Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)
SURABAYAONLINE.CO – DI sebuah sudut kota yang riuh, seorang lelaki mengulang-ulang ayat seribu kali. Setiap hitungan ia tandai dengan biji tasbih yang bergeser di antara jemarinya. Matanya terpejam, bibirnya komat-kamit, tetapi hatinya entah ke mana—mungkin melayang ke sebuah kontrak bisnis yang belum tanda tangan, atau ke sebuah nama perempuan yang telah lama ia incar. Ia telah menghafal ayat itu di luar kepala, tetapi ia tidak pernah benar-benar mendengarnya. Ia membaca Al-Qur’an bukan untuk dibimbing, melainkan untuk “menarik” sesuatu: rezeki, kekuasaan, atau cinta. Ia bukan sedang membaca firman Tuhan; ia sedang melafalkan mantra.
Pemandangan seperti ini bukanlah hal yang langka. Di banyak tempat, agama sering kali diperlakukan sebagai instrumen. Kitab suci yang seharusnya menjadi petunjuk hidup berubah menjadi jimat penolak bala. Shalawat yang seharusnya menjadi pernyataan cinta kepada Nabi berubah menjadi wirid pemanggil rezeki. Doa yang seharusnya menjadi bisikan mesra seorang hamba kepada Tuhannya berubah menjadi daftar permintaan yang disodorkan dengan paksa, seakan-akan Allah hanyalah mesin penjual otomatis: masukkan koin ibadah, keluarlah keinginan.
Seorang arif, yang telah menempuh perjalanan ruhani hingga ke puncaknya, melantunkan syair yang menampar keras kecenderungan ini. Syair itu bukan sekadar kritik; ia adalah isyarah—petunjuk halus dari alam malakut—yang mengajak kita untuk membersihkan hati dari segala bentuk instrumentalisme dalam beragama:
”Bersungguh-sungguhlah dirimu jika mengucapkan kalam Allah, jangan engkau mempermainkannya, sementara dirimu enggan melaksanakannya. Jika engkau memuji-Nya, pujilah dengan ketulusan hatimu, jangan engkau memuji dengan disertai harapan semu. Sungguh itu akan merusak pujian, karena memuji yang disertai harapan adalah memuji tiada ketulusan. Begitu pula jika dirimu membaca Al-Qur’an dan bersholawat, jangan sekali-kali engkau menjadikannya MANTRA, untuk menuruti nafsumu atau keinginanmu yang rakus akan harta benda, atau engkau jadikan MANTRA untuk memenuhi birahimu. Sungguh hal itu sama dengan engkau merendahkan petunjuk Tuhanmu, dan juga merendahkan junjunganmu (Nabimu). Jika engkau minta pertolongan, mintalah dengan ketulusan dan sertailah permintaanmu dengan kesabaran. Sungguh Allah mengetahui apa-apa yang engkau butuhkan sekarang dan yang akan datang, dan Allah akan memberi pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang membutuhkan. Sesungguhnya Allah adalah Dzat BIJAKSANA dan Dzat Yang selalu memberi pertolongan.”
Syair ini adalah peta perjalanan kembali ke esensi. Ia membongkar lapis demi lapis kepalsuan dalam ibadah kita, dan menuntun kita menuju ketulusan yang murni. Mari kita masuki bait-baitnya dengan hati yang telanjang, tanpa pembelaan diri.
Antara Ucapan dan Perbuatan
”Bersungguh-sungguhlah dirimu jika mengucapkan kalam Allah, jangan engkau mempermainkannya, sementara dirimu enggan melaksanakannya.”
Bait pembuka ini langsung menghantam sendi yang paling rawan dalam kehidupan beragama: kesenjangan antara qawl (ucapan) dan fi’l (perbuatan). Setiap hari, jutaan muslim mengucapkan kalam Allah. Mereka membaca Al-Fatihah, melantunkan ayat-ayat suci, dan mengikrarkan la ilaha illa Allah. Namun berapa banyak di antara mereka yang benar-benar mengamalkan apa yang mereka ucapkan? Berapa banyak yang membaca Al-Fatihah dengan lisan, tetapi hati dan tangan mereka masih terjebak dalam kezaliman? Berapa banyak yang mengikrarkan tauhid, tetapi masih menyandarkan hidupnya kepada selain Allah—kepada uang, jabatan, atau manusia?
