SURABAYAONLINE.CO – Delegasi Usanita Sdn.Bhd (USANITA) yang dipimpin langsung Datuk Adzliana Hasan, Chief Executive Officer-nya mengunjungi Konsulat Jenderal Malaysia di Istanbul, Turki (Rabu (14/1/26)
Kunjungan ke Konsulat Jendral Malaysia di Istanbul merupakan pelaksanaan program Bridge to Brilliance (BtB) 5.0 di Turki. Program aksi ini untuk memperluas jalur kerja sama bisnis dan penguatan akses “Halal Modest Fashion (HMF)” ke pasar global. Sekaligus memperkuat sinergi lintas negara yang telah dibangun bersama mitra di Indonesia sejak BtB 2.0.
Untuk memperluas dampak, USANITA menjalankan program profil tinggi, termasuk Bridge to Brilliance (BtB), serta kolaborasi pendidikan eksekutif melalui MoU dengan Saïd Business School, University of Oxford – London, Inggris Raya.
BtB merupakan platform pengembangan dan perluasan jejaring internasional USANITA yang berkembang bertahap melalui Malaysia (BtB 1.0), Indonesia (BtB 2.0), United Kingdom (BtB 3.0), New Zealand / Australasia (BtB 4.0), dan kini Türki (BtB 5.0) dengan fokus menghubungkan merek, pelaku usaha, mitra strategis, serta saluran pasar untuk ekspansi internasional.
USANITA Sdn. Bhd. merupakan platform pemberdayaan yang memperkuat ekosistem wirausaha melalui kemitraan strategis, pendampingan, serta komunitas anggota, dan juga menjalankan inisiatif sosial untuk kelompok sasaran.
Selain itu, juga aktif dalam pengelolaan acara melalui lokakarya, ekspo, dan karnaval, dengan pengembangan modal insan sebagai pilar utama guna mendukung nilai dan kesejahteraan kolektif masyarakat.
Halal Modest Fashion Bernilai Tinggi
Datuk Adzliana Hasan menegaskan, Indonesia merupakan mitra utama dalam pengembangan HMF, karena memiliki ekosistem modest fashion yang kuat. Selain itu, Indonesia juga mempunyai jaringan pelaku industri yang luas, serta pengaruh budaya dan digital yang besar di kawasan. Dengan demikian, kolaborasi Indonesia – Malaysia diharapkan kian mampu mempercepat perluasan HMF di tingkat regional maupun global.
Inisiatif BtB 5.0 diharapkan menambah kuat manfaat hubungan Malaysia–Turki. Kunjungan Perdana Menteri (PMX) Malaysia ke Turki pekan lalu mencanangkan target baru perdagangan bilateral US$10 miliar. Maknanya, terbuka peluang kemitraan dalam jalinan rantai pasok dan akses pasar yang perlu dimanfaatkan pelaku usaha Indonesia dan Malaysia melalui jejaring yang telah dibangun melalui program BtB.
“Secara global, tren modest fashion semakin dipacu oleh permintaan konsumen yang menekankan kehalalan bahan, keterlacakan rantai pasok, serta praktik kerja yang etis, sehingga HMF diposisikan sebagai sektor bernilai tinggi berbasis kepercayaan,” jelas Datuk Adzliana Hasan.
Data USANITA menunjukkan, proyeksi industri belanja konsumen Muslim untuk kategori pakaian dan alas kaki mencapai US$327 miliar pada 2023. Diperkirakan belanja konsumen tersebut akan meningkat menjadi US$433 miliar pada 2028. Maknanya, peluang pasar untuk HMF melalui strategi ekspor dan kolaborasi lintas negara, kian besar dan luas.
Menurut Datuk Adzliana Hasan, Turki dipilih sebagai lokasi BtB 5.0 karena kekuatan ekonomi, reputasi industri fesyen, pengaruh budaya, serta posisinya yang semakin kuat, menghubungkan Eropa dan Timur Tengah. Turki, tambahnya, dapat mendukung perluasan jaringan HMF dari rantau Asia Tenggara ke pasar yang lebih luas.
“BtB 5.0 di Turki bukan sekadar kunjungan bisnis, melainkan platform strategis yang menghubungkan diplomasi ekonomi, penguatan merek, dan industri kreatif, sekaligus membuka ruang kerja sama yang lebih kuat bagi mitra kami di Indonesia dan Malaysia,” ujarnya.
Inisiatif BtB Jalur Kerjasama
Selaras dengan hal tersebut, menurut Konsul Jenderal Malaysia di Istanbul Ahmad Amiri Abu Bakar, para pengusaha Malaysia harus memanfaatkan peluang ini untuk mengeksplorasi potensi bisnis di Istanbul. Khasnya di sektor fesyen, akomodasi, serta penyediaan makanan Malaysia.
“Kami menyambut baik inisiatif USANITA untuk mengeksplorasi peluang bisnis di Istanbul. Kami yakin program ini dapat diwujudkan karena hubungan baik para pemimpin kedua negara serta persepsi positif masyarakat Turki terhadap Malaysia,” katanya.
Amiri menambahkan, pada 2024, Turki merupakan mitra dagang ketiga terbesar Malaysia di Asia Barat dengan total perdagangan sebesar RM24,15 miliar (sekitar US$5,28 miliar), sekaligus menjadi tujuan ekspor terbesar dan sumber impor keempat terbesar Malaysia di kawasan Asia Barat.
Ia menambahkan, Turki memiliki potensi peluang yang besar bagi para pengusaha Malaysia, sejalan dengan keyakinan PMX Malaysia Anwar Ibrahin bahwa target baru perdagangan bilateral Malaysia–Turki sebesar US$10 miliar dapat dicapai dalam beberapa tahun ke depan.
Pada kesempatan dialog dengan Konsul Jendral Malaysia dan mitra bisnis di Istanbul, Datuk Adzliana menyampaikan pula, label fesyen internalnya, “Amber,” akan bekerja sama – berkolaborasi dengan mitra strategis di berbagai pasar Muslim, khasnya Indonesia dan Turki. Tanpa kecuali untuk menjalankan program penguatan merek dan perluasan pasar di bawah kerangka BtB.
Selain fesyen, USANITA meletakkan inisiatif BtB sebagai jalur kerja sama memperluas peluang dalam ekosistem halal yang lebih luas, termasuk makanan dan produk halal lainnya. Hal tersebut sejalan dengan upaya Malaysia memperkuat posisinya sebagai hab halal global dan membuka ruang kolaborasi yang saling menguntungkan dengan mitra di Indonesia.
Sebagai bagian dari aktivasi BtB 5.0, USANITA juga mendukung promosi Visit Malaysia 2026, melalui kegiatan kreatif dan produksi konten media di Istanbul. Untuk pelaksanaan proyek ini, USANITA melibatkan delegasi dengan lebih dari 40 orang, termasuk selebritas Malaysia dan kru produksi drama. Proyek ini dipandang penting, guna memperluas jangkauan promosi dengan pendekatan budaya dan industri kreatif. | atoksem


