SURABAYAONLINE.CO – Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani bersama Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik untuk membangun iklim investasi yang tidak hanya berorientasi pada besarnya nilai modal yang masuk, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Komitmen tersebut disampaikan dalam The 1st Gresik Business Forum bertema “Beyond Investment: Membangun Kemitraan Strategis untuk Masa Depan Gresik” yang diselenggarakan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Gresik, Kamis (30/7/2026).
Forum tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, asosiasi dunia usaha, kawasan industri, perbankan, akademisi, hingga berbagai pemangku kepentingan guna memperkuat sinergi dalam mendorong investasi berkelanjutan.
Bupati Yani menegaskan, investasi di Gresik harus mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat UMKM lokal, meningkatkan kompetensi tenaga kerja, serta menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Investasi mungkin dimulai dengan angka, tetapi kemitraan dibangun melalui kepercayaan. Investasi menghadirkan proyek, tetapi kemitraan menciptakan masa depan,” ujar Yani.
Hingga semester pertama 2026, realisasi investasi di Kabupaten Gresik telah mencapai sekitar Rp11,4 triliun, atau hampir 40 persen dari target investasi tahun ini sebesar Rp30 triliun.
Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi seluruh pihak di tengah tantangan ekonomi global yang masih berlangsung.
Bupati menilai Gresik memiliki berbagai keunggulan sebagai daerah tujuan investasi, mulai dari letak geografis yang strategis, kawasan industri, pelabuhan, ketersediaan energi, air dan gas, hingga infrastruktur yang terus berkembang.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya kepastian tata ruang dan birokrasi yang responsif agar investor memperoleh kepastian hukum dalam menjalankan usaha.
“Kita berangkat dari tata ruang karena dari tata ruang itu ada kepastian hukum dalam berinvestasi. Jelas, tidak tumpang tindih, tidak abu-abu,” tegasnya.
Selain itu, Yani meminta seluruh perangkat daerah memberikan pelayanan perizinan yang cepat, transparan, dan solutif.
“Tidak ada lagi bahasa sulit mengurus perizinan di Kabupaten Gresik. Kalau ada yang kurang, dilengkapi, cepat selesai, keluar. Kalau ada yang lama, silakan ngomong ke saya,” katanya.
Pemkab Gresik juga mendorong kemitraan antara industri dengan UMKM lokal melalui pengembangan marketplace UMKM yang mampu menghubungkan produk-produk desa dengan kebutuhan perusahaan dan tenant kawasan industri.
Selain itu, pemerintah daerah membuka peluang kerja yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas melalui Unit Layanan Disabilitas (ULD), sekaligus mengajak dunia usaha berkolaborasi dalam pengelolaan lingkungan dan sampah.
Salah satu program yang didorong adalah kontribusi Gresik dalam proyek waste to energy kawasan aglomerasi Surabaya Raya dengan target sekitar 250 ton sampah per hari.
“Keberhasilan bukan hanya diukur dari besarnya investasi yang datang, tetapi dari besarnya manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat,” ujar Yani.
Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif menambahkan, peningkatan daya saing investasi juga dilakukan melalui pembangunan infrastruktur yang menghubungkan kawasan industri dengan jalan nasional maupun jalan tol.
Namun, menurutnya pembangunan fisik harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan kerja, pendidikan vokasi, serta program magang yang sesuai kebutuhan industri.
“Investasi yang ada di Kabupaten Gresik harus bisa menurunkan angka kemiskinan dan angka pengangguran,” ujar Alif.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan agar investasi dapat berkembang dalam jangka panjang.
Dalam forum tersebut, Pemkab Gresik menawarkan lima peluang investasi strategis kepada calon investor, yaitu: Industri pengolahan logam tembaga (copper rod, wire dan tube) senilai Rp17,19 triliun, Industri alat dan mesin pertanian senilai Rp784,83 miliar, Industri hilirisasi timah senilai Rp1,17 triliun, Industri farmasi berbasis garam farmasi senilai Rp707,95 miliar, dan Unit pengolahan hasil perikanan bernilai tambah senilai Rp514,75 miliar.
Tiga proyek pertama akan dikembangkan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik yang didukung pelabuhan laut dalam dan ekosistem industri terintegrasi.
Kepala DPMPTSP Kabupaten Gresik Reza Pahlevi mengatakan The 1st Gresik Business Forum menjadi wadah strategis mempertemukan pemerintah dengan dunia usaha untuk memperkuat kolaborasi sekaligus membahas berbagai isu investasi, mulai dari tata ruang hingga ketenagakerjaan.
“Kami ingin forum ini menjadi wadah strategis untuk menarik investasi sekaligus memperkuat brand image bahwa Gresik adalah salah satu daerah tujuan investasi yang menarik,” ujar Reza.
Forum yang diikuti sekitar 100 peserta tersebut juga menjadi ajang pemberian penghargaan kepada perusahaan dan mitra usaha yang dinilai berkontribusi terhadap investasi, penyerapan tenaga kerja lokal, kemitraan UMKM, hingga pembangunan daerah.
Melalui The 1st Gresik Business Forum, Pemkab Gresik berharap investasi tidak hanya berhenti pada pembangunan proyek, tetapi berkembang menjadi kemitraan yang mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat UMKM, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, menjaga lingkungan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.


