Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)
SURABAYAONLINE.CO – DI sebuah stasiun kereta yang mulai sepi, seorang lelaki duduk sendiri di bangku panjang. Kereta terakhir telah berlalu. Ia baru saja gagal dalam wawancara kerja yang telah ia persiapkan selama berbulan-bulan. Segala rencana telah ia susun dengan rapi. Ia telah mempelajari profil perusahaan, melatih jawaban, bahkan memilih kemeja yang ia yakini memberi kesan profesional. Tetapi hasilnya nol. Ia pulang dengan tangan kosong dan hati yang hancur. Malam itu, di bawah lampu stasiun yang berkedip-kedip, ia bertanya kepada langit: ”Mengapa semua rencanaku gagal? Apakah aku tidak berusaha cukup keras?”
Pertanyaan itu bukan pertanyaan baru. Setiap manusia, pada suatu titik dalam hidupnya, pernah mengalaminya. Ketika keinginan tidak tercapai, ketika rencana berantakan, ketika kekuatan terasa habis, ketika pilihan tampak salah. Di saat-saat seperti itu, kita dihadapkan pada pertanyaan paling mendasar: siapakah yang sesungguhnya berkuasa atas hidup ini?
Setiap pagi, jutaan orang di Surabaya, Malang, hingga Madiun memulai hari dengan daftar niat. Ada target penjualan, rencana pindah kerja, cicilan rumah, dan impian menyekolahkan anak ke luar negeri. Semuanya disusun dengan rapi, seolah masa depan adalah halaman kosong yang tinggal kita tulis. Namun hidup sering membalas dengan caranya sendiri. Proyek tersendat, pintu yang kita ketuk tak kunjung terbuka, dan rencana yang sudah matang berbelok ke arah yang tak pernah kita bayangkan.
Seorang arif pernah melantunkan teks yang menghujam kesadaran:
”Orang-orang yang tidak mengerti bahwa keinginan Allah ada di antara keinginan-keinginan mereka. Orang-orang yang tidak mengerti bahwa rencana Allah ada di balik rencana mereka. Orang-orang yang tidak mengerti bahwa kekuatan Allah ada di antara keberdayaan mereka. Orang-orang yang tidak mengerti bahwa ketentuan Allah ada di antara ikhtiyar mereka. Orang-orang yang tidak mengerti bahwa kehendak Allah ada di antara pilihan hidup mereka. Orang-orang yang tidak mengerti seperti itulah, yang tidak mensyukuri nikmat-nikmat-Nya, sungguh mereka adalah orang-orang tidak bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya. Sungguh Allah Dzat Yang Maha Mengatur, dan telah mengatur semua kehidupan yang ada di alam semesta dengan sebaik-baiknya.”
Teks ini bukan sekadar nasihat tentang kepasrahan. Ia adalah isyarah, petunjuk halus dari alam malakut, yang membedah ilusi kemandirian manusia. Ia menegaskan bahwa di balik setiap keinginan, rencana, kekuatan, ikhtiyar, dan pilihan manusia, ada Kehendak Allah yang meliputi dan mengaturnya.
Ruang “Di Antara”: Hati sebagai Medan Pertemuan
Hal pertama yang menarik perhatian adalah kata sambung yang berulang. Allah “ada di antara” keinginan manusia, “ada di balik” rencananya, dan “ada di antara” pilihan hidupnya. Pola bayna, yakni “di antara”, tidak menggambarkan Tuhan yang berada jauh di atas sana lalu sesekali turun tangan. Pola ini menempatkan kehendak Ilahi di tengah pergulatan batin, di ruang paling intim tempat keinginan lahir sebelum sempat diberi nama.
Dalam kosakata sufi, ruang itu disebut wilayah qalb, yakni hati. Para sufi sejak lama menggambarkan hati sebagai cermin yang bisa tertutup debu. Debu itu bernama ambisi, rasa takut, dan klaim kepemilikan. Ketika seseorang terlalu sibuk membaca dirinya sendiri, ia tidak sempat membaca tanda-tanda kehadiran yang bekerja di dalam dirinya. Maka teks ini sejatinya tidak meminta kita memadamkan keinginan. Yang diminta adalah membersihkan cermin.
Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’ menulis bahwa kehendak Allah adalah al-masyi’ah al-muthlaqah, kehendak mutlak yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Kehendak manusia hanyalah al-masyi’ah al-muqayyadah, kehendak terbatas yang bergantung sepenuhnya kepada Kehendak Mutlak.
Urutan lima pintu dalam teks juga tidak acak. Ia dimulai dari keinginan, yang paling batin dan paling dekat dengan diri. Lalu bergerak ke rencana yang sudah berbentuk strategi, kekuatan yang menjadi kapasitas, ikhtiyar yang menjelma tindakan, dan akhirnya pilihan hidup yang menjadi keputusan besar. Dengan demikian, seluruh perjalanan manusia, dari bisikan hati hingga keputusan yang mengubah nasib, berada dalam satu lingkaran yang tidak pernah putus dari Sumbernya.
Tauhid Af’al: Ketika Pelaku Berpindah
Tasawuf memahami tauhid secara bertingkat. Tingkat paling awal adalah tauhid af’al, yakni keyakinan bahwa hanya Allah yang menciptakan dan menggerakkan segala perbuatan. Pada tingkat ini, seseorang bisa saja sudah mengetahui secara teologis bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan. Para sufi menegaskan bahwa pengetahuan semacam itu belum cukup. Ia harus menjelma menjadi musyahadah, yaitu penyaksian langsung di dalam batin.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Sirr al-Asrar menulis bahwa la hawla wa la quwwata illa billah bukanlah sekadar kalimat yang diucapkan di lisan. Ia adalah realitas ontologis: tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah. Ketika penyaksian itu hadir, pusat pelaku bergeser. Dari “aku yang berbuat” menjadi “Allah yang menggerakkan melalui aku”. Perubahan kalimat yang tampak kecil ini membawa guncangan besar dalam jiwa. Orang tidak lagi menjadikan dirinya satu-satunya penentu hasil, tetapi juga tidak jatuh menjadi pasif.
Lelaki di stasiun itu merasakan hal ini tanpa menyadarinya. Ia merasa bahwa keinginannya untuk mendapatkan pekerjaan itu adalah miliknya sendiri. Ia merasa berhak untuk mewujudkannya. Tetapi ia lupa bahwa kemampuan untuk menginginkan pun adalah karunia dari Allah. Ia tidak menciptakan keinginannya sendiri. Ia tidak bisa menginginkan sesuatu jika Allah tidak mengizinkannya untuk menginginkan.
Di sinilah teks tersebut bekerja sebagai latihan. Ketika seseorang merenungkan bahwa keinginannya tidak pernah lepas dari ketentuan-Nya, ia diajak melepaskan keterikatan pada hasil, bukan melepaskan usaha. Ada perbedaan halus antara berusaha dengan rasa memiliki dan berusaha dengan rasa dititipi. Yang pertama melahirkan kecemasan ketika gagal dan kesombongan ketika berhasil. Yang kedua melahirkan tawakal, yaitu menanam dengan sungguh-sungguh sambil bersandar kepada Sang Pemberi tumbuh.
Ego yang Merasa Merdeka
Teks ini juga dapat dibaca sebagai cermin bagi nafs, yakni diri yang cenderung merasa berdaya, merasa menentukan, dan merasa merdeka. Nafs jarang berbicara lantang. Ia berbisik lewat kalimat seperti “ini hasil kerjaku”, “aku yang membuatnya terjadi”, atau “aku bebas menentukan jalanku sendiri”. Setiap bait yang meniadakan kemandirian semu itu bekerja seperti pengikis. Ia mengelupas lapisan demi lapisan rasa “aku” sampai yang tersisa tampak jelas.
Ibn ‘Arabi dalam Fushush al-Hikam menulis bahwa rencana manusia hanyalah bayangan dari Rencana Ilahi. Sebagaimana bayangan tidak bisa lepas dari pemiliknya, demikian pula rencana manusia tidak bisa lepas dari Rencana Allah. Lelaki di stasiun itu telah merencanakan hidupnya dengan detail: lulus kuliah, mendapat pekerjaan impian, menikah, membeli rumah, membesarkan anak-anak. Tetapi satu per satu rencananya berantakan. Ia merasa gagal. Ia merasa bahwa hidupnya tidak berjalan sesuai keinginannya. Tetapi ia lupa bahwa Rencana Allah lebih baik daripada rencananya. Mungkin pekerjaan yang tidak ia dapatkan itu akan membawanya kepada kesibukan yang melalaikan. Mungkin kegagalan itu adalah cara Allah menyiapkan sesuatu yang lebih besar.
