SURABAYAONLINE.CO – Di tengah derasnya arus digital yang sering kali menjadikan generasi muda lebih dekat dengan budaya konsumsi daripada budaya produksi pengetahuan, hadirnya ratusan karya santri dari IBS PKMKK Pamekasan Madura menjadi fenomena sosial dan intelektual yang menarik untuk dibaca secara lebih mendalam. IBS PKMKK merupakan singkatan dari Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning.

“Pada awal Mei 2026, IBS PKMKK Pamekasan kembali merilis sembilan karya terbaru santri, sebuah capaian yang bukan sekadar aktivitas seremonial literasi, tetapi penanda lahirnya kesadaran baru dalam dunia pendidikan pesantren, bahwa santri tidak hanya menjadi pembaca teks, tetapi juga pencipta teks,” ujar Heni Listiana, Dosen Pascasarjana UIN Madura.

Anggota Senat UIN Madura itu mengungkapkan, salah satu karya yang mencuri perhatian adalah novel berbahasa Inggris berjudul Moonstruck With You karya ketiga dari Naurah Resa Alana dengan nama pena Sang Kinasih. Kehadiran karya ini memperlihatkan bahwa ruang literasi pesantren tidak lagi dibatasi oleh sekat bahasa lokal maupun nasional, tetapi mulai bergerak menuju ruang global.

Sementara delapan karya lain yang ditulis dalam bahasa Indonesia, antara lain Masa Depan karya Moh Farel Ardan, Siapa yang Mencuri Bayanganku karya Balqis Firdaus, Uncovering The Secrets of Death karya Akvi Karomatin Aini, Fiat Justitia “Runtuhnya Langit Kono” karya kedua Sherin Safitri, Gema Tanpa Suara karya Syifatul Fajariyah, Sunya-Arka karya ke dua dari Tria Fahira Nuramaja, Gema Sunyi di Langit Anantara karya Hilya Zariratu Ilmina, serta A Whistle Blower karya Tuhfah el Zaheera Rambe, menunjukkan keragaman imajinasi, tema, dan orientasi berpikir santri yang semakin kompleks.

“Fenomena ini tidak dapat dipahami hanya sebagai keberhasilan individu dalam menulis buku, ia merupakan hasil dari konstruksi budaya literasi yang dibangun secara sistematis di lingkungan IBS PKMKK Pamekasan. Dalam perspektif Pierre Bourdieu, karya-karya tersebut dapat dibaca sebagai bentuk akumulasi modal kultural yang ditanamkan melalui proses pendidikan. Santri tidak hanya diajarkan membaca kitab atau memahami teori, tetapi juga dibiasakan untuk mengartikulasikan gagasan mereka dalam bentuk tulisan yang terpublikasi secara resmi,” ujarnya.

Selama kurang lebih empat tahun, IBS PKMKK Pamekasan telah menerbitkan total 206 karya santri ber-ISBN melalui penerbit resmi di Indonesia, dan 26 di antaranya ditulis dalam bahasa Inggris. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan indikator transformasi budaya pendidikan. Dalam konteks masyarakat pesantren yang selama ini lebih dikenal dengan tradisi lisan dan transmisi keilmuan berbasis talaqqi, munculnya ratusan buku santri menunjukkan adanya pergeseran epistemologis, dari budaya menerima pengetahuan menuju budaya memproduksi pengetahuan.

Menurut Direktur Pengembangan Life Skiil dan Soft Skill IBS PKMKK itu, fenomena ini juga memiliki dimensi psikologis yang sangat penting. Menulis buku pada usia muda bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi proses pembentukan identitas diri. Ketika seorang santri menulis, sesungguhnya ia sedang belajar memahami dirinya sendiri, menyusun pengalaman batinnya, dan menegosiasikan posisinya di tengah realitas sosial. Dalam perspektif Erik Erikson, masa remaja merupakan fase pencarian identitas. Melalui karya tulis, santri memperoleh ruang untuk mengekspresikan kecemasan, harapan, imajinasi, bahkan kritik sosial mereka secara konstruktif.

