk,” katanya.

Kasus gagal panen di atas, sebenarnya tidak hanya melanda petani Desa Basoka. Isu yang berkembang di tengah masyarakat juga tengah menjadi keluhan yang sama dengan petani di desa lain yang ada di Kecamatan Rubaru. Thofu