Kalimat penutup teks, bahwa sebebas apa pun pilihan seseorang, ia tidak akan pernah lepas dari batasnya, sering disalahpahami sebagai ancaman. Padahal dalam pembacaan sufistik, batas atau hadd adalah tanda, bukan penjara. Batas menunjukkan bahwa kebebasan manusia adalah kebebasan yang dianugerahkan. Kebebasan yang lupa akan asalnya cenderung membusuk menjadi keangkuhan. Sebaliknya, kebebasan yang sadar akan batasnya melahirkan adab.
Dalam bahasa klasik, perjalanan melepaskan ego ini disebut fana’ an-nafs, yakni lenyapnya perasaan diri dari pusat perbuatan. Fana’ bukanlah kehancuran manusia. Ia adalah penghentian klaim, bukan penghapusan makhluk. Orang yang telah mengalaminya tetap makan, bekerja, dan berbicara. Bedanya, lidahnya tidak lagi berkata “aku” dengan percaya diri, melainkan merasa sedang dipinjami kata-kata.
Fana’ ul-Fana’: Ketika Lenyap pun Bukan Milik Kita
Di sinilah pembahasan menjadi lebih halus dan jarang disentuh dalam diskusi spiritualitas populer. Fana’ ul-fana’ adalah tahap yang sering luput dari perhatian. Jika fana’ berarti lenyapnya diri di hadapan kehadiran Allah, maka fana’ ul-fana’ berarti kesadaran bahwa keadaan lenyap itu pun bukan milik hamba. Ia adalah anugerah, bukan prestasi.
Bayangkan seorang salik yang berhasil melewati tahap-tahap pembersihan jiwa. Ia mulai tenang, tidak lagi gelisah oleh pujian atau celaan, dan hatinya terasa lapang. Pada saat itulah bahaya paling halus muncul, yaitu kebanggaan spiritual. Ia mulai merasa dirinya sudah fana’, sudah lebih dekat, sudah lebih suci dibanding orang lain. Kesombongan lahir dari dalam pengalaman mistik itu sendiri. Fana’ ul-fana’ datang untuk menghapus kebanggaan tersebut. Ia membuat hamba menyadari bahwa tangga yang ia daki pun bukan hasil kakinya sendiri.
Teks yang dikaji dapat dibaca sebagai anak tangga menuju fana’ ul-fana’. Tahap pertama mengajak manusia menyadari bahwa keinginan, rencana, dan pilihannya berada dalam ketentuan Allah. Tahap kedua membuat hamba melepaskan klaim atas kekuatannya. Tahap ketiga mengungkap bahwa rasa “sudah melepaskan” pun bisa menjadi kebanggaan baru. Pada titik ini, hamba tidak lagi membanggakan kelemahannya, dan tidak pula membanggakan kepasrahannya. Ia kembali ke tempat yang paling sederhana, yaitu kehambaan.
Ibn ‘Arabi, dalam pembahasannya tentang fana’ dan baqa’, menekankan kehati-hatian. Menurutnya, fana’ tidak berarti hilangnya keberadaan makhluk seakan ia menjadi tiada. Yang hilang adalah pengakuan atas wujud diri di hadapan Wujud Allah. Dengan demikian, fana’ ul-fana’ adalah kembalinya hamba kepada kesadaran yang jernih tentang posisinya: ada, tetapi tidak berdiri sendiri.
Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ merekam perkataan seorang wali: “Aku telah berkehendak selama lima puluh tahun. Tetapi baru kemarin aku benar-benar berkehendak. Saat itu, aku tidak lagi tahu siapa yang berkehendak, apakah aku atau Dia. Yang aku tahu, aku telah lenyap, dan yang ada hanyalah Dia.”
