Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP. (Alumni FH Universitas Jember)

SURABAYAONLINE.CO – MALAM itu, seorang lelaki tua duduk sendiri di beranda rumahnya yang reyot. Hujan baru saja reda, menyisakan bau tanah basah dan gemericik air dari atap yang bocor. Ia tidak menyalakan lampu. Dalam gelap, ia merasa lebih dekat dengan dirinya sendiri—atau lebih tepatnya, dengan sesuatu yang melampaui dirinya. Matanya terpejam, napasnya pelan, dan di dalam kesunyian itu ia mendengar suara. Bukan suara yang ditangkap telinga, melainkan suara yang bergetar di kedalaman sirr—rahasia Ilahi yang tertanam di dalam setiap insan. Suara itu berkata: Dirimu adalah pemimpin bagimu.

Lelaki tua itu tidak tersentak. Ia sudah terlalu tua untuk tersentak. Tetapi sesuatu di dalam dadanya bergetar hebat, seperti genderang yang dipukul dari dalam. Ia teringat sebuah syair yang pernah didendangkan oleh gurunya di sebuah zawiyah sunyi puluhan tahun lalu. Syair itu kini kembali, bukan sebagai kenangan, tetapi sebagai kenyataan yang menelanjangi:

”Dirimu adalah pemimpin bagimu. Pemimpin bagi ucapanmu. Pemimpin bagi penglihatanmu. Pemimpin bagi pendengaranmu. Pemimpin bagi sikap-sikapmu. Sungguh dirimu adalah pemimpin di setiap tingkah lakumu dan perbuatanmu, maka.. Pimpinlah dirimu dengan ilmu. Pimpinlah dirimu dengan kejujuranmu. Pimpinlah dirimu dengan tanggung jawabmu. Pimpinlah dirimu dengan kerendahan hatimu. Pimpinlah dirimu dengan ketulusan jiwamu. Jangan engkau pimpin dirimu dengan kesombonganmu. Jangan engkau pimpin dirimu dengan kesenangan nafsumu. Jangan engkau pimpin dirimu dengan keserakahanmu. Jangan engkau pimpin dirimu dengan syahwatmu. Jangan engkau pimpin dirimu dengan kelicikanmu. Dan di dalam sholatmu, sesungguhnya dirimu adalah imam bagi seluruh anggota tubuhmu. Sungguh di akhirat kelak, Allah akan meminta tanggung jawabmu atas kepemimpinanmu di setiap perbuatan-perbuatanmu.”

Syair ini bukanlah nasihat. Ia adalah peta menuju kerajaan yang tersembunyi di dalam setiap manusia: kerajaan diri. Dan setiap insan, entah ia sadari atau tidak, adalah raja di kerajaannya sendiri. Masalahnya, tidak setiap raja memerintah dengan adil. Banyak yang justru menjadi tiran: lisan dibiarkan merajalela dengan dusta, mata dibiarkan liar memandang yang haram, hati dibiarkan menjadi sarang ular-ular kesombongan. Maka, mari kita masuki syair ini bukan sebagai pembaca, tetapi sebagai musafir yang sedang menyusuri lorong-lorong gelap kerajaannya sendiri.

Kerajaan yang Terlupakan

Dalam kosmologi tasawuf, manusia adalah ‘alam saghir—semesta kecil. Di dalam semesta kecil itu, Allah telah menempatkan elemen-elemen yang menyerupai alam besar: akal sebagai singgasana, hati sebagai mahkamah agung, nafsu sebagai pemberontak yang selalu menunggu kesempatan untuk merebut kekuasaan, dan anggota tubuh sebagai rakyat jelata yang akan mengikuti siapa pun yang duduk di singgasana. Setiap manusia adalah raja. Pertanyaannya: siapakah yang sesungguhnya memerintah di kerajaan itu?

Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi, dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, menulis bahwa dalam diri manusia terdapat dua wilayah: al-mulk (kerajaan lahir) dan al-malakut (kerajaan batin). Al-mulk adalah wilayah zahir yang tampak oleh mata—gerak tangan, langkah kaki, ucapan lisan. Al-malakut adalah wilayah yang tersembunyi—pikiran, perasaan, niat, dan getaran-getaran halus yang hanya diketahui oleh Allah. Seorang salik yang cerdas tidak hanya sibuk mengatur al-mulk-nya, tetapi juga menyelami al-malakut-nya. Sebab, kerusakan di wilayah batin akan merembet ke wilayah lahir. Hati yang gelap akan melahirkan lisan yang kotor. Pikiran yang kusut akan melahirkan tindakan yang kacau.

