surabayaonline.co– Berargumen apapun boleh untuk mengelak mengarahkan arah dukungan. Tetapi boleh juga melawan bicara atau berargumen, hal tersebut hanyalah alasan sederhana.
Awal kecemasan di mulai sebulan sebelum rekomendasi turun. Yang pada saat itu ketua Keluarga Besar Rakyat Surabaya Perjuangan Yanto Banteng sempat di minta duduk bersebelahan dengan WS ( Sapaan akrab Whisnu Sakti Buana ) ketika berkunjung di sebuah acara di Krembangan.
Namun usai pertemuan tersebut hal yang tidak di inginkan pun terjadi. Pada 2 September 2020 meruapakan tanggal yang menjadi ingatan buruk baginya, rekomendasi yang di harapkannya meleset dan jatuh kepada orang lain yang bukan kader.
Dengan harapan yang sirna, pihaknya pun memiliki keberanian ekstra untuk melakukan hal yang tak seharusnya di lakukan.
” Merapat ke partai lain dan minta dukungan maju pilwali sebagai calon walikota, walaupun waktu begitu mepet tapi kerja politik rasanya sanggup untuk dilakukan” kata Yanto Banteng, Selasa (17/11/2020).
pihaknya pun sempat kebingungan untuk mengambil tindakan dengan adanya asumsi – asumsi yang di lontarkan kepadanya untuk menjadi pendukung atau penghalang.
Selain itu, menurut pihaknya sesuatu tindakan yang akan menyudutkan keberadaannya di partai Banteng gemuk. Benar memang tidak mengarahkan dukungan pendukungnya ke paslon Kompetitor partainya di konstelasi pertarungan walikota. Tetapi di lapangan cukup jelas untuk menuduh Wakil walikota yang sampai saat ini di embannya.
“WS boleh mengelak tapi kakak kandungnya ( Jagat Hari Seno ) terang-terangan berpihak pada paslon sebelah, WS boleh jadi tidak mengarahkan tetapi ketika deklarasi “BANTENG KETATON” tetap saja orang lain berasumsi bahwa WS terlibat” tegasnya.
Sebagai pengharap WS bisa melanjutkan langkah sebagai L1, pihaknya pun mengambil sikap untuk berdiam diri seperti apa yang di lakukan calon yang di jagokan. Hanya saja sikap manut WS tidak pernah di ikuti.

Tawaran dari kedua timses bahkan dari salah satu paslon pun tidak di gubris. Banyak tawaran yang di tujukan pada Yanto Banteng untuk menjadi bagian dari pemenangan. Hingga pada akhirnya tidak dapat mengelak karena yang meminta orang yang sangat di segani.
Pihaknya pun larut bersama lembaganya untuk membantu sebagai relawan pada paslon yang sebenarnya tidak di kehendaki. Begitulah jalan politik yang harus di jalani. Walau hati tidak sejalan namun nalar berjalan tidak beriring.
Meski hanya sebatas relawan untuk memenangkan paslon yang akan di usungnya tapi jalan yang di lakukan begitu luar biasa dan kerja secara profesional.
Hingga sampailah Hasan KBRSP Sekretaris keluarga Besar Rakyat Surabaya Perjuangan ( KBRS P ) berjumpa dengan paslon yang saat ini di dukungnya. Meski sempat ada penolakan adanya pertemuan dengan paslon.
Rasa sungkan pun sempat timbul pada diri paslon no 1 ( Eri Cahyadi ) yang sempat terlontarkan karena Yanto Banteng pernah juga menjadi relawan WS.
“Politik masih merasa sungkan, apa iya politik masih mengenal rasa sungkan, politik tidak ada kata sungkan, walaupun rasa itu sebagai batas tepoh seliroh (menenggang perasaan orang lain)” tutup Yanto.(Irf)