Antara Akal dan Hati: Sintesis Spiritual
Secara filosofis, teks ini menyentuh perdebatan klasik antara kehendak bebas (ikhtiyar) dan ketentuan (qadar). Sepanjang sejarah pemikiran Islam, para teolog dan filosof membahas hubungan keduanya dengan argumen yang tajam. Sebagian menekankan kebebasan manusia sebagai dasar tanggung jawab. Sebagian lain menekankan kedaulatan mutlak Tuhan sebagai dasar tauhid.
Tasawuf tidak memasuki perdebatan teknis itu dengan cara yang sama. Ia menawarkan jalan sintesis spiritual. Manusia tetap memiliki pilihan dan tanggung jawab, sementara pilihan itu sendiri berada dalam lingkup kehendak Allah. Keduanya tidak saling meniadakan karena berada pada level yang berbeda: yang satu pada level tindakan, yang lain pada level sumber tindakan.
Pemikiran sufistik sering meringkas hubungan ini dengan gambaran bahwa manusia adalah pelaku sekaligus alat. Ia benar-benar bertindak, tetapi daya untuk bertindak bersumber dari Yang Mahakuasa. Pengakuan ini melahirkan kerendahan hati dan ketenangan, bukan kepasifan. Seorang petani di sawah Jombang tetap membajak tanahnya dengan tekun, tetapi ia tahu hujan tidak turun atas perintahnya.
Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa kehendak manusia tunduk pada kehendak Allah. Surah Al-Insan ayat 30 menyebut bahwa kehendak manusia tidak terjadi tanpa kehendak-Nya. Surah Al-Qashash ayat 68 menegaskan bahwa Tuhan menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki, sementara manusia tidak memiliki hak memilih yang mutlak.
Dalam hal rencana, Surah Al-Anfal ayat 30 menggambarkan orang-orang kafir yang membuat tipu daya, lalu Allah membalas tipu daya itu, dan Dia adalah sebaik-baik pembuat tipu daya. Kata makr di sini tidak bermakna kelicikan yang dipuji, melainkan perencanaan yang sempurna dan tak tertandingi. Maka rencana manusia, sebaik apa pun, hanyalah lingkaran kecil di dalam lingkaran yang lebih luas.
Tentang kekuatan, Surah Al-Anfal ayat 17 menyatakan bahwa ketika Nabi melempar, sejatinya Allah yang melempar. Ayat ini membuka pemahaman bahwa daya manusia adalah pinjaman yang bekerja hanya dengan izin-Nya. Namun Al-Qur’an juga memerintahkan manusia untuk berusaha dan bertawakal. Ketentuan, dengan demikian, tidak boleh dijadikan alasan untuk berpangku tangan.
Cermin Zaman: Kontekstualisasi
Manusia kontemporer hidup dalam budaya yang memuja kontrol diri, optimasi, dan pencapaian. Media sosial menampilkan kehidupan yang tampak sepenuhnya tertata, sehingga banyak orang merasa gagal ketika kenyataannya tidak sesuai dengan etalase itu. Dalam konteks ini, teks sederhana tersebut berfungsi sebagai koreksi. Ia mengingatkan bahwa kendali manusia terbatas, dan nilai diri tidak sepenuhnya ditentukan oleh hasil yang terlihat.
Ketidakpastian ekonomi, ancaman PHK, sulitnya lapangan kerja bagi lulusan perguruan tinggi, dan fluktuasi harga kebutuhan pokok menambah beban batin masyarakat. Ketika situasi berada di luar kendali, dorongan untuk terus merencanakan bisa berubah menjadi kecemasan yang tak berkesudahan. Teks ini menawarkan landasan spiritual untuk tetap berikhtiar tanpa kehilangan ketenangan. Rencana tetap disusun, tetapi hati tidak lagi bertumpu sepenuhnya padanya.
Di sisi lain, budaya konsumtif menggerus rasa syukur. Keinginan tidak pernah selesai karena setiap pencapaian segera melahirkan target baru. Ungkapan “tidak mensyukuri nikmat-Nya” terasa sangat dekat dengan kondisi ini. Dalam pandangan sufi, syukur bukan sekadar ucapan terima kasih, melainkan keadaan hati yang mengakui nikmat sebagai pemberian, lalu menggunakannya sesuai ridha Sang Pemberi.
