SURABAYAONLINE.CO, Surabaya – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melantik 65 kepala sekolah (kasek) jenjang SMA, SMK, dan SLB di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Rabu (3/6). Para tenaga pendidik tersebut resmi diambil sumpahnya untuk mengemban amanah sebagai pimpinan satuan pendidikan di Jawa Timur.
Dalam arahannya, Khofifah menegaskan bahwa tugas kepala sekolah ke depan tidaklah ringan. Selain menjaga capaian prestasi yang telah diraih, mereka juga dituntut untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan di Jawa Timur.
“Prestasi kita sudah luar biasa. Ini hasil kerja keras kepala sekolah, guru, siswa, dan wali murid. Maka ke depan harus dijaga sekaligus ditingkatkan,” ujar Khofifah.
Ia mengungkapkan, Jawa Timur kembali mencatatkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Pada Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), Jatim menjadi provinsi dengan jumlah peserta lolos terbanyak selama tujuh kali berturut-turut. Sebelumnya, pada jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), capaian serupa juga berhasil diraih.
Menurut Khofifah, capaian tersebut menjadi indikator penting keberhasilan kinerja pendidikan di Jawa Timur. Namun demikian, ia menekankan pentingnya pemerataan kualitas pendidikan di seluruh wilayah, termasuk daerah kepulauan.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui program Mama Mau Naik Kelas (Madura Maju, Madura Unggul, dan Madura Naik Kelas). Program ini dinilai efektif meningkatkan akses dan capaian pendidikan di empat kabupaten di Madura.
“Program ini terbukti meningkatkan keterimaan siswa di perguruan tinggi melalui SNBP maupun SNBT. Ini menunjukkan bahwa pemerataan kualitas pendidikan mulai dirasakan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai menyampaikan bahwa dari total 88 nama yang diusulkan, hanya 65 orang yang memenuhi syarat untuk dilantik setelah melalui proses evaluasi pemerintah pusat dan Badan Kepegawaian Negara (BKN). “Sebanyak 23 orang belum bisa dilantik karena terbentur aturan. Salah satunya terkait masa jabatan yang sudah dua periode,” terang Aries.
Dari 65 kepala sekolah yang dilantik, sebanyak 30 orang merupakan promosi dari guru menjadi kepala sekolah. Sisanya merupakan hasil rotasi dan mutasi jabatan berdasarkan evaluasi kinerja serta sistem penghargaan dan pembinaan.
Aries menegaskan, para kepala sekolah yang baru dilantik harus langsung bekerja tanpa masa penyesuaian. Hal ini mengingat tahapan SPMB tengah berlangsung. “Tidak ada waktu adaptasi. Mereka harus langsung bertugas agar proses SPMB berjalan transparan dan lancar,” tegasnya.
Di sisi lain, Dinas Pendidikan Jawa Timur masih menghadapi kekurangan kepala sekolah definitif. Saat ini, sekitar 30 sekolah masih dipimpin oleh pelaksana tugas (Plt). “Pensiun kepala sekolah terjadi hampir setiap bulan. Karena itu, pengusulan terus dilakukan agar kekosongan jabatan segera terisi,” pungkasnya.(*)


