SURABAYAONLINE.CO, Mojokerto-Sekretariat Bersama Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jawa Timur menyelenggarakan Training of Facilitators Pesantren Tangguh Bencana (ToF Pestana) Batch 1. Kegiatan ini diselenggarakan di Vertical Rescue Accessina, Kemasan, Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Sabtu dan Minggu, 16–18 Oktober 2026.

Sebanyak 30 relawan dari berbagai organisasi di Jawa Timur tercatat mendaftar dalam program tersebut. Kegiatan ini mempersiapkan relawan untuk memfasilitasi pembelajaran dan pendampingan pengurangan risiko bencana di lingkungan pesantren. Pembelajaran disusun melalui kegiatan daring pada hari pertama, dilanjutkan pembelajaran dan praktik pada Sabtu–Minggu.

“ToF Pestana Batch 1 dikembangkan dengan pendekatan partisipatif. Peserta mengambil peran dalam pembelajaran, sekaligus membantu penyelenggaraan kegiatan melalui kontribusi tenaga, pengetahuan, fasilitas, dan sumber daya yang tersedia,” ungkap Koordinator SRPB Jawa Timur Muhammad Asruri Syam, Senin (19/10).

ToF Pestana menempatkan kekhasan pesantren sebagai bagian penting dalam pembelajaran. Kehidupan berasrama, kegiatan sepanjang hari, peran pengasuh dan pengurus, serta kebutuhan santri perlu dipahami ketika menyusun kesiapsiagaan.

Cakupan pembelajaran meliputi dasar pengurangan risiko bencana, konsep Pestana, tahapan pembentukan dan pendampingan, fasilitasi partisipatif, microteaching, serta pengembangan simulasi aman. Materi pendukung mencakup kajian risiko dan pemetaan, pertolongan pertama, serta psychological first aid atau dukungan psikologis awal.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari unsur relawan, pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga kemanusiaan. Mereka adalah Koordinator SRPB Jawa Timur Muhammad Asruri Syam, Dadang Iqwandy dari BPBD Jawa Timur, Dini Prastyo Wijayanti dari Poltekkes Kerta Cendekia Sidoarjo, dan Mohammad Mahfud dari Rumah Zakat Kediri.

“Keterlibatan para narasumber mempertemukan perspektif pengurangan risiko bencana, kesehatan, kemanusiaan, dan fasilitasi masyarakat sebagai bekal pendampingan pesantren,” kata Asruri.

Selain pemahaman materi, program ini menekankan integritas fasilitator. Kejujuran dalam mencatat kondisi, menyampaikan keterbatasan kemampuan, dan melaporkan hasil pendampingan menjadi bagian dari tanggung jawab kepada masyarakat.

Pretest digunakan untuk memetakan pemahaman awal peserta. Evaluasi pembelajaran dan praktik menjadi bahan untuk melihat penguasaan materi serta kebutuhan penguatan lebih lanjut. Rekapitulasi hasil belajar dan penyelesaian tugas dilakukan sebelum penetapan hasil akhir program.

ToF Pestana menempatkan kekhasan pesantren sebagai bagian penting dalam pembelajaran. Kehidupan berasrama, kegiatan sepanjang hari, peran pengasuh dan pengurus, serta kebutuhan santri perlu dipahami ketika menyusun kesiapsiagaan.

Cakupan pembelajaran meliputi dasar pengurangan risiko bencana, konsep Pestana, tahapan pembentukan dan pendampingan, fasilitasi partisipatif, microteaching, serta pengembangan simulasi aman. Materi pendukung mencakup kajian risiko dan pemetaan, pertolongan pertama, serta psychological first aid atau dukungan psikologis awal.

Melalui latihan kasus dan penyusunan rencana kelompok, peserta diarahkan menghubungkan konsep kebencanaan dengan kebutuhan sehari-hari pesantren. Pembahasan mencakup akses keluar asrama, pendataan penghuni, pembagian tugas kedaruratan, dan dukungan bagi santri yang memerlukan bantuan.

Sebagai tindak lanjut, peserta diarahkan menyusun Rencana Pendampingan Pestana selama tiga hingga enam bulan. Rencana tersebut memuat sasaran pesantren, kebutuhan awal, kegiatan, pembagian peran, sumber daya, indikator keberhasilan, dan jejaring pendukung.

Fasilitator diharapkan mampu mendengarkan pengalaman warga pesantren, mengenali praktik baik yang sudah berjalan, serta menyepakati langkah perbaikan bersama pengasuh, pengurus, dan santri.(*)

 

 

 

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version