Al-Qur’an sendiri mengecam keras inkonsistensi ini dengan bahasa yang menggetarkan: ”Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” (QS. Ash-Shaff: 2-3). Ayat ini bukan sekadar teguran moral. Ia adalah pukulan telak terhadap segala bentuk kemunafikan spiritual. Dalam tafsir sufistik, ayat ini mengungkap bahwa kebencian Allah yang paling besar bukanlah ditujukan kepada orang kafir yang terang-terangan, melainkan kepada orang yang mengaku beriman tetapi hidupnya tidak mencerminkan apa yang ia akui.
Imam Al-Ghazali, dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, menulis bahwa lisan yang mengucapkan kebenaran tanpa diikuti oleh perbuatan adalah seperti pedang yang tajam tetapi tidak pernah digunakan untuk berperang. Pedang itu mungkin indah dipandang, tetapi tidak ada gunanya di medan laga. Demikian pula, ucapan yang indah tanpa amal adalah fatamorgana yang menipu diri sendiri dan orang lain. Lebih jauh, Al-Ghazali menjelaskan bahwa kesenjangan ini melahirkan penyakit hati yang sangat kronis: qaswah al-qalb—kerasnya hati. Setiap kali seseorang mengucapkan ayat suci tetapi tidak mengamalkannya, hatinya mengeras sedikit demi sedikit, sampai akhirnya ia tidak lagi merasakan getaran apa pun ketika mendengar firman Tuhan.
Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi, dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, menekankan bahwa syarat pertama bagi seorang salik—penempuh jalan spiritual—adalah shidq (kejujuran). Kejujuran di sini bukan hanya berarti berkata benar, tetapi menyelaraskan seluruh dimensi diri: lisan, hati, dan perbuatan. Seorang yang jujur secara spiritual adalah ia yang ucapannya selaras dengan keyakinannya, dan keyakinannya selaras dengan tindakannya. Ketika ia membaca _”iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”_, hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan—ia benar-benar tidak menyembah selain Allah, dan ia benar-benar tidak meminta pertolongan selain kepada-Nya.
Secara psikologis, fenomena kesenjangan ini adalah bentuk cognitive dissonance—ketidaksesuaian antara keyakinan dan perilaku. Teori psikologi modern menjelaskan bahwa manusia cenderung mencari pembenaran untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat inkonsistensi. Dalam konteks agama, seseorang yang sering mengucapkan kebenaran tetapi tidak mengamalkannya akan menciptakan mekanisme pertahanan diri: ia akan meremehkan dosanya, atau bahkan merasa bahwa dengan mengucapkan saja sudah cukup. Ini adalah jebakan yang sangat berbahaya, karena ia membuat seseorang merasa aman dalam ketidaktaatan.
Pujian yang Tulus: Membebaskan Diri dari Harapan Semu
”Jika engkau memuji-Nya, pujilah dengan ketulusan hatimu, jangan engkau memuji dengan disertai harapan semu. Sungguh itu akan merusak pujian, karena memuji yang disertai harapan adalah memuji tiada ketulusan.”
Bait ini mengupas dimensi yang lebih halus: ikhlas dalam hamdalah dan tasbih. Memuji Allah—mengucapkan Alhamdulillah, Subhanallah, Allahu Akbar—adalah ibadah yang sangat dianjurkan. Bahkan, Al-Qur’an menyebut bahwa seluruh makhluk di langit dan di bumi senantiasa bertasbih kepada-Nya. Namun, syair ini memperingatkan adanya “harapan semu” yang bisa menyusup ke dalam pujian, menjadikannya rusak dan tidak bernilai.
Apakah harapan semu itu? Ia adalah pamrih yang tersembunyi. Seseorang memuji Allah, tetapi di dalam lubuk hatinya, ia berharap agar Allah memberikan balasan: entah itu kelancaran rezeki, kesembuhan dari penyakit, popularitas, atau bahkan sekadar pujian balik dari manusia. Pujian yang seperti ini adalah transaksi bisnis yang dibungkus dengan bahasa spiritual. Ia adalah riya’ khafi—pamer yang tersembunyi—yang lebih halus dari sutra dan lebih gelap dari malam.
Abu Nu’aim al-Ashfahani, dalam Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, merekam sebuah kisah yang sangat menyentuh tentang ketulusan dalam memuji. Seorang wali ditanya, “Mengapa engkau selalu memuji Allah, bahkan dalam keadaan sakit dan susah?” Ia menjawab, “Aku memuji-Nya bukan karena aku menginginkan sesuatu dari-Nya. Aku memuji-Nya karena Dia layak dipuji. Jika seluruh nikmat-Nya dicabut dariku, aku akan tetap memuji-Nya, karena keindahan dan kesempurnaan-Nya tidak berkurang sedikit pun.” Inilah puncak dari ketulusan: memuji Allah semata-mata karena Allah, bukan karena apa yang bisa diberikan oleh Allah.
