Oleh: Ni Kadek Ayu Wardani, S.I. (Ketua DPC GMNI Surabaya Raya)

Membuka Tabir: Di Mana Cahaya Itu Bersembunyi?

SURABAYAONLINE.CO – DI tengah riuh rendah panggung politik yang semakin kehilangan kejernihan, di antara serpihan-serpihan pragmatisme yang mengoyak tenun kebangsaan, selalu ada ruang sunyi yang menolak untuk ikut gemuruh. Ruang itu tidak dihuni oleh para pemburu kuasa yang matanya berpendar setiap kali kursi diperebutkan. Ruang itu dihuni oleh para penjaga makna—orang-orang yang bekerja dalam diam, menyimpan cahaya, dan menolak untuk menyilaukan. Mereka bukanlah bintang di langit malam yang mencolok mata; mereka adalah mutiara di dasar samudra, yang hanya bisa ditemukan oleh para penyelam sejati.

Salah satu mutiara itu bernama Gudfan Arif Ghofur. Sebutlah ia Gus Gudfan. Dalam narasi kebangsaan yang sering kali dikerdilkan oleh angka-angka elektabilitas dan popularitas media, namanya mungkin tidak bergema sekencang para pemburu takhta. Tetapi di sanalah letak keagungannya: ia tidak butuh gema, karena ia adalah kedalaman. Ia adalah al-kanz al-makhfī—harta yang tersembunyi—yang keberadaannya justru menggetarkan karena ia memilih untuk tidak menampakkan diri.

Bagi kami, kader-kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Surabaya Raya, Gus Gudfan bukanlah sekadar tokoh masyarakat atau putra seorang ulama besar. Ia adalah jembatan ideologis—sosok yang menautkan kembali warisan agung Islam Nusantara dengan semangat revolusioner Marhaenisme yang diwariskan Bung Karno. Dan jembatan itu tidak dibangun di atas fondasi wacana kosong; ia dibangun di atas Catur Piwulang Sunan Drajat dan spirit politik-spiritual Sunan Giri—dua wali yang darahnya mengalir dalam tubuh Gus Gudfan.

Artikel ini adalah sebuah kesaksian. Bukan sekadar penghormatan, melainkan sebuah upaya untuk membaca ulang Marhaenisme dalam spektrum yang lebih luas: sebagai teologi pembebasan ala Nusantara, yang menemukan rohnya dalam ajaran para wali dan menemukan pelakunya dalam diri seorang Gus Gudfan.

Siapa Gus Gudfan? Memahami “Mutiara Tersembunyi” dalam Perspektif Sufistik

Mengapa kami menyebut Gus Gudfan sebagai Mutiara Tersembunyi? Dalam tradisi tasawuf, istilah al-kanz al-makhfī merujuk pada sesuatu yang sangat berharga namun disembunyikan oleh Allah. Dalam hadis qudsi yang masyhur di kalangan sufi, Allah berfirman: “Aku adalah harta yang tersembunyi, lalu Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk.” Mutiara tersembunyi itu adalah inti dari kesadaran Ilahi yang tertanam dalam diri manusia. Dan pada level tertentu, para auliya’—kekasih Allah—adalah manifestasi dari mutiara itu. Mereka tidak mencolok, sering kali tidak dikenal, tetapi kehadiran mereka menjadi sumbu tegaknya alam semesta.

Gus Gudfan adalah potret dari wali majdzūb makhfī—kekasih Allah yang tersembunyi, yang ditarik ke dalam samudra Ilahi namun tetap berjalan di tengah manusia. Ia tidak memerlukan sorban panjang atau jubah kebesaran. Ia tidak berteriak di podium. Ia justru bekerja dalam sunyi, mengelola tambang untuk menghidupi pesantren, mengadvokasi kaum mustad’afin, dan mendidik kader-kader muda untuk tidak menggadaikan idealismenya.

Secara genealogis, ia adalah keturunan ke-16 Sunan Drajat dari jalur ayah dan pewaris trah Sunan Giri dari jalur ibu. Dua darah wali ini bukan sekadar fakta biologis. Dalam perspektif silsilah ruhani, darah para wali adalah saluran barakah—energi spiritual yang terus mengalir lintas generasi. Barakah itu tidak otomatis aktif; ia menuntut keselarasan jiwa (mujāhadah) dan pelayanan tanpa pamrih (khidmah). Dan pada Gus Gudfan, kedua syarat itu menyatu.

