Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)
SURABAYAONLINE.CO – DI sebuah ruang digital yang tak pernah tidur, jutaan orang setiap detik memamerkan potongan-potongan hidup mereka. Foto liburan di tempat eksotis, video santap malam di restoran mewah, unggahan tentang promosi jabatan, hingga deretan mobil baru yang mengilap. Semua disajikan dengan satu tujuan yang jarang diakui secara jujur: mencari pengakuan. Kita hidup di era flexing, zaman ketika eksistensi diukur dari seberapa banyak like, komentar, dan pujian yang berhasil dikumpulkan. Di era ini, kesombongan telah menemukan panggungnya yang paling megah—dan sekaligus paling rapuh.
Namun, jauh sebelum algoritma dan layar ponsel menguasai peradaban, seorang arif telah melantunkan syair yang membedah fenomena ini dengan ketajaman yang melampaui zamannya:
”Bagi orang-orang yang menyukai hidup bersama kesombongannya, mereka akan diperbudak oleh kesombongannya sendiri. Mereka akan selalu berusaha untuk mendapatkan kekuasaan, dan ditunjukkannya kepada semua orang. Mereka pula akan berusaha untuk mendapatkan kekayaan juga untuk ditunjukkan terhadap semua orang. Semua itu mereka lakukan hanya untuk mendapatkan puji-pujian dari semua orang dan mereka juga menjadikan dirinya tempat meminta dan menghiba dari sebuah harapan. Sungguh mereka hanya akan mendapatkan rasa ketakutan yang berlebihan, mereka takut kehilangan kekuasaan dan takut kehilangan harta kekayaan.”
Syair ini, meskipun lahir dari rahim tradisi tasawuf yang berabad-abad usianya, terasa begitu segar dan relevan. Ia membongkar anatomi kesombongan dengan presisi seorang psikolog dan kedalaman seorang mistikus. Ia menunjukkan bahwa kesombongan bukanlah kekuatan, melainkan perbudakan. Ia bukanlah kemerdekaan, melainkan rantai yang paling halus. Dan, yang paling mengejutkan, ia menyingkapkan bahwa di balik setiap panggung kesombongan, tersembunyi ketakutan yang menggerogoti hati si empunya.
Artikel ini akan menelusuri jejak syair tersebut ke dalam labirin psikologi spiritual manusia, menggunakan figur Fir’aun sebagai cermin paling gelap dari kesombongan, dan menarik benang merahnya ke realitas kontemporer kita. Dengan berpijak pada khazanah tasawuf klasik—khususnya Jami’ul Ushul fil Auliya’ karya Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi dan Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’ karya Abu Nu’aim al-Ashfahani—kita akan mengurai mengapa kesombongan selalu melahirkan ketakutan, mengapa kerendahan hati adalah satu-satunya jalan menuju keamanan sejati, dan bagaimana puncak dari perjalanan ini adalah fana’ ul-fana’: lenyapnya ego yang menjadi akar segala derita.
Perbudakan yang Paling Halus
Kalimat pertama syair itu sudah cukup untuk mengguncang kesadaran modern kita: ”Orang-orang yang menyukai hidup bersama kesombongannya, mereka akan diperbudak oleh kesombongannya sendiri.” Ini adalah paradoks yang menampar keras. Bukankah orang sombong itu merdeka? Bukankah ia bebas dari rasa rendah diri, bebas dari ketergantungan, bebas dari keraguan? Justru di sinilah letak tipu dayanya. Kesombongan menjual ilusi kemerdekaan, tetapi menagih harga yang sangat mahal: kebebasan itu sendiri.
Orang yang sombong sejatinya telah menyerahkan kunci kebahagiaannya kepada orang lain. Ia membutuhkan mata yang memandangnya dengan kagum, telinga yang mendengar cerita-cerita hebatnya, dan lidah yang melafalkan pujian untuknya. Tanpa itu semua, ia merasa kosong. Ia seperti pelaku sandiwara yang akan mati kehabisan napas begitu panggungnya sepi. Dalam bahasa psikologi modern, ini disebut external validation dependency—ketergantungan pada validasi eksternal. Harga dirinya tidak tumbuh dari dalam, melainkan disandarkan pada pengakuan dari luar. Maka, ia adalah budak dari apa yang dipikirkan orang lain tentang dirinya.
