SURABAYAONLINE.CO, Surabaya – RSUD dr Soetomo mencatatkan terobosan dalam layanan kesehatan jiwa dengan melaksanakan tindakan Stereotactic Capsulotomy, yang merupakan prosedur psychosurgery pertama di Indonesia. Tindakan ini dilakukan di Ruang Operasi Graha – STOC RSUD dr. Soetomo pada Rabu (22/4).

Tindakan tersebut dapat terlaksana karena adanya kerja sama lintas negara di bidang pendidikan, pelayanan dan penelitian dengan West China Hospital. Sichuan University, Chengdu, Cina.

“Kami menyambut baik kerja sama dengan West China Hospital sebagai salah satu pusat layanan kesehatan terkemuka dunia. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas sumber daya manusia, meningkatkan kompetensi tenaga medis, serta mempercepat transfer teknologi dalam bidang bedah saraf dan kesehatan jiwa. Kerjasama ini akan membuka peluang peningkatan mutu layanan kesehatan bertaraf Internasional di Jawa Timur sesuai dengan arahan Ibu Gubernur,” ujar Direktur RSUD dr Soetomo Cita R.S. Prakoeswa.

Ia menambahkan bahwa pelaksanaan tindakan psychosurgery ini merupakan wujud komitmen RSUD Dr. Soetomo dalam menghadirkan layanan kesehatan yang inovatif dan berbasis multidisiplin. “Ini adalah langkah maju dalam pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia. Kami berupaya memberikan pilihan terapi terbaik bagi pasien, khususnya yang tidak merespons pengobatan konvensional, dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan dan etika medis,” tambahnya.

Tindakan operasi dilaksanakan secara multidisiplin, melibatkan tim dari berbagai bidang, yakni bedah saraf, psikiatri, anestesi, serta psikologi klinis.

Prosedur tersebut diterapkan pada dua pasien bersaudara asal Malang yang sama-sama didiagnosis mengalami skizofrenia paranoid resisten terapi. Pasien pertama merupakan laki-laki berusia 30 tahun, sementara pasien kedua adalah perempuan berusia 27 tahun.

Tim medis menyampaikan bahwa kedua pasien sebelumnya telah menjalani berbagai terapi standar, namun belum menunjukkan perbaikan signifikan. Terutama terkait gejala agresivitas dan halusinasi yang dominan. Kondisi tersebut menjadi dasar pertimbangan dilakukannya tindakan Stereotactic Capsulotomy sebagai langkah lanjutan.

Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP), dr. Azimatul Karimah, SpKJ (K), menjelaskan bahwa tindakan ini menjadi salah satu opsi terapi lanjutan bagi pasien dengan kondisi resisten.

“Pasien dengan skizofrenia paranoid resisten terapi sering kali mengalami hambatan dalam pengendalian gejala, meskipun telah mendapatkan pengobatan optimal. Melalui tindakan Stereotactic Capsulotomy ini, kami berharap dapat membantu mengurangi gejala dominan seperti agresivitas dan halusinasi, sehingga kualitas hidup pasien dapat meningkat,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa pemilihan tindakan ini telah melalui proses asesmen yang ketat dan melibatkan berbagai disiplin ilmu. “Pendekatan multidisiplin sangat penting untuk memastikan bahwa tindakan yang diberikan benar-benar sesuai indikasi dan dilakukan dengan standar keamanan yang tinggi,” tambahnya.

Stereotactic Capsulotomy merupakan prosedur bedah saraf yang dilakukan secara presisi dengan menargetkan area tertentu pada otak yang berperan dalam regulasi emosi dan perilaku. Melalui teknik ini, diharapkan terjadi perbaikan pada gejala utama pasien, khususnya perilaku agresif serta halusinasi yang selama ini sulit dikendalikan dengan terapi konvensional.

Pelaksanaan tindakan ini melibatkan kolaborasi erat antar tenaga medis dari berbagai disiplin ilmu. Sinergi tersebut dinilai menjadi kunci dalam memastikan keamanan prosedur sekaligus memaksimalkan hasil terapi bagi pasien.

Pihak RSUD Dr. Soetomo menyampaikan bahwa keberhasilan pelaksanaan tindakan ini menjadi langkah awal dalam pengembangan layanan kesehatan jiwa berbasis teknologi dan pendekatan multidisiplin di Indonesia. Ke depan, inovasi ini diharapkan dapat menjadi alternatif terapi bagi pasien dengan kondisi serupa yang tidak merespons pengobatan standar.(*)

 

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version