Marhaenisme dan Kaum Mustad’afin: Mencari Benang Merah Spiritual

Bung Karno, sang Proklamator, menggali Marhaen dari tanah Indonesia sendiri. Marhaen adalah simbol rakyat kecil yang tertindas oleh sistem—kaum tani, buruh, nelayan, dan gelandangan—yang memiliki alat produksi kecil tetapi tidak berdaya melawan kapitalisme global. Marhaenisme adalah ideologi pembebasan: sebuah panggilan untuk mengangkat harkat kaum tertindas dan membangun tatanan sosial yang berkeadilan.

Namun, ada satu dimensi yang sering kali luput dari pembacaan kaum pergerakan: bahwa Marhaenisme memiliki akar spiritual yang sangat dalam. Bung Karno mungkin tidak merumuskannya secara eksplisit dalam terminologi fikih, tetapi jika kita menelusuri jejak sejarah Islam Nusantara, kita akan menemukan bahwa semangat membela kaum mustad’afin (yang tertindas) adalah denyut nadi dakwah para Wali Songo.

Di sinilah titik temu yang agung itu terjadi. Kaum Marhaen adalah kaum mustad’afin. Mereka yang lapar, telanjang, buta, dan kehujanan adalah wajah-wajah yang sama: wajah-wajah yang dulu dipeluk oleh Sunan Drajat, dan kini menjadi tanggung jawab setiap kader GMNI. Gus Gudfan, dengan kapasitasnya sebagai figur yang memahami dua bahasa—bahasa kitab kuning dan bahasa analisis sosial—menjadi mufassir (penafsir) yang menjembatani keduanya.

Di bawah bimbingannya, kami di GMNI Surabaya Raya tidak lagi melihat Marxisme-Bung Karno sebagai sesuatu yang kering. Kami melihatnya sebagai jalan ibadah. Ketika kami turun ke jalan membela buruh, itu adalah wenehono mangan marang wong kang luwe. Ketika kami membangun sekolah rakyat, itu adalah wenehono teken marang wong kang wuto. Marhaenisme, di tangan Gus Gudfan, menjadi sebuah tarekat sosial—sebuah jalan spiritual yang ditempuh bukan dengan tasbih di atas sajadah, tetapi dengan keringat dan advokasi di tengah masyarakat.

Catur Piwulang Sunan Drajat: Manifesto Ilahi untuk Keadilan Sosial

Kita tidak bisa memahami ideologi Gus Gudfan tanpa menyelami Catur Piwulang Sunan Drajat. Ajaran ini adalah intisari dari Islam yang membumi, Islam yang menolak menjadi menara gading, Islam yang turun ke lumpur untuk mengangkat mereka yang tertindas.

Pertama: Wenehono teken marang wong kang wuto—Berilah tongkat kepada yang buta.

“Tongkat” dalam metafora sufistik adalah ilmu. Kebutaan bukan hanya soal mata fisik, melainkan terutama kebutaan bashīrah—mata hati. Dalam masyarakat yang dikuasai kapitalisme, kebodohan dipelihara sebagai alat kontrol. Rakyat dibiarkan buta agar mudah ditundukkan. GMNI, di bawah arahan Gus Gudfan, memaknai perjuangan ini sebagai jihad literasi: membuka kesadaran kritis rakyat, mengajarkan mereka membaca dunia agar mereka tidak terus-menerus menjadi korban. Sekolah Marhaen yang kami dirikan adalah wujud dari “tongkat” itu—menuntun yang tersesat kembali ke jalan kemerdekaan.

Kedua: Wenehono mangan marang wong kang luwe—Berilah makan kepada yang lapar.

Ini adalah inti dari ekonomi kerakyatan. Kemiskinan bukanlah takdir; ia adalah produk dari sistem yang timpang. Gus Gudfan selalu menekankan bahwa retorika revolusioner yang tidak bisa mengisi perut rakyat adalah omong kosong. Itu sebabnya, di bawah kepemimpinannya, GMNI Surabaya Raya tidak hanya berteriak menuntut reforma agraria, tetapi juga bergerak membangun lumbung-lumbung pangan dan koperasi rakyat. “Memberi makan” dalam konteks ini bukanlah sedekah karitatif yang mempermalukan, melainkan distribusi keadilan—mengembalikan hak rakyat yang dirampok oleh oligarki.