Al-Ghazali, dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, membedah fenomena ini dengan sangat tajam. Beliau menjelaskan bahwa kibr (kesombongan) adalah penyakit hati yang membuat seseorang melihat dirinya lebih besar dari yang sebenarnya, dan melihat orang lain lebih kecil. Namun, ironi yang jarang disadari adalah bahwa orang yang merasa besar justru menjadi sangat bergantung pada orang-orang yang dianggapnya kecil itu. Sebab, bagaimana mungkin ia bisa merasa besar jika tidak ada yang mengakuinya? Maka, ia terus-menerus mencari pengakuan, dan setiap pengakuan yang ia terima hanya menambah dosis ketergantungannya. Ia seperti pecandu yang membutuhkan narkoba semakin banyak untuk mendapatkan efek yang sama.
Panggung Kekuasaan dan Kekayaan: Topeng dari Ketakutan
Syair itu melanjutkan dengan diagnosis yang lebih spesifik: ”Mereka akan selalu berusaha untuk mendapatkan kekuasaan, dan ditunjukkannya kepada semua orang. Mereka pula akan berusaha untuk mendapatkan kekayaan juga untuk ditunjukkan terhadap semua orang.” Perhatikan kata kuncinya: ditunjukkan. Bukan digunakan, bukan dimanfaatkan, melainkan ditunjukkan. Ini adalah akar dari apa yang hari ini kita kenal sebagai budaya pamer.
Orang yang sombong tidak mengumpulkan kekuasaan untuk melayani, tidak mengumpulkan kekayaan untuk memberi. Ia mengumpulkannya untuk memamerkan. Kekuasaan dan kekayaan bukanlah alat, melainkan panggung. Di atas panggung itu, ia berdiri dan berharap seluruh dunia menontonnya dengan decak kagum. Namun, syair ini segera menyingkap sisi gelap dari panggung itu: ”Sungguh mereka hanya akan mendapatkan rasa ketakutan yang berlebihan, mereka takut kehilangan kekuasaan dan takut kehilangan harta kekayaan.”
Inilah paradoks kedua: semakin tinggi seseorang membangun panggung, semakin dalam jurang yang menganga di bawahnya. Setiap pujian yang ia terima adalah batu yang mengokohkan panggung itu, tetapi juga menambah ketinggian yang bisa membuatnya jatuh. Setiap kekayaan yang ia kumpulkan adalah tembok yang melindunginya, tetapi juga penjara yang mengurungnya dalam kecemasan. Ia takut kehilangan. Dan ketakutan itu tidak pernah memberinya istirahat.
Dalam perspektif tasawuf, ketakutan ini adalah buah dari tawakal yang salah arah. Orang sombong bertawakal kepada kekuasaan dan kekayaannya sendiri, bukan kepada Allah. Ia menyandarkan rasa amannya kepada sesuatu yang pada hakikatnya fana’. Padahal, semua yang fana’ pasti akan lenyap. Maka, hidupnya adalah perlombaan melawan waktu, perlombaan yang pasti akan ia kalahkan. Ia seperti orang yang membangun istana di atas pasir dan berharap ombak tidak pernah datang. Setiap gemuruh ombak di kejauhan—setiap kritik, setiap saingan, setiap perubahan zaman—membuatnya gemetar. Ia tidak memiliki sandaran yang kokoh. Ia tidak memiliki al-Hafizh yang menjaga.
Fir’aun: Potret Paling Gelap dari Sebuah Hati yang Sombong
Untuk memperjelas potret ini, syair itu menampilkan sebuah cermin yang sangat gelap: “Lihatlah keadaan diri FIR’AUN yang menobatkan dirinya sebagai Tuhan, Yang menjadikan dirinya tempat meminta dari sebuah harapan.” Fir’aun adalah arketipe dari kesombongan yang mencapai puncaknya. Dalam Al-Qur’an, ia tidak hanya mengaku sebagai raja, tetapi sebagai Tuhan: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi” (QS. An-Nazi’at: 24).
Tetapi syair ini tidak berhenti pada klaim Fir’aun. Ia menyingkap sisi tersembunyi dari sang tiran: ”Tapi tahukah dirimu, tentang keadaan FIR’AUN yang sesungguhnya? Sungguh, dibalik kekuasaannya, sesungguhnya dalam hati FIR’AUN terselip rasa ketakutan yang teramat sangat.”
