SURABAYAONLINE.CO – Arena Konferensi Daerah (Konferda) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Timur yang bermaksud menjadi ajang adu gagasan, berubah menjadi panggung keji penyiksaan, premanisme dan dugaan pemaksaan kehendak. Suasana forum pecah ketika tindakan kekerasan fisik secara brutal dihantamkan kepada peserta yang menolak tunduk pada pengondisian pemenangan calon tertentu.
Ketua DPC GMNI Jember menjadi korban utama dalam insiden berdarah ini. Korban mengalami luka parah di bagian wajah, dengan bibir pecah bersimbah darah hingga robek serius akibat dihantam menggunakan batu di dalam area persidangan.
“Saat kami mempertanyakan keabsahan SK siluman dan intervensi partai ini secara teratur di persidangan, kami malah dihantam fisik. Saya dipukuli, dihantam batu di bagian wajah hingga bibir robek, dan diseret keluar arena hanya karena kami menolak membisu melihat independensi GMNI dihancurkan demi syahwat kekuasaan kelompok tertentu” ujar Aziz
Rasa sakit dan trauma fisik nampak jelas saat korban harus menyumbat pendarahan di mulutnya menggunakan tumpukan tisu tebal, di tengah kepungan intimidasi yang terus membayangi.
“Forum ini sudah bukan lagi tempat beradu gagasan, tapi sudah berubah jadi arena premanisme. Kami mempertanyakan keabsahan Surat Rekomendasi Calon Ketua dan Sekretaris DPD GMNI Jatim yang jelas-jelas cacat hukum. Ini organisasi gerakan mahasiswa, bukan underbouw apalagi alat transaksional partai politik, Bagaimana mungkin seorang pengurus aktif DPC PDIP Tulungagung seperti Danang Prawito masih memegang SK dan menandatangani rekomendasi resmi calon pimpinan DPD? Ini jelas pelecehan terhadap AD/ART dan marwah organisasi,” Lanjutnya.
Aksi penganiayaan berdarah tersebut diduga kuat dilakukan oleh Pimpinan Sidang Tetap, Virgiawan Budi kader asal Cabang Surabaya. Forum persidangan dialihkan menjadi arena eksekusi siapa pun peserta yang enggan memberikan suara kepada Kelvin calon yang dijagokan oleh oknum senior penyelenggara dan elit DPP langsung menjadi sasaran kekerasan, dipukul dengan batu, dan diusir secara paksa keluar dari ruangan.
Pengusiran dan penganiayaan ini dirancang demi memuluskan jalan Kelvin agar melenggang tanpa hambatan di arena Konferda. Kelvin juga merupakan calon yang dititipkan untuk dimenangkan Eks penguasa Jombang alias londo ireng. Tetesan darah dari bibir Ketua GMNI Jember yang terluka menjadi saksi bisu betapa nilai-nilai persaudaraan dan Marhaenisme telah dicabik-cabik oleh syahwat kekuasaan yang dipaksakan lewat aksi premanisme bertopeng forum organisasi.
Kondisi makin diperparah dengan dugaan sikap lepas tangan dari pimpinan tertinggi organisasi. Ketua DPD GMNI Jatim, Hendra, serta Ketua DPP GMNI, Risyad, yang dinilai terkesan cuci tangan atas maraknya keberadaan cabang-cabang siluman yang sengaja disusupkan demi mendulang suara.
“Kami mencoba berkoordinasi dengan para pimpinan organisasi baik DPD maupun DPP GMNI untuk langkah baik yang harus diambil, tetapi tidak ada jawaban dan keberadaan jajaran pimpinan saat peristiwa bentrok tersebut terjadi kami dari panitia juga tidak mengetahui pasti keberadaan para pengurus DPD maupun DPP GMNI di lokasi,” Tutur panitia pelaksana
Tak hanya tindak kekerasan fisik, aksi premanisme juga berlanjut pada perampasan ponsel pribadi milik Azis. Kejadian tersebut sempat memicu aksi kejar-kejaran di lokasi. Pelaku yang membawa lari ponsel korban diduga kuat merupakan orang suruhan dari pihak DPD.