Al-Ghazali dalam Ihya’ menulis bahwa riya’ adalah penyakit yang paling halus dan paling sulit dideteksi. Ia bisa menyelinap ke dalam ibadah tanpa disadari. Seseorang mungkin memulai pujian dengan tulus, tetapi di tengah jalan, setan membisikkan: “Engkau hebat bisa memuji seperti ini,” atau “Semoga orang lain mendengar dan mengagumi kesalehanmu.” Maka, memuji dengan tulus memerlukan mujahadah—perjuangan batin—yang terus-menerus. Setiap kali ia memuji, ia harus memeriksa hatinya: untuk siapa aku melakukan ini? Apakah aku mengharapkan sesuatu dari Allah? Apakah aku ingin dilihat oleh manusia?
Puncak dari pujian yang tulus adalah apa yang oleh para sufi disebut fana’ fi al-hamd—lebur dalam pujian itu sendiri. Seorang hamba memuji Allah bukan lagi sebagai “aku yang memuji,” tetapi Allah sendiri yang memuji Diri-Nya melalui lisannya. Ini adalah maqam yang sangat tinggi, di mana tidak ada lagi kesadaran akan diri sendiri dalam ibadah. Sebagaimana dikatakan oleh Rabi’ah al-‘Adawiyyah, yang kisahnya direkam oleh Abu Nu’aim: “Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka-Mu atau mengharap surga-Mu. Aku menyembah-Mu karena Engkau layak disembah.” Kalimat ini bukanlah sekadar ungkapan puitis. Ia adalah deklarasi dari seorang hamba yang telah mencapai ketulusan paripurna—meniadakan segala tujuan selain Allah, termasuk surga dan neraka.
Al-Qur’an dan Shalawat: Petunjuk, Bukan Mantra
”Jangan sekali-kali engkau menjadikannya MANTRA, untuk menuruti nafsumu… Sungguh hal itu sama dengan engkau merendahkan petunjuk Tuhanmu, dan juga merendahkan junjunganmu (Nabimu).”
Bait ini adalah kritik paling tajam dalam syair ini. Ia menyingkap fenomena yang sangat mengkhawatirkan dalam kehidupan beragama: magisme. Al-Qur’an, yang seharusnya menjadi hudan—petunjuk—bagi manusia, dijadikan sebagai jimat atau mantra untuk meraih keinginan duniawi. Shalawat, yang seharusnya menjadi pernyataan cinta kepada Nabi Muhammad Saw., dijadikan sebagai wirid dengan hitungan tertentu untuk “menarik” rezeki atau menaklukkan lawan.
Fenomena ini bukanlah hal baru. Dalam sejarah Islam, praktik menjadikan ayat-ayat suci sebagai mantra telah muncul sejak lama. Tetapi di zaman modern, ia semakin marak dengan berbagai kemasan yang lebih canggih: buku-buku tentang “keajaiban ayat rezeki,” “shalawat penarik kekayaan,” atau “wirid pengasihan.” Semua ini adalah bentuk instrumentalisasi agama yang sangat berbahaya, karena menggeser fungsi Al-Qur’an dari petunjuk menjadi alat pemuas nafsu.
Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul menulis bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai syifa’—obat—bagi hati yang sakit. Hati yang sakit adalah hati yang dipenuhi oleh kesombongan, iri, dengki, cinta dunia, dan takut mati. Al-Qur’an adalah obat yang membersihkan penyakit-penyakit ini. Tetapi jika Al-Qur’an dijadikan mantra, ia justru akan menambah penyakit baru: syirk khafi—syirik yang tersembunyi—karena seseorang menyandarkan hatinya kepada khasiat ayat, bukan kepada Allah yang menurunkan ayat.
Nabi Saw. sendiri telah memperingatkan keras praktik ini. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, beliau bersabda: “Barangsiapa membaca Al-Qur’an, lalu ia meminta-minta kepada manusia dengannya, maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan tulang pipinya tidak berdaging.” Hadis ini menggambarkan betapa mengerikannya akibat dari memperdagangkan kalam Allah. Tulang pipi yang tidak berdaging adalah simbol dari kehinaan: ia datang di hadapan Allah dengan tangan hampa, karena semua amalnya telah dihapus oleh niatnya yang salah.
