Oleh: Hadipras
SURABAYAONLINE.CO – Dalam jagat politik dan ekonomi kita belakangan ini, perdebatan sering kali terjebak pada dikotomi yang tajam: antara mereka yang melihat “Indonesia Terang” dan mereka yang berteriak tentang “Indonesia Gelap”.
Ketika kritik dibalas dengan anjuran untuk “pindah negara”, atau ketika angka-angka statistik diproyeksikan secara bombastis, kita sebenarnya sedang menyaksikan sebuah gejala sosiologis yang mendalam. Ada jurang persepsi yang kian lebar antara mereka yang berada di puncak menara kekuasaan dengan rakyat biasa yang berjalan di atas tanah realitas.
Bagi komunitas warung kopi, pergumulan ini bukan sekedar soal siapa yang paling benar, melainkan soal keberanian untuk mengakui bahwa “the truth is out there”—bahwa kebenaran sejati itu ada di luar sana, berceceran di pasar-pasar yang sepi, di pabrik-pabrik yang merumahkan buruhnya, dan di piring nasi keluarga yang kian tipis.
Lalu perdebatan melahirkan pergumulan antara harapan dan halusinasi angka. Salah satu contoh yang paling menarik untuk dibedah adalah ketika otoritas keuangan melontarkan proyeksi yang sangat ambisius. Di tengah kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi tajam—misalnya dari level 9.000 jatuh ke kisaran 7.000—muncul narasi bahwa dalam waktu singkat angka tersebut akan melonjak drastis ke level 28.000 pada tahun 2029-2030.
Secara teknis, kita patut bertanya: adakah preseden di dunia ini di mana bursa saham sebuah negara mampu melonjak empat kali lipat hanya dalam hitungan tahun tanpa didorong oleh hiperinflasi atau gelembung ekonomi yang berbahaya?
Proyeksi semacam ini sering kali berada di persimpangan jalan: apakah ini bentuk keputusasaan untuk menahan arus modal, ataukah kewajiban seorang menteri untuk menebar optimisme super meskipun sulit dinalar dengan nalar ekonomi
Ketika harapan dibangun di atas pondasi yang tidak realistis, ia bukan lagi penyemangat, melainkan berisiko menjadi “halusinasi kebijakan” yang merusak kredibilitas pemerintah di mata rakyat yang kian kritis.
Tarik menarik antara harapan dan halusinasi angka memberikan jarak pandang yang bias karena dipengaruhi harta, kuasa, dan kepekaan. Memang benar, posisi sosial dan penguasaan harta sering kali mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup. Mereka yang berada di dalam lingkar kekuasaan cenderung berjalan dalam situasi yang “serba ada”, sehingga sering kali gagal menangkap frekuensi kegelisahan rakyat yang hanya bisa menggerutu tanpa daya.
Rakyat kecil merasakan bahwa politik sering kali berisi klaim tanpa transparansi. Filosofi “the truth is out there” mengingatkan kita untuk tidak mudah puas dengan narasi siapa pun. Kita ditantang untuk mencari fakta: membandingkan indikator objektif dari sumber terpercaya dan tetap setia pada akal sehat, bukan pada kepatuhan buta.
Bagi komunitas warung yang suka ngobrol kritis tanpa beban, melihat jarak pandang yang kontras lebih bersikap pasrah dalam kejengkelan: “Wis sak karep-karepmu Bro”.
Di saat para elit bertarung narasi tentang angka dan proyeksi masa depan, rakyat biasa sering kali dipaksa berakhir seperti “zombie” yang berjalan tanpa arah yang jelas. Mereka memilih filosofi “urip asal ngglundung”—hidup sekedar mengalir mengikuti arus karena merasa suara mereka tak lagi punya daya ubah.
Warung kopi kemudian menjadi benteng terakhir. Di sana, mereka tertawa dan berkelakar bukan karena bahagia, melainkan sebagai cara untuk melupakan kesedihan dan harapan-harapan yang sering kali berakhir suram. Di tengah kepulan asap rokok dan aroma kopi murah, mereka mencoba mentertawakan ketidaklogisan angka-angka yang dilemparkan dari menara gading.
Tugas kita adalah memastikan bahwa kebenaran tidak hanya menjadi milik mereka yang duduk di kursi empuk, tetapi juga bisa dirasakan manfaatnya oleh mereka yang duduk di lincak warung kopi.
Sebab, sebuah negara tidak akan pernah benar-benar “terang” jika cahayanya hanya menyilaukan mata yang di atas, sementara yang di bawah dibiarkan berjalan dalam kegamangan.
Dan “the truth is out there” akan terungkap dalam keyakinan Jawa tentang “titi kala mangsa”: akhir kejahatan menunggu waktu yang tepat menurut takdir/semesta.