Al-Qusyairi, dalam Al-Risalah al-Qusyairiyyah, menegaskan bahwa nafs adalah amanah terbesar. Setiap orang adalah pemimpin bagi nafs-nya sendiri, dan kelak ia akan dimintai pertanggungjawaban. Hadis Nabi Saw. sudah sangat jelas: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (HR. Bukhari dan Muslim). Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: siapakah yang memimpin sang pemimpin? Jika diri adalah pemimpin, lalu siapa yang memimpin diri? Di sinilah letak paradoks yang akan mengantarkan kita ke samudra makna yang paling dalam.

Rakyat yang Membangkang

Syair itu merinci rakyat yang harus dipimpin: “Pemimpin bagi ucapanmu. Pemimpin bagi penglihatanmu. Pemimpin bagi pendengaranmu. Pemimpin bagi sikap-sikapmu.” Lisan, mata, telinga, dan seluruh anggota tubuh adalah rakyat yang harus tunduk kepada raja. Tetapi betapa sering rakyat ini membangkang. Betapa sering lisan mengucapkan kata-kata yang tidak diperintahkan oleh akal sehat, apalagi oleh hati yang bersih. Betapa sering mata memandang sesuatu yang kemudian meninggalkan noda hitam di dalam jiwa. Betapa sering telinga mendengar sesuatu yang kemudian mengotori pikiran selama berhari-hari.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menulis bahwa lisan adalah organ kecil, tetapi kejahatannya bisa sangat besar. Satu kata dusta bisa menghancurkan kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun. Satu kalimat ghibah bisa membakar pahala yang dikumpulkan dengan susah payah. Maka, memimpin lisan bukanlah pekerjaan mudah. Ia memerlukan wara’—kehati-hatian yang ekstrem—dan mujahadah—perjuangan batin yang terus-menerus.

Abu Nu’aim al-Ashfahani, dalam Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, merekam kisah seorang wali yang berkata: “Aku lebih takut kepada pandangan yang lalai daripada kepada dosa besar. Dosa besar bisa diampuni dengan taubat, tetapi pandangan yang lalai bisa mengeraskan hati hingga mati.” Ini adalah kesadaran seorang raja yang tahu bahwa kerajaannya bisa runtuh bukan karena serangan dari luar, tetapi karena kelalaiannya sendiri dalam mengawasi rakyatnya.

Lima Pilar Istana

Syair itu tidak hanya mendiagnosis. Ia juga memberikan resep. Lima pilar harus ditegakkan di dalam kerajaan diri: ilmu, kejujuran, tanggung jawab, kerendahan hati, dan ketulusan.

Ilmu adalah cahaya. Tanpa cahaya, seorang raja akan meraba-raba dalam kegelapan. Tetapi ilmu yang dimaksud bukanlah sekadar hafalan atau gelar akademik. Al-Ghazali membedakan antara ilmu yang bermanfaat dan yang tidak. Ilmu yang bermanfaat adalah yang menghantarkan kepada khasy-yah—rasa takut yang disertai cinta kepada Allah. Ilmu yang hanya menumpuk di kepala tetapi tidak menggetarkan hati adalah beban, bukan cahaya. Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul menegaskan bahwa syarat pertama bagi seorang salik adalah memiliki ilmu syariat yang sahih. Tanpa kompas ini, ia akan tersesat.

Kejujuran adalah cermin yang tidak pernah berdusta. Shidq dalam bahasa Arab berarti keselarasan antara zahir dan batin. Seorang raja yang jujur tidak akan menipu dirinya sendiri. Ia berani mengakui kesalahannya. Abu Nu’aim merekam kisah seorang wali yang setiap malam menghisab dirinya sendiri: “Wahai nafs, apa yang telah engkau lakukan hari ini? Adakah engkau berkata dusta? Adakah engkau memandang yang haram?” Ini adalah audit kerajaan yang dilakukan tanpa auditor eksternal, hanya hati yang bertanya kepada dirinya sendiri.

