SURABAYAONLINE.CO – Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini mendorong setiap kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) di daerah melibatkan UMKM lokal dalam rantai pasok penyelenggaraan event. Menurutnya, kegiatan MICE harus mampu menciptakan pasar nyata bagi pelaku usaha sehingga dampak ekonominya dirasakan masyarakat setempat.

Hal tersebut disampaikan Novita dalam kegiatan Sosialisasi Optimalisasi Kemitraan UMKM dalam Rantai Pasok Event MICE di Desa Sumber Koso, Kabupaten Ngawi, Kamis (27/8/2026).

Novita mengatakan kebutuhan penyelenggaraan event dapat menjadi peluang bagi berbagai sektor UMKM daerah. Peluang tersebut mencakup penyediaan katering, makanan ringan, suvenir, dekorasi, dokumentasi, transportasi hingga jasa kreatif.

“Event yang bagus bukan cuma event yang ramai. Event yang bagus adalah ketika setelah acara selesai, ada UMKM yang pulang membawa pesanan, ada keluarga yang mendapat tambahan penghasilan, dan ada usaha kecil yang punya pelanggan baru,” ujar Novita dalam keterangannya, Sabtu (29/8/2026).

Novita menilai peluang UMKM Ngawi masuk dalam rantai pasok MICE semakin terbuka seiring meningkatnya aktivitas pariwisata dan perekonomian daerah.

Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, jumlah kunjungan wisatawan di Ngawi meningkat dari sekitar 552 ribu orang pada 2022 menjadi 600 ribu orang pada 2023.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Ngawi tercatat 4,64 persen pada 2024 dan meningkat menjadi 5,31 persen pada 2025.

Menurut Novita, pertumbuhan tersebut harus dikonversi menjadi peluang pasar bagi pelaku UMKM lokal. Satu kegiatan MICE dinilai dapat menggerakkan berbagai sektor ekonomi apabila kebutuhan penyelenggara dipenuhi melalui rantai pasok UMKM daerah.

“Jangan sampai event digelar di daerah, tetapi UMKM lokal hanya menjadi penonton. Hotel mendapatkan manfaat, penyelenggara mendapatkan manfaat, tetapi produk dan jasa yang digunakan justru berasal dari luar daerah,” tegasnya.

Untuk memperluas keterlibatan UMKM, Novita mendorong pemerintah daerah membangun database pelaku usaha yang siap menjadi pemasok kebutuhan event.

Database tersebut, kata dia, idealnya memuat jenis produk dan jasa, kapasitas produksi, hingga standar pelayanan masing-masing pelaku usaha.

Langkah itu dinilai dapat memudahkan penyelenggara event menemukan mitra lokal sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi UMKM.

Namun, Novita mengingatkan peluang pasar dari kegiatan MICE harus diimbangi dengan kesiapan pelaku usaha. UMKM tidak cukup hanya memiliki produk, tetapi juga harus mampu memenuhi standar kebutuhan event dengan jumlah dan waktu yang telah ditentukan.

Ia meminta pelaku UMKM meningkatkan kualitas produk, kemasan, kapasitas produksi, ketepatan waktu, legalitas, serta pelayanan.

“UMKM harus berani naik kelas. Ketika hari ini mampu memenuhi pesanan 20 orang, kita harus mulai mempersiapkan diri untuk menerima pesanan 200 bahkan 1.000 orang. Di situlah event MICE bisa menjadi pintu bagi UMKM untuk berkembang,” katanya.

Novita juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, penyelenggara event, pelaku pariwisata, komunitas, dan UMKM untuk membangun ekosistem MICE yang kuat.

Menurutnya, keberhasilan kegiatan MICE tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari seberapa besar perputaran ekonomi yang dapat tinggal dan dirasakan masyarakat daerah.

Ia mengajak masyarakat Ngawi ikut memperkuat keberpihakan terhadap produk lokal dengan menjadi konsumen produk UMKM daerah.

“Kalau bukan kita yang bangga memakai produk Ngawi, siapa lagi?” pungkas Novita.

Novita berharap penguatan kemitraan UMKM dalam rantai pasok MICE dapat membuat penyelenggaraan event di Ngawi tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Kegiatan MICE diharapkan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus membuka jalan bagi UMKM Ngawi untuk naik kelas dan memperluas pasar.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version