Shalawat juga demikian. Shalawat adalah ibadah yang sangat mulia. Allah sendiri dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Tetapi shalawat yang sejati adalah yang disertai dengan hudhur—kehadiran hati—dan mahabbah—cinta yang tulus kepada Nabi. Shalawat bukanlah mantra untuk “memanggil” sesuatu. Ia adalah pernyataan kerinduan kepada Sang Kekasih, pengakuan bahwa beliau adalah utusan Allah yang membawa petunjuk. Ketika shalawat dijadikan wirid dengan hitungan tertentu untuk mendapatkan kekayaan, ia kehilangan ruhnya. Yang tersisa hanyalah kulit tanpa isi, angka-angka tanpa makna.
Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ merekam kisah seorang sufi yang berkata: “Aku lebih suka membaca satu shalawat dengan hati yang hadir, daripada seribu shalawat dengan hati yang lalai. Karena shalawat yang satu itu akan naik ke langit membawa rinduku, sementara shalawat yang seribu itu akan terhenti di atap mulutku, tidak bisa naik.” Kisah ini mengajarkan bahwa kualitas ibadah bukan terletak pada kuantitasnya, melainkan pada ketulusannya.
Meminta dengan Tulus dan Sabar: Menyerahkan Diri kepada Yang Maha Tahu
”Jika engkau minta pertolongan, mintalah dengan ketulusan dan sertailah permintaanmu dengan kesabaran. Sungguh Allah mengetahui apa-apa yang engkau butuhkan sekarang dan yang akan datang.”
Bait ini mengajarkan adab berdoa. Doa, sebagaimana sabda Nabi, adalah makh al-‘ibadah—sumsum ibadah. Ia adalah inti dari penghambaan. Tetapi doa yang benar adalah doa yang tulus dan disertai dengan kesabaran. Tulus berarti tidak ada pamrih tersembunyi, tidak ada keinginan untuk “menyogok” Allah dengan ibadah agar Allah menuruti keinginan kita. Sabar berarti tidak tergesa-gesa menuntut jawaban, tidak marah ketika doa belum dikabulkan, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah.
Al-Qusyairi, dalam Al-Risalah al-Qusyairiyyah, menjelaskan bahwa sabar dalam berdoa adalah bagian dari tawakal. Seorang hamba yang bertawakal menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah, dan ia percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik, pada waktu yang terbaik. Ia tidak memaksa Allah dengan mengatakan, “Aku sudah berdoa, mengapa belum dikabulkan?” Ia justru berbaik sangka: mungkin ada hikmah di balik penundaan, mungkin doanya diganti dengan sesuatu yang lebih baik, mungkin musibah yang akan menimpanya telah dipindahkan karena doanya.
Allah berfirman: ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 216). Ayat ini adalah fondasi dari adab berdoa. Manusia seringkali tidak tahu apa yang benar-benar ia butuhkan. Ia meminta kekayaan, padahal kekayaan bisa membuatnya sombong dan lalai. Ia meminta jabatan, padahal jabatan bisa membuatnya zalim. Ia meminta kesehatan, padahal sakit bisa menjadi penghapus dosa. Maka, doa yang terbaik adalah doa yang menyerahkan pilihan kepada Allah: “Ya Allah, berikanlah apa yang terbaik bagiku, bukan apa yang kuinginkan. Karena Engkau Maha Tahu, dan aku tidak tahu.”
Allah yang Bijaksana dan Maha Penolong: Sandaran bagi Hamba yang Tulus
”Sesungguhnya Allah adalah Dzat BIJAKSANA dan Dzat Yang selalu memberi pertolongan.”
Bait penutup ini adalah fondasi dari seluruh syair. Dua sifat Allah—al-Hakim (Maha Bijaksana) dan al-Nashir (Maha Penolong)—adalah sandaran yang tak tergoyahkan bagi hamba yang sedang menempuh jalan spiritual.
Al-Hakim berarti Allah selalu bertindak dengan kebijaksanaan yang sempurna. Setiap perintah, setiap larangan, setiap takdir, semuanya mengandung hikmah yang mungkin tidak terlihat oleh mata manusia. Seorang hamba yang meyakini ini akan tenang dalam setiap keadaan. Ia tidak akan memprotes takdir, tidak akan mempertanyakan mengapa doanya belum dikabulkan, tidak akan iri terhadap nikmat yang diterima orang lain. Ia percaya sepenuhnya bahwa apa pun yang Allah tetapkan adalah yang terbaik, meskipun akalnya tidak mampu memahaminya.
Al-Nashir berarti Allah selalu memberi pertolongan. Tetapi pertolongan Allah tidak selalu berbentuk kemudahan. Terkadang pertolongan Allah justru berbentuk kesulitan yang mendidik, atau penundaan yang menguatkan. Dalam Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim merekam kisah seorang sufi yang ditanya, “Mengapa Allah tidak segera menolongmu?” Ia menjawab, “Justru dalam penundaan itulah pertolongan-Nya. Ia ingin aku belajar sabar, dan sabar adalah pertolongan yang paling agung. Jika Allah segera menolongku setiap kali aku meminta, aku akan menjadi hamba yang manja, yang tidak bisa bertahan dalam ujian.”