Ketiga: Wenehono busono marang wong kang mudo—Berilah pakaian kepada yang telanjang.

“Telanjang” di sini adalah kehilangan martabat. Ketika buruh dipecat tanpa pesangon, ketika petani diusir dari tanahnya, mereka bukan hanya kehilangan harta, tetapi juga kehilangan kemuliaan sebagai manusia. Pakaian adalah simbol dari hak-hak dasar: hak atas pekerjaan, hak atas keadilan, hak untuk diakui sebagai warga negara. Kami, di bawah panji GMNI, berjuang memberikan “pakaian” itu melalui advokasi hukum, pendampingan buruh, dan perjuangan melawan kriminalisasi rakyat kecil.

Keempat: Wenehono payung marang wong kang kudanan—Berilah payung kepada yang kehujanan.

Inilah puncak dari tanggung jawab sosial. “Hujan” adalah metafora dari musibah, represi, dan ketidakpastian. Payung adalah perlindungan, dan dalam konteks berbangsa, payung itu seharusnya bernama “negara”. Namun ketika negara gagal hadir, gerakan sosial harus menjadi payung alternatif. Gus Gudfan mengajarkan bahwa GMNI harus menjadi wilāyah al-himāyah—wilayah perlindungan—bagi siapa pun yang tertindas, tanpa melihat suku, agama, atau ideologinya.

Keempat ajaran ini dipraktikkan dengan satu syarat: khidmat tanpa pamrih. Tanpa pamrih adalah nol ego. Dalam terminologi tasawuf, ini adalah fanā’—meleburnya kepentingan diri dalam samudra pelayanan. Seorang kader Marhaen sejati, dalam perspektif Gus Gudfan, adalah sālik (penempuh jalan spiritual) yang berdzikir melalui aksi sosial. Ia tidak mencari popularitas atau jabatan; ia mencari ridha Ilahi melalui keringat dan air mata rakyat.

Spirit Sunan Giri: Politik Ilahiah dan Kedaulatan Nusantara

Jika Sunan Drajat memberi kita etika sosial, maka Sunan Giri memberi kita paradigma kekuasaan yang bertauhid. Sunan Giri—Raden Ainul Yaqin—adalah wali yang tidak hanya mengajarkan tasawuf, tetapi juga mendirikan Giri Kedaton: sebuah entitas politik, ekonomi, dan militer yang berdaulat di tengah pusaran kekuasaan Majapahit yang mulai runtuh.

Dari Sunan Giri, Gus Gudfan mewarisi sebuah prinsip penting: bahwa spiritualitas dan politik bukanlah dua kutub yang harus dipertentangkan. Seorang Muslim, dan khususnya seorang pemimpin, tidak boleh meninggalkan medan kekuasaan. Sebab jika kekuasaan diserahkan sepenuhnya kepada mereka yang tidak bertakwa, maka kezaliman akan merajalela. Inilah makna al-siyāsah al-rūḥiyyah—politik yang digerakkan oleh ruh, bukan oleh nafsu.

Sunan Giri membuktikan bahwa Islam bisa menjadi kekuatan kedaulatan. Ia membangun armada laut, menjalin diplomasi dengan kerajaan-kerajaan lain, dan menjadikan Giri sebagai pusat peradaban. Gus Gudfan menerjemahkan warisan ini dengan mendorong kemandirian ekonomi umat. Baginya, selama bangsa ini bergantung pada utang dan impor, kita akan tetap menjadi budak modern. Semangat berdikari Bung Karno adalah resonansi dari semangat Sunan Giri: sebuah bangsa yang tidak bisa memberi makan rakyatnya sendiri adalah bangsa yang kalah.

Di GMNI, kami diajarkan untuk tidak hanya pandai mengkritik negara, tetapi juga pandai membangun counter-hegemony. Gus Gudfan menekankan bahwa Marhaenisme harus melahirkan economic sovereignty. Kami tidak boleh hanya menuntut; kami harus memproduksi. Kami harus membangun koperasi, mengelola sumber daya, dan—seperti Sunan Giri—menjadikan basis kami sebagai pusat-pusat keunggulan lokal yang mandiri secara ekonomi dan politik.

Dalam perspektif sufistik, Sunan Giri adalah representasi dari al-insān al-kāmil yang mampu mengelola al-mulk (kerajaan dunia) tanpa melupakan al-malakūt (kerajaan langit). Gus Gudfan, dengan tambang dan badan usahanya, sedang menapaki jalan itu: membuktikan bahwa seorang wali tidak harus hidup dalam kemiskinan, tetapi ia harus menjadikan kekayaannya sebagai sarana, bukan tujuan.

