Oleh: Hadipras

SURABAYAONLINE.CO – Ketika kita menelisik dinamika politik kekuasaan hari ini, naluri publik sering kali menuntun pada penghakiman yang serba instan. Tokoh utama yang berdiri di panggung depan selalu menjadi sasaran tembak utama, sementara ruang belakang panggung yang redup—tempat skenario sebenarnya dirancang—hampir tak pernah tersentuh. Namun, jika kita bersedia menepi sejenak dari hiruk-pikuk emosi, ada dua sudut pandang kontemplatif yang layak diuji secara mendalam.

Di satu Sisi, terdapat pembacaan struktural yang melihat sosok muda seperti Gibran (lahir 1987) sebagai bagian dari sebuah ekosistem. Ketika ayahnya merintis karier politik dari Wali Kota Solo hingga Presiden, sebuah mesin birokrasi dan legalitas terbentuk. Logika sederhana menunjukkan bahwa dalam pusaran politik yang kompleks, seorang pemuda tanpa latar belakang birokrasi dan pengetahuan hukum mendalam sangat rentan menjadi objek dari perancang skenario atau kelompok pembisik. Di belakangnya, ada dorongan dan kepastian semu dari para pemain politik tingkat tinggi yang membisikkan keyakinan: “Jangan ragu, kami yang atur semuanya.”

Dalam narasi ini, rasa kasihan dan empati hadir bukan untuk membenarkan kesalahan, melainkan untuk memahami tragedi kemanusiaan: bagaimana ambisi lingkungan dan kasih sayang orang tua yang keliru dapat menjerumuskan seorang anak muda ke dalam jebakan politik yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.
Namun, sejarah Nusantara juga mengajarkan kita sebuah cermin pembanding yang tak boleh diabaikan. Dalam catatan sejarah Jawa, kita mengenal sosok Amangkurat I dan Amangkurat II. Meskipun tumbuh di bawah naungan kepemimpinan besar Sultan Agung yang legendaris, sejarah mencatat bagaimana watak, ambisi intrinsik, dan kompromi politik kekuasaan tetap bisa bertumbuh dari dalam diri seorang figur muda itu sendiri.

Lantas, di manakah posisi Gibran dalam dinamika pasca-putusan lembaga peradilan ini? Apakah ia murni seorang anak muda yang terperangkap dalam skenario jahat para konsultan politik di sekelilingnya, ataukah ia secara sadar mengadopsi kalkulasi politiknya sendiri? Sejarah mungkin masih membutuhkan waktu untuk menjawabnya secara telanjang.

Di titik balik ini, dinamika panggung politik memperlihatkan realitas yang tragis:

• Tim Konspirator Menghilang: Mereka yang dahulu aktif merancang skenario kini telah menikmati jatah jabatan, proyek, dan konsesi sumber daya alam, lalu berlindung di balik layar.

• Partai Pendukung Terperanjat: Elite politik yang tadinya merasa nyaman, percaya pada proses yang prosedural dan legal  kini terkejut dan merasa dibohongi habis habisan saat harus berhadapan dengan risiko hukum dan bola liar publik.

• Aktor Utama Terpojok: Sang figur muda berdiri sendirian di bawah sorotan tajam, menanggung beban reputasi yang merembet hingga ke anak dan istrinya.

Sebuah Pesan Kedewasaan untuk Publik
Dalam situasi politik yang sarat amarah, kebijaksanaan (wisdom) adalah ujian terbesar bagi kita. Amarah atas dugaan pelanggaran etika dan hukum adalah hal yang sah, tetapi tidak boleh mematikan akal sehat.

Tugas publik hari ini bukanlah menghakimi secara emosional dengan kebencian personal, melainkan mengawal proses hukum dan sejarah secara objektif. Kita harus bijak membedakan mana kesalahan individu dan mana kejahatan sistemik yang dirancang oleh para dalang di balik layar. Jangan sampai publik menghabiskan energi menghakimi figur di panggung depan, sementara para perancang skenario melenggang bebas merancang permainan baru.

“Kekuasaan adalah cermin yang jujur; ia bisa menjadi labirin tempat seorang pemuda tersesat oleh bisikan orang lain, atau panggung di mana watak aslinya teruji oleh waktu. Pada akhirnya, sejarah yang akan mencatat apakah ia seorang korban atau bagian dari pelaku utama.”

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version