Judul-judul karya yang lahir dari santri IBS PKMKK Pamekasan, memperlihatkan dinamika psikologis generasi muda hari ini. Gema Tanpa Suara dan Gema Sunyi di Langit Anantara, misalnya, merepresentasikan pergulatan batin tentang kesunyian, pencarian makna, dan kebutuhan untuk didengar. Sementara Siapa yang Mencuri Bayanganku dapat dibaca sebagai metafora tentang identitas dan kehilangan diri dalam dunia yang penuh tekanan sosial.

Di sisi lain, Fiat Justitia “Runtuhnya Langit Kono” dan A Whistle Blower menunjukkan kesadaran kritis terhadap keadilan dan moralitas sosial. Artinya, karya-karya tersebut tidak lahir dari ruang kosong, tetapi dari proses interaksi antara pengalaman personal dan realitas sosial yang mereka hadapi.

Yang menarik, kata Heni, IBS PKMKK Pamekasan tampaknya tidak menjadikan literasi sekadar program tambahan, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pendidikan. Di sinilah letak transformasinya. Pesantren tidak lagi diposisikan hanya sebagai ruang reproduksi tradisi, tetapi juga sebagai laboratorium kreativitas intelektual. Tradisi membaca kitab kuning tidak ditinggalkan, tetapi diperluas menjadi kemampuan membaca realitas dan menuliskannya kembali dalam bahasa generasi baru.

Keberhasilan ini menunjukkan pentingnya lingkungan yang memberikan psychological safety atau rasa aman psikologis. Santri yang merasa dihargai gagasannya akan lebih berani menulis dan mengekspresikan diri. Dukungan guru, pengelola, dan budaya institusi menjadi faktor penting yang memungkinkan kreativitas tumbuh tanpa rasa takut dihakimi. Ketika santri diberi ruang untuk salah, bereksperimen, dan berkembang, maka potensi intelektual mereka akan muncul secara lebih alami.

Fenomena 206 karya santri ini juga memperlihatkan bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya proses transfer ilmu, tetapi proses melahirkan suara. Buku-buku tersebut adalah suara generasi muda pesantren yang selama ini mungkin tidak terdengar di ruang publik nasional. Mereka berbicara tentang masa depan, kematian, keadilan, kesunyian, cinta, dan identitas, tema-tema universal yang menunjukkan bahwa santri tidak hidup dalam keterasingan dari dunia modern, tetapi justru sedang berdialog dengannya.

Kehadiran 26 karya berbahasa Inggris dalam kurung waktu empat tahun, menunjukkan bahwa IBS PKMKK Pamekasan Madura, sedang membangun kesadaran global tanpa kehilangan akar lokal. Ini penting dalam konteks dunia yang semakin terhubung. Bahasa Inggris tidak lagi hanya dipahami sebagai alat komunikasi internasional, tetapi juga sebagai medium untuk membawa identitas pesantren ke panggung dunia. Santri tidak hanya belajar menjadi konsumen peradaban global, tetapi juga produsen gagasan yang dapat berkontribusi pada percakapan global.

Dijelasakan, fenomena literasi di IBS PKMKK Pamekasan Madura adalah cermin dari perubahan sosial yang lebih luas dalam dunia pendidikan Islam, ia menunjukkan bahwa pesantren mampu bertransformasi tanpa kehilangan ruhnya. Di tangan generasi muda ini, pena menjadi lebih dari sekadar alat menulis, ia menjadi simbol keberanian berpikir, kebebasan berekspresi, dan harapan akan masa depan intelektual yang lebih terbuka.

“Jika selama ini pesantren sering dipersepsikan sebagai ruang yang hanya menjaga tradisi, maka IBS PKMKK Pamekasan Madura memperlihatkan wajah lain, bahwa pesantren sebagai ruang penciptaan peradaban literasi, di antara halaman-halaman buku yang ditulis para santri itu, sedang tumbuh generasi baru yang kelak tidak hanya membaca sejarah, tetapi juga menuliskannya,” tukasnya.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version