SURABAYAONLINE.CO, Malang – Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar Health Science International Conference (HSIC), Kamis (18/9).

Konferensi ilmiah yang telah memasuki tahun keempat ini menjadi ajang pertukaran gagasan para akademisi dunia terkait pengembangan ilmu kesehatan, khususnya pemanfaatan teknologi terapan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Dekan FIKES UMM, Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom., menjelaskan konferensi ini mengusung tema seputar kesehatan berkelanjutan yang berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). “HSIC ini sebagai wujud kepedulian FIKES UMM terhadap permasalahan kesehatan, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di ranah global. Fokus kami bagaimana teknologi dapat mendukung kesehatan masyarakat secara berkesinambungan,” ujarnya.

Salah satu isu yang mengemuka dalam HSIC 2025 adalah pemanfaatan teknologi modern, seperti Artificial Intelligence (AI) dan Virtual Reality (VR), untuk intervensi kesehatan.

Contohnya adalah pemanfaatan VR dalam membantu penderita dimensia, terutama lansia, agar tetap mendapatkan stimulus kognitif yang memadai.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada 2022 terdapat lebih dari 55 juta orang di dunia hidup dengan dimensia, dan angka ini terus bertambah seiring peningkatan populasi lanjut usia. Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan memperkirakan jumlah penderita dimensia mencapai lebih dari 1 juta jiwa, yang berpotensi meningkat dua kali lipat pada tahun 2030.

Ketua panitia HSIC, Muhammad Muslih, Ph.D., menambahkan bahwa konferensi ini menghadirkan narasumber dari berbagai negara, termasuk Taiwan, Australia, dan Thailand.

“Tahun ini jumlah peserta mencapai sekitar 60 akademisi dari berbagai perguruan tinggi. Mereka membahas beragam inovasi, mulai dari terapi berbasis cahaya hingga implementasi machine learning di bidang kesehatan,” ungkapnya.

Riset Light Therapy untuk Lansia

Salah satu paparan menarik disampaikan dosen Keperawatan FIKES UMM, Nur Aini, M.Kep., Ph.D., yang memaparkan hasil risetnya tentang The Effects of Light Therapy. Ia menekankan bahwa penderita dimensia sering mengalami gangguan tidur, perubahan suasana hati, serta kebingungan, terutama menjelang malam hari.

“Terapi cahaya atau Light Therapy terbukti dapat membantu mengurangi gangguan tersebut. Di negara tropis seperti Indonesia, terapi ini bisa dilakukan secara alami dengan berjemur matahari pagi 30 menit, antara pukul 7–9. Namun, di negara empat musim, teknologi lampu khusus yang dapat diatur intensitasnya menjadi solusi,” jelasnya.

Nur Aini menambahkan, riset berbasis meta-analisis menunjukkan bahwa terapi cahaya mampu meningkatkan kemampuan kognitif, memperbaiki pola tidur, sekaligus menurunkan stres pada lansia. Hal ini sejalan dengan penelitian internasional, termasuk studi yang dipublikasikan di Journal of Alzheimer’s Disease, yang menyebut Light Therapy efektif mengurangi gejala sundowning—kebingungan yang dialami penderita dimensia saat sore hingga malam hari.

Konferensi HSIC FIKES UMM tidak hanya menjadi ruang presentasi riset, tetapi juga forum kolaborasi antarilmuwan dari berbagai belahan dunia. Dengan keterlibatan peneliti internasional, konferensi ini diharapkan mampu memperkuat jejaring akademik sekaligus menghasilkan solusi nyata atas tantangan kesehatan global.

“Harapan kami, HSIC menjadi wadah lahirnya gagasan inovatif yang bisa diterapkan, terutama dalam penanganan masalah kesehatan lansia, penyakit kronis, maupun pemanfaatan teknologi terapan di era digital,” pungkas Prof. Yoyok. (sap)

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version