Dari sudut psikologi, pesan teks ini bersentuhan dengan beberapa konsep yang akrab dalam kajian modern. Konsep locus of control yang diperkenalkan Julian Rotter menjelaskan keyakinan seseorang tentang sumber kendali atas hidupnya. Teks ini tidak mendukung ekstrem mana pun. Ia mengajak pada keseimbangan: berusaha sungguh-sungguh, tetapi tidak menggantungkan rasa aman sepenuhnya pada hasil. Konsep illusion of control yang dipopulerkan Ellen Langer menunjukkan kecenderungan manusia melebih-lebihkan kendali atas peristiwa yang sebenarnya dipengaruhi banyak faktor. Kesadaran bahwa sebagian besar hal berada di luar kendali justru dapat mengurangi kecemasan.
Kembali ke Stasiun
Lelaki di stasiun itu akhirnya bangkit. Kereta terakhir telah lama berlalu, dan ia harus mencari cara untuk pulang. Ia berjalan pelan meninggalkan stasiun, menembus malam yang dingin. Di sepanjang jalan, ia memikirkan kembali hidupnya.
Ia teringat sebuah kalimat yang pernah didengarnya dari seorang guru: “Jangan tanyakan mengapa rencanamu gagal. Tanyakan apa yang Allah ingin kau pelajari dari kegagalan itu.” Kalimat itu kini terasa berbeda. Ia tidak lagi merasa bahwa kegagalannya adalah hukuman. Ia mulai melihatnya sebagai pelajaran.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Ia tidak tahu apakah ia akan mendapatkan pekerjaan lain, atau apakah ia harus memulai dari nol. Tetapi ia tahu satu hal: ia tidak sendirian. Ada Kehendak Allah yang menemaninya, yang mengaturnya, yang mencintainya.
Malam itu, ia berhenti di sebuah masjid kecil di pinggir jalan. Ia masuk, mengambil wuduk, dan shalat. Dalam sujudnya, ia berbisik: “Ya Allah, aku tidak tahu apa yang Engkau rencanakan untukku. Tetapi aku percaya bahwa Rencana-Mu lebih baik daripada rencanaku. Ajari aku untuk bersyukur, bahkan dalam kegagalan. Ajari aku untuk melihat Kehendak-Mu di antara kehendak-kehendakku.”
Air matanya membasahi sajadah. Tetapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang mulai terang. Ia tidak lagi merasa bahwa ia adalah pusat dari segalanya. Ia menyadari bahwa ia hanyalah bagian kecil dari Rencana yang lebih besar. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasakan ketenangan.
Penutup: Syukur di Tengah Ketidakpastian
Teks ini adalah peta menuju kesadaran bahwa kehendak Allah hadir di antara kehendak manusia. Ia menegaskan bahwa orang yang tidak memahami ini adalah orang yang tidak bersyukur.
Syukur bukanlah sikap pasif yang menerima segala sesuatu tanpa usaha. Syukur adalah kesadaran bahwa segala sesuatu, termasuk usaha kita, adalah karunia dari Allah. Orang yang bersyukur tetap berusaha, tetap merencanakan, tetap berikhtiyar. Tetapi ia tidak terikat pada hasilnya. Ia menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Pada akhirnya, pemahaman yang utuh menuntut keseimbangan antara ikhtiar dan penyerahan. Manusia tetap diperintahkan berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi usaha itu hendaknya disertai kesadaran bahwa daya dan hasilnya bersumber dari Allah. Di sinilah fana’ ul-fana’ menjadi puncak adab. Hamba menyadari bahwa bahkan kesadaran akan kelemahannya adalah karunia, sehingga ia tidak membanggakan kehampaan dirinya. Ia kembali kepada tempat yang paling sunyi dan paling jujur, yaitu kehambaan.
Di tengah hiruk-pikuk rencana dan target, mungkin inilah pesan paling sederhana dari teks tersebut. Kita boleh merencanakan hari esok, tetapi sebaiknya juga bertanya dengan rendah hati: siapa yang sedang menggerakkan langkah ini, dan sudahkah kita cukup bersyukur atas setiap langkah yang dipinjamkan?
Wallahu a’lam bi al-shawab.