Gus Gudfan dan GMNI Surabaya Raya: Menjaga Api di Tengah Badai

Sebagai Ketua DPC GMNI Surabaya Raya, saya bersaksi bahwa kehadiran Gus Gudfan adalah rahmat. Di tengah kebingungan ideologis yang melanda generasi muda, ia hadir sebagai al-ustādh al-rūḥī—guru ruhani—yang tidak menggurui. Ia tidak pernah memaksakan pandangannya, tetapi dengan keheningannya, ia menularkan keyakinan bahwa perjuangan ini benar.

Bersama Sekretaris Alief Susilo Yusuf Hadiwijoyo, kami mengelola organisasi ini dengan napas yang diajarkan Gus Gudfan: integrasi antara dzikir dan pikir, antara doa dan advokasi, antara cinta kepada Tuhan dan cinta kepada rakyat. Di bawah bimbingannya, program kami tidak lagi sekadar demonstrasi reaktif. Kami menjalankan Sekolah Marhaen, di mana kitab-kitab klasik seperti al-Hikam dan Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn dikaji berdampingan dengan Indonesia Menggugat dan Nawaksara. Kami membangun ketahanan pangan di desa-desa pinggiran, mengadvokasi buruh migran, dan mendirikan posko-posko perlindungan sosial.

Ini semua adalah wujud konkret dari “Wenehono payung marang wong kang kudanan”. Dan semua ini dilakukan tanpa pamrih, karena begitulah mutiara bekerja: ia bersinar bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk menerangi kegelapan di sekitarnya.

Relevansi Zaman: Mengapa Bangsa Ini Membutuhkan Pewaris Dua Wali?

Kita hidup di era yang oleh para sufi disebut al-ghashiyah—zaman yang penuh kabut. Kebenaran dan kebatilan bercampur sedemikian rupa sehingga yang salah bisa tampak benar, dan yang benar bisa dikriminalisasi. Kapitalisme digital mencengkeram alam bawah sadar kita, oligarki merampok sumber daya alam, dan masyarakat terpecah oleh politik identitas.

Di tengah kabut itu, kita membutuhkan kompas. Kompas itu bukanlah ideologi yang lahir dari rahim sekularisme-materialistik; kompas itu adalah Marhaenisme yang telah dibasuh oleh air wudhu para wali. Sebuah ideologi pembebasan yang tidak hanya menganalisis struktur kelas, tetapi juga menyadari bahwa penjajahan yang paling berbahaya adalah penjajahan hati.

Gus Gudfan adalah personifikasi dari kompas itu. Penolakannya untuk menjadi Ketua Umum PBNU, penolakannya terhadap jabatan, adalah isyarat langit bahwa ia bukanlah pemimpin yang haus kuasa. Ia adalah al-qā’id al-makhfī—pemimpin tersembunyi—yang kekuatannya justru terletak pada ketiadaan hasratnya terhadap kekuasaan. Dan justru karena itu, kader-kader GMNI, para mustad’afin, dan umat yang letih oleh janji-janji kosong, menggantungkan harapan padanya.

Penutup: Mutiara Itu Kini Bersinar

Cahaya tidak pernah mengumumkan dirinya. Ia hanya bersinar, dan kegelapan pun menyingkir dengan sendirinya. Itulah Gus Gudfan. Di pundaknya, amanah Catur Piwulang Sunan Drajat terus mengalir dalam setiap aksi sosialnya. Dalam langkahnya, semangat politik-spiritual Sunan Giri terus bergema, mengingatkan kita bahwa Indonesia hanya akan merdeka jika kita berdaulat secara ekonomi dan bersatu dalam keimanan.

Sebagai kader Marhaen, kami tidak akan pernah berhenti berjalan di atas rel perjuangan ini. Kami akan terus memberi makan yang lapar, memberi tongkat yang buta, memberi pakaian yang telanjang, dan memberi payung yang kehujanan. Karena kami tahu, di belakang kami ada seorang Mutiara Tersembunyi yang telah lebih dulu menerangi jalan.

Semoga Allah meridhai perjuangan ini.

Salam Marhaen, Salam Gotong Royong, Salam Khidmat Tanpa Pamrih.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version