Tanggung jawab adalah beban yang memuliakan. Seorang raja yang bertanggung jawab sadar bahwa setiap detik adalah amanah. Ia tidak akan menyia-nyiakan waktunya. Ia tidak akan membiarkan rakyatnya—lisan, mata, telinga—berbuat sesuka hati.

Kerendahan hati adalah mahkota yang tidak terlihat. Semakin tinggi maqam seorang hamba, semakin rendah hatinya. Nabi Saw. bersabda: “Barangsiapa merendahkan diri karena Allah, niscaya Allah akan meninggikannya” (HR. Muslim). Para wali Allah adalah orang-orang yang paling tinggi ilmunya, tetapi paling rendah hatinya.

Ketulusan adalah ruh dari seluruh amal. Tanpa ikhlas, kerajaan hanya akan menjadi panggung sandiwara. Abu Nu’aim merekam kisah Al-Fudhail bin Iyadh yang menangis membaca ayat tentang ujian keikhlasan. Seorang raja yang tulus tidak mencari pujian. Ia memerintah dalam sunyi, karena ia tahu bahwa Allah melihat apa yang tersembunyi di balik dinding-dinding kerajaannya.

Musuh di Dalam Benteng

Setelah menyebutkan lima pilar, syair itu memperingatkan tentang lima musuh yang bersembunyi di dalam benteng: kesombongan, kesenangan nafsu, keserakahan, syahwat, dan kelicikan. Kelimanya adalah serigala berbulu domba. Mereka tidak menyerang dari luar, tetapi menggerogoti dari dalam.

Kesombongan adalah penyakit iblis. Ia adalah perasaan bahwa diri lebih besar, lebih mulia, lebih berhak. Al-Ghazali menulis bahwa sombong adalah pintu dari segala kehancuran. Nafsu adalah tuhan palsu yang paling banyak disembah. Keserakahan adalah api yang tak pernah padam. Syahwat adalah racun yang manis. Kelicikan adalah kecerdasan yang digunakan untuk keburukan.

Shalat: Ketika Raja Menghadap Raja Diraja

“Dan di dalam sholatmu, sesungguhnya dirimu adalah imam bagi seluruh anggota tubuhmu.” Shalat adalah momen ketika raja dari kerajaan mikro ini menghadap kepada Raja Diraja, al-Malik al-Haqq. Dalam shalat, lisan menjadi makmum yang membaca, mata menunduk, telinga mendengar, hati khusyuk. Jika dalam shalat saja seorang raja tidak bisa memimpin rakyatnya, bagaimana ia bisa memimpin di luar shalat?

Al-Kamasykhanawi menulis bahwa shalat adalah mi’raj bagi mukmin. Dalam mi’raj itu, sang hamba harus menjadi pemimpin yang sempurna.

Fana’ ul-Fana’: Ketika Raja Lenyap

Sampai di sini, kita mungkin bertanya: apakah tujuan akhir dari kepemimpinan diri? Apakah sekadar menjadi raja yang adil? Dalam tasawuf, jawabannya lebih radikal. Tujuan akhirnya adalah fana’ ul-fana’—lenyap dari lenyap.

Selama masih ada “aku” yang memimpin, selama itu pula ada ego. Perasaan “aku telah berhasil memimpin lisanku” adalah ‘ujb khafi—kesombongan tersembunyi. Maka, diperlukan fana’ ul-fana’. Al-Kamasykhanawi menyebutnya mahw al-mahw—penghapusan terhadap penghapusan. Dalam maqam ini, tidak ada lagi “aku” yang memimpin. Yang ada hanyalah Allah: Dia yang Memimpin, Dia yang Dipimpin. Inilah puncak tauhid.

Kembali ke Sunyi

Lelaki tua itu membuka matanya. Hujan sudah benar-benar reda. Di kejauhan, terdengar suara azan Subuh. Ia bangkit, mengambil air wudhu, lalu berdiri menghadap kiblat. Kedua tangannya terangkat. Allahu Akbar. Di dalam takbir itu, ia merasa seluruh kerajaannya—lisan, mata, telinga, hati—ikut bertakbir bersamanya. Tunduk. Patuh. Dan untuk sesaat, ia merasa tidak ada lagi “aku” di sana. Hanya Dia. Hanya Dia.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version