Ini adalah analisis psikologis yang sangat tajam. Di balik klaim ketuhanan, Fir’aun adalah makhluk yang paling ketakutan. Al-Qur’an merekam bagaimana Fir’aun bereaksi terhadap ramalan tentang kelahiran seorang bayi laki-laki yang akan menjatuhkannya. Apa yang dilakukan oleh seseorang yang mengaku sebagai Tuhan? Ia memerintahkan pembunuhan massal terhadap semua bayi laki-laki Bani Israil. Syair itu mengomentari dengan getir: ”Sampai-sampai semua bayi laki-laki dibunuhnya karena dia percaya terhadap peramal yang meramalkan dirinya akan terjatuh dari kursi kekuasaannya, untuk menjatuhkan kebesarannya.”
Tindakan ini adalah bukti paling gamblang dari ketakutan yang luar biasa. Fir’aun yang mengaku menguasai hidup dan mati, justru takut kepada seorang bayi yang belum lahir. Ia yang mengaku sebagai pemilik takdir, justru dihantui oleh sebuah ramalan. Ini adalah ironi yang paling menyedihkan: orang yang mengaku sebagai Tuhan adalah orang yang paling tidak memiliki rasa aman. Ia membunuh untuk mempertahankan ilusinya, tetapi setiap pembunuhan justru memperkuat ketakutannya. Setiap tetes darah yang ia tumpahkan adalah saksi bisu bahwa ia bukanlah Tuhan—sebab Tuhan tidak pernah takut.
Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi, dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, menulis bahwa Fir’aun adalah simbol dari nafs ammarah bi al-su’ (jiwa yang selalu memerintahkan keburukan) yang telah mencapai puncaknya. Ia adalah peringatan bagi setiap manusia tentang apa yang terjadi jika penyakit sombong tidak diobati. Namun, di balik itu, Al-Kamasykhanawi juga menunjukkan bahwa kehancuran Fir’aun bukanlah terutama karena kekuatan musuh-musuhnya, melainkan karena kekosongan di dalam dirinya sendiri. Ia jatuh bukan karena ditaklukkan, tetapi karena dibebani oleh ketakutannya sendiri.
Kerendahan Hati: Jalan Menuju Keamanan Sejati
Setelah melukiskan kegelapan yang pekat, syair ini beralih ke cahaya yang menyilaukan: “Bagi orang-orang yang menyukai hidup dengan kerendahan hati, sungguh mereka akan hidup tanpa ada rasa ketakutan.” Ini adalah kontras yang sangat tajam. Jika orang sombong hidup dalam ketakutan meskipun memiliki segalanya, orang yang rendah hati hidup dalam keamanan meskipun tidak memiliki apa-apa.
Mengapa demikian? Karena orang yang rendah hati tidak menggantungkan dirinya kepada sesuatu yang bisa hilang. Ia bersandar kepada Allah, al-Baqi, Yang Maha Kekal. Kekuasaan dan kekayaan bisa dicabut kapan saja, tetapi Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya yang tunduk. Syair itu menegaskan: “Mereka tidak akan pernah takut, biarpun harta benda dan kekuasaannya dicabut.”
Ini adalah buah dari tawakal sejati. Tawakal bukanlah pasrah yang kosong, melainkan ketenangan hati yang bersandar kepada Yang Maha Kuasa, disertai dengan usaha yang maksimal. Orang yang bertawakal tidak gelisah memikirkan masa depan, tidak menyesali masa lalu, dan tidak takut kepada makhluk. Hatinya seperti danau yang tenang, karena ia tahu bahwa ombak dan riak sekecil apa pun di permukaannya tidak terjadi tanpa izin dari Sang Penguasa danau.
Abu Nu’aim al-Ashfahani, dalam Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, merekam banyak kisah para wali yang hidup dalam ketenangan semacam ini. Salah satunya adalah kisah seorang sufi yang ditanya, “Apakah engkau tidak takut kelaparan?” Ia menjawab, “Bagaimana aku takut kelaparan, sementara Allah telah menjamin rezekiku sejak aku berada di dalam rahim ibuku? Aku lebih takut kepada kekhawatiran itu sendiri, karena ia meragukan jaminan Allah.”
