Oleh: Hadipras 

SURABAYAONLINE.CO – Sejarah manusia adalah sejarah penaklukan. Kita pernah menaklukkan jarak dengan roda, menaklukkan kegelapan dengan api, dan menaklukkan ketidaktahuan dengan aksara. Namun, di tengah perjalanan peradaban, manusia menciptakan sebuah entitas yang awalnya diniatkan sebagai pelayan, tetapi kini justru bertransformasi menjadi ‘majikan tunggal yang mutlak: uang’.

Sejak lembaran Kode Hammurabi mencatat praktik riba di Mesopotamia sekitar 3000 SM, hingga Thales memonopoli alat pemeras zaitun di Yunani kuno, benih-benih “predasi finansial” sebenarnya telah tertanam. Manusia menemukan cara spekulatif agar “uang bisa membiakkan uang” tanpa perlu memeras keringat di ladang riil. Nilai waktu diperdagangkan melalui bunga; risiko masa depan ditebak lewat perdagangan derivatif. Apa yang semula merupakan alat tukar yang netral, pelan tapi pasti, bermutasi menjadi zat adiktif (candu) yang mengendalikan kesadaran kolektif kita. Pertanyaannya yang mencemaskan adalah: entah sampai kapan kita bersedia mendewakan angka-angka kosong ini?

Di era modern, dominasi uang tidak lagi berjalan secara konvensional, melainkan mewujud dalam sebuah “ekosistem yang terstruktur rapi dan brutal”. Dalam lanskap ekonomi-politik kontemporer, kita menyaksikan bagaimana uang mengawini kekuasaan untuk menciptakan sebuah “hierarki predator”.

Sistem otoritarian bertindak sebagai penyedia “kandang”—menjamin stabilitas semu dan membungkam nalar kritis ruang sipil atas nama “kepastian investasi”. Di dalam kandang yang aman inilah, para oligarki kapitalis (the sharks) berenang bebas. Mereka tidak lagi sibuk membangun pabrik yang menyerap tenaga kerja atau memikirkan gizi buruh yang kian menyusut. Mengapa harus lelah berproduksi jika proses finansialisasi (financialization) menawarkan keuntungan berlipat-lipat lewat spekulasi di atas kertas dan instrumen derivatif? Ini adalah era “accumulation by dispossession”—akumulasi kekayaan melalui perampasan hak-hak publik dan penguasaan regulasi negara (state capture).

Celakanya, struktur predator ini tidak bekerja sendiri di ruang hampa. Di menara-menara gading akademis dan koridor birokrasi, berdirilah para teknokrat dan ekonom neoliberal—yang dalam istilah yang lebih lugas sering kita sebut sebagai “gedibal” atau kacung rentenir. Dengan narasi ilmiah yang dibungkus angka-angka pertumbuhan ekonomi, mereka melegitimasi kebijakan fiskal yang ketat, privatisasi aset publik, dan deregulasi yang mengebiri perlindungan sosial. Mereka mengkhianati amanat konstitusi demi memuaskan nafsu pasar bebas yang rakus.

Dampaknya sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Struktur sosial kita hari ini melahirkan generasi yang compang-camping secara mental namun dipaksa tampil mentereng; kaum proletar berjas yang sibuk mengejar ilusi kemakmuran demi membayar cicilan yang tiada habisnya. Uang telah berhasil mendikte definisi kebahagiaan, kesuksesan, bahkan kehormatan seseorang. Hubungan antarmanusia tidak lagi didasari oleh ketulusan rasa atau nilai-nilai luhur kemanusiaan, melainkan dikalkulasi secara transaksional: “Apa untungnya saya mengenal Anda?”

Di Indonesia pasca-Orde Baru, kita melihat paradoks ini secara telanjang. Runtuhnya rezim otoriter 1998 yang semula diharapkan membawa fajar demokrasi, justru menjadi lahan subur baru bagi konsolidasi oligarki. Desentralisasi yang diniatkan untuk mendekatkan kesejahteraan ke daerah, malah mendirikan “bengkel-bengkel” predator baru di tingkat lokal. Hiu-hiu kecil bermunculan di daerah, memangsa sumber daya alam dan meminggirkan masyarakat adat demi lembaran-lembaran rupiah.

Lantas, sampai kapan tirani uang ini akan menguasai kehidupan manusia?

Selama kita masih mengukur peradaban hanya dari angka Produk Domestik Bruto (PDB), selama komodifikasi merambah ke ruang paling privat seperti pendidikan dan kesehatan, dan selama para pengambil kebijakan lebih takut pada sentimen pasar saham ketimbang jeritan perut rakyat, maka perbudakan modern ini tidak akan pernah usai. Manusia akan tetap menjadi sekadar sekrup kecil dalam mesin kapitalisme global yang dingin.

Uang, yang sejatinya hanyalah kesepakatan sosial di atas secarik kertas atau digit di layar gawai, telah menjelma menjadi berhala modern yang menuntut tumbal harian berupa moralitas, keadilan, dan kemanusiaan kita. Jika nalar sehat (akal budi) dan perlawanan kultural tidak segera dibangkitkan untuk merobohkan menara berhala ini, kita akan terus berjalan dalam kegelapan—menjadi budak dari ciptaan kita sendiri, entah sampai kapan.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version