SURABAYAONLINE.CO, Surabaya – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi kembali mengecek pelayanan di RSUD Dr. Mohamad Soewandhie setelah sebelumnya melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan menerima keluhan warga melalui kanal pengaduan. Hasilnya, sejumlah evaluasi yang disampaikan kepada manajemen mulai menunjukkan perubahan. Terutama pada layanan farmasi, antrean pasien, dan pengelolaan Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Dalam pengecekan terbaru tersebut, Eri meninjau langsung sejumlah titik pelayanan, mulai dari IGD, ruang tunggu hingga farmasi. Ia menyebut beberapa catatan yang ditemukan saat sidak sebelumnya kini telah ditindaklanjuti oleh manajemen rumah sakit. “Saya sudah mengecek lagi pelayanan di RS Soewandhie. Alhamdulillah, beberapa evaluasi yang dulu saya temukan saat sidak, sekarang sudah dijalankan manajemen,” ujarnya, Sabtu (8/8).
Salah satu perubahan yang mendapat perhatian Eri adalah layanan farmasi. Ia melihat antrean pengambilan obat sudah jauh lebih terkendali setelah jumlah petugas ditambah. Dari sebelumnya sembilan petugas, kini jumlahnya menjadi 18 orang.
Menurut wali kota, penambahan tenaga tersebut merupakan bentuk kehadiran pemerintah dalam memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang cepat. Ia menegaskan, pelayanan publik tidak boleh semata-mata dihitung berdasarkan untung dan rugi.
“Untuk pelayanan publik, pemerintah harus hadir. Tidak bisa di hitung untung-rugi. Farmasi yang dulu petugasnya sembilan, sekarang menjadi 18 petugas. Sehingga sekarang tidak ada pasien yang mengantre,” tegasnya.
Sementara itu, pada bagian IGD, ia meminta manajemen memastikan ketersediaan tempat tidur dapat dipantau dengan jelas. Ruang yang masih tersedia maupun yang sudah penuh harus diketahui secara cepat sehingga pasien dapat segera diarahkan ke fasilitas kesehatan lain apabila kapasitas IGD telah terpenuhi.
Selain IGD dan farmasi, wali kota mengevaluasi pengaturan ruang tunggu. Pasien yang telah mendaftar melalui layanan e-health diminta mengikuti jadwal yang telah ditentukan agar tidak terjadi penumpukan. Sementara pasien yang datang langsung tanpa mendaftar melalui e-health akan diarahkan ke mekanisme pelayanan tersendiri dan dilayani setelah antrean pasien terjadwal selesai.
Pengaturan tersebut, katanya, bukan untuk membatasi akses masyarakat, melainkan memastikan antrean berjalan tertib dan pasien yang telah memiliki jadwal tidak terserobot oleh pasien yang datang tanpa pendaftaran sebelumnya. Sebelumnya, Pemkot Surabaya memang telah melakukan penataan sistem antrean di RSUD Soewandhie untuk mengurangi kepadatan ruang tunggu.
Ia pun mengapresiasi manajemen RSUD Soewandhie dan seluruh tenaga kesehatan yang telah menindaklanjuti evaluasi tersebut. Menurutnya, kritik yang disampaikan saat sidak merupakan bagian dari upaya bersama untuk memperbaiki pelayanan.
Wali kota juga menekankan bahwa pelayanan kesehatan bagi masyarakat harus mengutamakan kecepatan sekaligus ketertiban. Ia bahkan menyebut pelayanan tersebut harus tetap maksimal meski masyarakat mendapatkan layanan melalui BPJS.(*)


