Dua Dimensi Cawabup

Oleh : Yusron Aminulloh

SURABAYAONLINE.CO – Diatas kertas, posisi calon bupati Yusuf Widyatmoko dibanding Ipuk Fiestiandani, istri Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, tidak imbang secara ketokohan, tapi imbang secara hitungan kursi Partai pendukung.

Yusuf adalah politisi sejati yang memahami birokrasi karena 10 tahun mendampingi Anas, sementara Ipuk Fiestiandani, adalah ibu rumah tangga yang baik, pendamping suami yang setia, dan “pemula” dijagat politik.

Kalau bilang point optimis sekaligus pesimis, yang disumbangkan pada perhelatan Pilkada 2020, Yusuf bisa jadi memiliki diatas 60 %, sementara Ipuk Fiestiandani mungkin 40 %. Nah ada point 40 % dipasangan urut no.1 yang harus digenjot tim dengan kekuatan Cawabup Gus Riza. Sementara dipasangan Urut 2 ada H Sugirah S.Pd, M.Si, Cawabup yang berkewajiban genjot 60 %.

Maka catatan kali ini, kita fokuskan siapakah dua cawabup yang berlaga, mampukah mereka menggenjot suara sehingga kompetisi menjadi seimbang dan berkejaran.

Peran Ganda

Nama Cawabup Sugirah, atau lengkapnya, H Sugirah S.Pd, M.Si, dikenal sebagai petani sukses dan anggota dewan.

Sugirah, adalah warga Dusun Krajan, Desa Seneporejo, Kecamatan Siliragung. Pria kelahiran Banyuwangi, 1 Februari 1964, ini memang warga kampung. Tapi jangan salah, kursi anggota DPRD Banyuwangi telah dia tempati selama 3 periode. Ini bukti kepercayaan masyarakat.

Dalam banyak kesempatan, Sugirah ingin memajukan pertanian Banyuwangi. Ini langkah positif karena selama 10 tahun potensi petani Banyuwangi seolah “tenggelam” dengan pariwisata yang jadi andalan Anas.

Tapi isue memajukan petani bukanlah “dagangan politik” yang menarik. Karena apapun langkah pemerintah daerah tak bisa melepaskan diri dari peran pemerintah pusat. Baik pupuk, bibit hingga kemudahan akses perbankan.

Isue politik Pilkada masih kalah dengan sekolah gratis, kesehatan gratis hingga problem mendasar soal BPJS, lapangan kerja sering lebih menarik.

Tapi apapun langkahnya, posisi Sugirah sangat mendukung istri Anas. Ia akan mampu membantu menggerakkan mesin partai dari basic konstituennya. Meski untuk mampu menyumbang 60 % suara memerlukan kerja keras dan strategi berlapis.

Sementara itu, Cabup Yusuf Widyatmoko berpasangan dengan KH Muhammad Riza Aziziy (Gus Riza) yang angka optimisnya 60 % masih membutuhkan peran Gus Riza 40 % untuk mendongkrak suaranya.

Pertanyaanya, mampukah Gus Riza “mengerjakan” tugas itu ?

Sebagai calon wakil bupati. Gus Riza memang belum punya “jam terbang” cukup untuk dikenal dan dipilih masyarakat Banyuwangi. Karena lama ia tidak tinggal di kota ini. Ia banyak berkiprah diluar kota. Diatas kertas (hari ini) jam terbangnya kalah dengan Sugirah.

Tapi jangan lupa ada dua faktor utama yang membuat namanya mudah diterima masyarakat Banyuwangi.

Pertama, ia merupakan keluarga besar dari Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam Blokagung, salah satu pondok besar dan memiliki pengaruh kuat di Kabupaten Banyuwngi. Abahnya, KH Hisyam Safaat pasti tidak tinggal diam. Dibeberapa daerah di Jatim, peran Kyai masih dominan mengangkat seorang calon.

Kedua, Riza masih muda. Ia merupakan representasi milenial. Sebuah trend baru yang sedang menjadi faktor pendukung signifikan. Ia lulusan Timur Tengah, ia punya peranan melanjutkan langkah Anas untuk mengembangkan investasi wisata dari jalur Timur Tengah, disamping peran memajukan dunia pendidikan Banyuwangi yang kurang maksimal saat Anas karena “tenggelam” dengan wisata.

Masih ada waktu dua bulan. Kita tunggu kiprah dua cawabup ini. Mereka berdua punya peran besar mendongkrak suara.*

Penulis Pengamat Sosial, Pendiri MEP Institute.