Oleh: Hadipras
SURABAYAONLINE.CO – Kekuasaan tidak pernah takut pada besarnya jumlah massa; mereka hanya takut pada satu tuntutan yang konsisten. Ketika energi rakyat habis dikuras oleh kebisingan isu yang sengaja dialihkan, demo megah itu pun berubah menjadi sekadar festival tahunan—ramai di jalanan, namun tetap mandul di hadapan kebijakan.
Belakangan ini, jalanan kembali riuh. Mahasiswa turun ke jalan, klakson ojek online bersahutan, dan atribut berbagai organisasi masyarakat tampak memenuhi ruang publik. Semua bergerak membawa satu garis besar yang sama: mengkritik keras jalannya kekuasaan. Namun, jika kita cermat mengamati polanya, gerakan yang awalnya masif dan tampak solid ini sering kali perlahan gembos, kehilangan taji, atau mendadak berbelok arah di tengah jalan. Mengapa gerakan sipil yang begitu besar bisa menguap begitu saja?
Jawabannya jarang sekali berada di atas permukaan jalanan. Jawabannya ada pada operasi senyap yang bekerja di balik layar dengan satu doktrin utama: “Jangan sampai ada fokus!”
Dalam kacamata politik dan sosiologi, ancaman terbesar bagi sebuah status quo bukanlah jumlah massa yang berkumpul di lapangan, melainkan terjadinya kristalisasi agenda. Ketika mahasiswa yang membawa idealisme kelas menengah, pengemudi ojol yang merasakan langsung himpitan ekonomi harian, dan ormas yang memegang basis massa akar rumput mulai duduk di satu meja dan menyadari bahwa akar masalah mereka adalah sama, di situlah alarm bahaya bagi penguasa berbunyi. Momen bersatunya berbagai elemen lintas kelas ini merupakan upaya membangun blok historis yang solid. Jika elemen-elemen yang berbeda ini berhasil meleburkan ego sektoral mereka dan fokus pada satu narasi besar—seperti reformasi struktural atau keadilan ekonomi—maka kekuatan tersebut tidak akan bisa dibendung oleh represi fisik sekalipun.
Oleh karena itu, strategi penjinakan yang paling efektif bukanlah menghadapi massa dengan kekerasan di lapangan, yang justru berisiko menciptakan martir dan memicu solidaritas yang lebih luas. Penguasa yang cerdik akan menggunakan operasi kontra-intelijen politik berupa disrupsi dan penyesatan narasi. Tujuannya satu: mempertahankan kondisi masyarakat yang “terfragmentasi”, dimana tiap kelompok merasa nasib dan perjuangannya tidak saling berhubungan satu sama lain.
Taktik mengaburkan fokus gerakan kritis masyarakat ini bekerja melalui tiga instrumen utama yang saling berkelindan di lapangan. Pertama, melalui sektoralisasi isu atau kanibalisme agenda. Aktor intelijen tidak akan melawan semua kelompok sekaligus, melainkan mempreteli koalisi besar tersebut menjadi tuntutan-tuntutan kecil yang spesifik untuk masing-masing faksi. Kelompok pekerja transportasi ditarik dengan janji manis regulasi tarif atau subsidi instan, mahasiswa ditarik ke dalam perdebatan regulasi internal kampus atau janji audiensi formal, sementara tokoh-tokoh ormas didekati dengan tawaran konsesi lokal atau akomodasi politik. Begitu kepentingan jangka pendek masing-masing kelompok ini dinegosiasikan secara terpisah, koalisi besar itu akan pecah secara alami.
Kedua, operasi ini melibatkan infiltrasi dan pembusukan dari dalam melalui penyusupan agen penghasut. Tugas mereka bukan menghentikan demonstrasi secara frontal, melainkan membelokkan arah diskusi dalam rapat-rapat konsolidasi. Mereka sengaja memicu konflik horizontal antar-elemen dengan membenturkan isu idealis mahasiswa dengan isu pragmatis pekerja harian. Akibatnya, energi gerakan habis terkuras untuk saling curiga dan bertengkar di dalam rumah sendiri sebelum sempat maju ke medan laga.
Ketiga, di era digital yang serba cepat, memecah fokus dilakukan dengan menciptakan kebisingan informasi di ruang publik. Ketika publik mulai fokus mengkritik kebijakan negara, tiba-tiba jagat maya dibanjiri oleh narasi tandingan yang bombastis namun tidak substantif, mulai dari skandal buatan, konflik tokoh publik yang didramatisasi, hingga tuduhan bahwa gerakan tersebut ditunggangi aktor politik tertentu. Publik dan media akhirnya lelah memperdebatkan gosipnya, sementara substansi kritik aslinya terlupakan dan kehilangan momentum.
Kita juga harus berani melihat ke dalam dan melakukan otokritik terhadap struktur gerakan masyarakat sipil kontemporer yang memang memiliki kerentanan alami. Gerakan zaman sekarang cenderung bersifat tanpa pemimpin tunggal. Di satu sisi, model ini bagus untuk menghindari penangkapan tokoh kunci, namun di sisi lain, struktur yang terlalu longgar ini sangat rapuh karena tidak adanya komando tunggal yang bisa menjaga disiplin isu ketika dihantam hoaks atau adu domba.
Selain itu, ada faktor ketahanan logistik yang sangat tipis. Kelompok pekerja harian memiliki batas waktu bertahan yang sangat bergantung pada pemenuhan kebutuhan dapur sehari-hari. Strategi mengulur waktu yang dimainkan oleh penguasa akan dengan mudah merontokkan fokus dan napas perjuangan mereka. Kerentanan ini diperparah oleh jarak ideologis yang lebar antar-elemen. Menyatukan mahasiswa yang teoritis dengan ormas yang sering kali pragmatis atau berbasis primordial adalah hal yang rumit; sedikit provokasi saja sudah cukup untuk menyulut friksi di antara mereka.
Memahami taktik kontra-intelijen politik ini bukan untuk membuat kita menjadi paranoid, pesimistis, atau takut untuk bersuara. Sebaliknya, ini adalah bentuk literasi publik agar masyarakat tidak terus-menerus menjadi pion yang mudah digerakkan di atas papan catur kekuasaan.
Kekuasaan tahu betul bahwa kekuatan rakyat hanya ada pada persatuan dan konsistensi arah. Maka, senjata terbaik mereka bukanlah peluru, melainkan perpecahan dan kebingungan. Ketika jalanan kembali ramai, tantangan terbesar bagi setiap elemen gerakan bukanlah seberapa besar massa yang bisa dikumpulkan ke jalan, melainkan sanggupkah kita menjaga pikiran tetap waras, menurunkan ego kelompok, dan mengawal satu fokus perjuangan hingga akhir.