Kisah ini adalah cermin dari apa yang dijanjikan oleh syair itu: ”Sungguh, kehidupan orang-orang yang rendah hati, akan selalu disertai cahaya Ilahi, dan mereka selalu mendapatkan perlindungan Allah. Mereka merasa aman, bersama perlindungan-Nya.” Cahaya Ilahi (nur al-ma’rifah) adalah penerang hati yang membuat seorang hamba melihat segala sesuatu sebagaimana adanya: bahwa kekuasaan dan kekayaan hanyalah titipan, bahwa pujian dan celaan hanyalah fatamorgana, dan bahwa satu-satunya yang abadi hanyalah Wajah-Nya.
Kontekstualisasi: Fir’aun-Fir’aun Kecil di Era Digital
Jika kita tarik benang merah ini ke zaman kita, potret Fir’aun tidak hanya ada di Mesir ribuan tahun yang lalu. Ia hadir dalam wujud yang lebih halus, lebih modern, dan lebih tersebar. Setiap orang yang menjadikan jumlah pengikut di media sosial sebagai ukuran harga diri adalah Fir’aun kecil. Setiap orang yang gelisah ketika postingannya tidak mendapat cukup like adalah Fir’aun kecil. Setiap pemimpin yang lebih sibuk membangun citra daripada melayani rakyatnya adalah Fir’aun kecil. Setiap orang kaya yang memamerkan hartanya bukan untuk memberi, melainkan untuk diakui, adalah Fir’aun kecil.
Mereka semua mungkin tidak mengaku sebagai Tuhan secara lisan. Tetapi secara spiritual, mereka telah menuhankan pujian, pengakuan, dan validasi dari sesama makhluk. Mereka telah menjadikan diri mereka sebagai pusat dari segala harapan, dan mereka diperbudak oleh kebutuhan akan pengakuan itu. Mereka adalah tawanan dari panggung yang mereka bangun sendiri.
Dan seperti Fir’aun, mereka semua menyimpan ketakutan yang tersembunyi. Di balik senyum di foto-foto Instagram, di balik pidato-pidato penuh percaya diri, di balik pamer kekayaan yang glamor, ada kecemasan yang menggerogoti: bagaimana jika suatu hari nanti tidak ada yang memujiku? Bagaimana jika jabatanku dicopot? Bagaimana jika hartaku habis? Bagaimana jika semua pengikutku pergi?
Mereka tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan tenang. Karena jawabannya terlalu menakutkan: _jika semua itu hilang, maka “aku” juga akan hilang._ Sebab “aku” yang mereka bangun selama ini bukanlah “aku” yang sejati, melainkan “aku” yang terbuat dari pujian, pengakuan, dan validasi. Ia adalah “aku” yang rapuh, yang akan runtuh begitu panggungnya runtuh.
Fana’ ul-Fana’: Mematikan Ego, Membebaskan Diri
Lalu, di manakah jalan keluarnya? Bagaimana kita bisa terbebas dari perbudakan kesombongan dan cengkeraman ketakutan? Jawabannya, dalam tradisi tasawuf, sangat radikal: fana’ ul-fana’.
Fana’ adalah proses peleburan ego. Dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, Al-Kamasykhanawi menguraikan tiga tingkatan fana’: fana’ fi al-af’al (lenyapnya penyaksian terhadap perbuatan selain Allah), fana’ fi al-sifat (lenyapnya penyaksian terhadap sifat selain Allah), dan fana’ fi al-dzat (lenyapnya penyaksian terhadap wujud selain Allah). Ketika seorang hamba mencapai fana’, ia tidak lagi memiliki “kekuasaan” atau “kekayaan” sebagai miliknya. Semuanya adalah milik Allah. Maka, bagaimana mungkin ia sombong terhadap sesuatu yang bukan miliknya? Dan bagaimana mungkin ia takut kehilangan sesuatu yang memang bukan miliknya?
Inilah rahasia mengapa para wali hidup tanpa ketakutan. Mereka telah melepaskan kepemilikan atas segalanya. Jika Allah memberi, mereka bersyukur. Jika Allah mengambil, mereka tetap tenang. Mereka bukan pemilik, melainkan hanya khalifah yang mengelola amanah. Fir’aun jatuh karena ia mengklaim sebagai pemilik. Para wali selamat karena mereka mengakui diri sebagai penjaga.
