SURABAYAONLINE.CO, Sidoarjo – Mahasiswa S2 dan S3 dari Universiti Utara Malaysia (UUT) melakukan kunjungan ke Desa Wage, Kecamatan Taman, Sidoarjo, Sabtu (7/11). Kunjungan ini untuk melihat perkembangan dan proses pembuatan Batik Wage.
Mereka terdiri dari mahasiswa S3 sebanyak sembilan orang, S2 satu orang, serta didampingi seorang dosen. Para mahasiswa ini juga didampingi dosen Program S3 Doktor Manajemen & Entrepreneurship dari Universitas Ciputra (UC) Surabaya. Hadir pula beberapa pengurus Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA Unair) Sidoarjo yang turut mendukung kegiatan ini. Juga beberapa mahasiswa dari Universitas Surabaya (Ubaya).
Kunjungan dilakukan ke kawasan Kampung Among Budoyo yang berada di kawasan Punden, Desa Wage. Mereka disambut langsung oleh Kepala Desa Wage Mashudan. “Harapan saya ada program edukasi yang dapat meningkatkan wisata di Desa Wage dan Sidoarjo pada umumnya. Program ini semoga bisa menyejahterakan masyarakat,” kata Mashudan.
Adanya program edukasi budaya ini, lanjut Mashudan, bisa meningkatkan produk-produk wisata di Desa Wage. Di antaranya adalah Batik Wage, musik patrol, budi daya lele, serta produksi telur asin.
Para mahasiswa juga disambut dengan makan tumpeng bersama. Setelah itu, mereka mencoba membatik bersama pembatik asal Desa Wage, Gikwatun. Mereka diajari bagaimana membatik dengan canting ke atas kain putih. Proses ini tidak mudah karena membutuhkan kehati-hatian dan ketekunan.
Gikwatun adalah satu-satunya pengusaha UMKM produsen batik tulis yang berasal dari Desa Wage. Nama Gikwatun merupakan gabungan dari nama Gik atau Sugianto (sang pembatik), Wa dari nama Desa Wage, dan Tun dari nama ibunya. Ciri khas batik tulis Wage menampilkan guratan motif yang sederhana dengan paduan warna yang khas dan eksotik, seperti motif Sekar Gunung lung ukel.
Sementara itu, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Among Budoyo Desa Wage, Windayati, berharap agar kegiatan ini bisa mengenalkan Kampung Among Budaya kepada masyarakat luas. “Kunjungan para mahasiswa dari Malaysia ini bisa mengenalkan Batik Wage yang punya ciri khas khusus dan bisa melestarikan budaya Indonesia,” katanya.(*)