Puncak Perjalanan: Fana’ ul-Fana’—Ketika Pamrih Lenyap Tanpa Bekas
Di puncak perjalanan spiritual, seluruh syair ini bermuara pada satu maqam yang sangat misterius: fana’ ul-fana’. Apa hubungannya?
Semua masalah yang diangkat oleh syair ini—inkonsistensi ucapan dan perbuatan, pujian yang bercampur pamrih, menjadikan Al-Qur’an sebagai mantra, doa yang tidak sabar—berakar pada satu hal: ego. Ego yang ingin diakui, ego yang ingin mendapatkan keuntungan, ego yang ingin memuaskan nafsunya. Selama ego masih berkuasa, ibadah akan selalu tercemari oleh pamrih. Ia akan selalu mencari imbalan, baik dari Allah maupun dari manusia. Maka, jalan untuk menyucikan ibadah adalah dengan fana’—meleburkan ego. Fana’ fi al-af’al menghilangkan klaim bahwa dirinya yang beramal, bahwa dirinya yang membaca Al-Qur’an, bahwa dirinya yang berdoa. Semua perbuatan disaksikan sebagai af’al Allah yang bertajalli melalui dirinya. Fana’ fi al-sifat menghilangkan sifat-sifat negatif yang merusak amal: riya’, ujub, sum’ah, dan pamrih. Fana’ fi al-dzat menghilangkan kesadaran akan diri sebagai entitas yang terpisah dari Allah.
Puncaknya adalah fana’ ul-fana’. Dalam maqam ini, bahkan kesadaran “aku telah ikhlas,” “aku telah tulus,” “aku telah berdoa dengan benar” dihapuskan. Tidak ada lagi “aku” yang menilai kualitas ibadahnya sendiri. Tidak ada lagi “aku” yang merasa telah mencapai sesuatu. Semua “aku” telah lenyap tanpa bekas. Yang ada hanyalah Allah yang beribadah melalui dirinya.
Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul menyebut maqam ini sebagai mahw al-mahw—penghapusan terhadap penghapusan. Dalam maqam ini, doa bukan lagi “aku meminta,” tetapi Allah yang meminta melalui lisan hamba-Nya. Pujian bukan lagi “aku memuji,” tetapi Allah yang memuji Diri-Nya sendiri. Al-Qur’an bukan lagi “aku membaca,” tetapi Allah yang berfirman melalui lisan hamba-Nya. Inilah makna sejati dari firman Allah: “Allah adalah Dzat Yang Maha Bijaksana dan Maha Penolong.” Pada puncaknya, hamba tidak lagi meminta pertolongan, karena ia telah lebur dalam al-Musta’an—Yang Maha Dimintai Pertolongan. Ia tidak lagi memuji, karena ia telah lebur dalam al-Hamid—Yang Maha Terpuji.
Penutup: Kembali ke Ketulusan
Syair yang telah kita renungkan ini adalah undangan untuk kembali ke esensi. Di tengah dunia yang semakin instrumental—di mana segala sesuatu diukur dengan untung-rugi, termasuk agama—syair ini mengingatkan kita bahwa ibadah bukanlah alat. Ia adalah tujuan. Memuji Allah bukanlah untuk mendapatkan sesuatu, tetapi karena Allah layak dipuji. Membaca Al-Qur’an bukanlah untuk “menarik” rezeki, tetapi untuk mendapatkan petunjuk. Berdoa bukanlah untuk memaksa Allah, tetapi untuk menyerahkan diri kepada Yang Maha Tahu.
Pada akhirnya, perjalanan ini adalah perjalanan menuju ketulusan. Dan ketulusan sejati hanya bisa dicapai ketika “aku” yang penuh pamrih telah lenyap. Ketika tidak ada lagi “aku” yang meminta, yang ada hanyalah Dia yang memberi. Ketika tidak ada lagi “aku” yang memuji, yang ada hanyalah Dia yang terpuji. Itulah puncak dari fana’ ul-fana’. Itulah puncak dari penghambaan.
Semoga kita termasuk ke dalam golongan hamba yang dibersihkan hatinya dari segala harapan semu, yang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk bukan mantra, yang berdoa dengan tulus dan sabar, dan yang akhirnya melebur dalam samudra al-Haqq. Allah Maha Bijaksana, Allah Maha Penolong.
Wallahu a’lam bi al-shawab.



