Oleh: Gatot Sundoro
SURABAYAONLINE.CO – Setelah menunaikan puasa di bulan ramadhan yang dilakukan selama sebulan penuh, diakhiri dengan merayakan hari raya idul Fitri pada tanggal 1 Syawal (20 atau 21 Maret 2026), umat Islam dianjurkan untuk m ujielakukan ibadah puasa Syawal.
Dalam Islam, puasa ini hukumnya sunnah dan menjadi bentuk penyempurnaan dari ibadah puasa di bulan ramadhan.
Keutamaan puasa Syawal bahkan telah dijelaskan langsung dalam hadits Rasulullah Saw:” Barangsiapa yang berpuasa ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka baginya (ganjaran) puasa selama setahun penuh.” (HR. Musim)
Keutamaan ini juga berkaitan dengan pahala yang digandakan dalam Islam.
Perbuatan/amal yang baik, maka ALLOH SWT akan mencatatnya 10 kali hingga 700 kali lipat, bahkan lebih….(HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, puasa selama 30 hari di bulan ramadhan setara dengan 300 hari, bila ditambah 6 hari puasa Syawal setara dengan 60 hari. Jadi total menjadi 360 hari; Sehingga menurut hadits Muslim, seolah olah telah berpuasa sepanjang tahun (sepanjang masa).
Keutamaan itu semua belum termasuk puasa Sunnah lainnya yang dianjurkan dalam Islam, seperti puasa Daud, puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul bidh (tanggal 13,14 dan 15 setiap bulan), puasa Arafah dan puasa Asyura.
Jika seluruh amalan itu dijalankan, maka pahala yang diperoleh akan jauh melampaui nilai puasa selama satu tahun.
Puasa Syawal selama 6 hari yang lebih afdhol, dilaksanakan setelah tanggal 1 Syawal, yaitu tanggal 2 Syawal sampai dengan tanggal 7 Syawal. Namun demikian boleh juga dilakukan tidak berurutan selama masih bulan Syawal. Hal ini memberikan kemudahan bagi siapa saja yang ingin meraih keutamaannya.
Bagi yang berhalangan syar’i (sakit, safar, dll) ataupun haid atau nifas bagi wanita; sebagian ulama membolehkan menggabungkan niat qadha puasa ramadhan dengan puasa Syawal, sehingga mendapatkan keutamaan pahala yang dijanjikan.