Namun, ada bahaya yang lebih halus. Setelah mencapai fana’, seorang hamba mungkin masih memiliki kesadaran: “Aku telah fana’. Aku telah rendah hati. Aku tidak lagi sombong seperti Fir’aun.” Kesadaran ini adalah residu ego yang paling halus. Ia adalah ‘ujb khafi—kesombongan tersembunyi yang memakai pakaian kerendahan hati. Inilah jebakan spiritual yang paling licik. Banyak pencari Tuhan yang terjebak di sini, merasa telah suci padahal justru di puncak kesucian itulah ego mereka menemukan bentuknya yang paling sublim. Maka, diperlukan fana’ ul-fana’: penghancuran terhadap kesadaran kefanaan itu sendiri. Al-Kamasykhanawi menyebutnya mahw al-mahw—penghapusan terhadap penghapusan. Dalam maqam ini, sang hamba tidak lagi merasa bahwa “aku telah rendah hati,” karena “aku” yang merasa rendah hati telah lenyap. Ia tidak lagi berkata, “aku tidak takut kehilangan,” karena “aku” yang berkata telah tiada. Yang ada hanyalah Allah, al-Mutakabbir, Yang Maha Besar. Dia yang memberikan keamanan kepada hamba-hamba-Nya yang telah lebur dalam samudra Wujud-Nya.
Ibn ‘Arabi, dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah, menulis sebuah kalimat yang bisa menjadi penutup dari seluruh perjalanan ini: “Fana’ adalah ketiadaanmu dalam dirimu; dan fana’ dari fana’ adalah ketiadaan pengetahuanmu tentang ketiadaanmu. Inilah baqa’ sejati, karena engkau tetap dalam Wujud al-Haqq tanpa dirimu.”
Di titik inilah, kesombongan dan ketakutan tidak lagi memiliki tempat berpijak. Sebab, siapa yang akan sombong jika “aku” sudah tidak ada? Siapa yang akan takut jika “aku” sudah lebur dalam Yang Maha Aman?
Jalan Pulang di Tengah Riuh Zaman
Syair yang telah kita kaji ini adalah kompas di tengah riuh rendah zaman. Ia tidak mengajak kita untuk meninggalkan dunia, tetapi untuk melihat dunia sebagaimana adanya: sebagai panggung sementara, sebagai amanah, bukan sebagai tujuan. Ia mengingatkan kita bahwa setiap kali kita merasa ingin memamerkan diri, setiap kali kita gelisah karena tidak diakui, setiap kali kita takut kehilangan apa yang kita miliki—maka di situlah kita sedang berada di jalur Fir’aun.
Sebaliknya, setiap kali kita mampu melepaskan, setiap kali kita tenang meskipun tidak dipuji, setiap kali kita tetap bersyukur meskipun kehilangan—maka di situlah kita sedang berjalan di jalur para wali, di jalur kerendahan hati, di jalur keamanan sejati.
Perjalanan ini panjang dan tidak mudah. Ia memerlukan latihan terus-menerus: latihan untuk tidak membalas pujian dengan kesombongan, latihan untuk tidak membalas celaan dengan kemarahan, latihan untuk melihat bahwa segala sesuatu adalah titipan, dan latihan untuk akhirnya melepaskan bahkan “aku” yang berlatih. Namun, bagi mereka yang sungguh-sungguh menempuhnya, Allah menjanjikan keamanan yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh kekuasaan maupun kekayaan: ”Mereka merasa aman, bersama perlindungan-Nya.”
Di tengah dunia yang semakin bising oleh pamer dan pengakuan, janji ini adalah oase yang sejuk. Sebab, pada akhirnya, yang kita butuhkan bukanlah like, bukan pujian, bukan kekuasaan, bukan kekayaan. Yang kita butuhkan hanyalah rasa aman. Dan rasa aman sejati hanya bisa ditemukan ketika kita melepaskan segala sesuatu, termasuk diri kita sendiri, ke dalam tangan-Nya.
Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Dan kita hanyalah hamba yang sedang belajar pulang ke dalam pelukan-Nya.
Wallahu a’lam bi al-shawab.



