SURABAYAONLINE.CO – Akhirnya semua lebih terang bagiku setelah tadi malam berkomunikasi dengan kolega yang mengajar di Sesko TNI dan beberapa rekan jurnalis investigasi seputar perkara manuver Brimob dan Densus 88 di komplek Kejagung beberapa hari lalu.
Peristiwa Jumat malam 24 Mei, dimana beberapa mobil rantis dan puluhan polisi bermotor meneror gedung Kejaksaan Agung ditambah drone yang berputar putar diatas komplek Kejagung seperti mencari sesuatu. Termasuk diantara potensi bentrok antara kepolisian yang hendak memaksa masuk ke gedung Kejagung RI namun dihalangi oleh Pamdal Kejagung diback up TNI.
Gedung Kejagung dan Mabes Polri cuma berseberangan di Jln Trunojoyo Jakarta Selatan.
Menurut beberapa sumber investigator, kejadian krisis malam itu adalah rangkaian dari kasus korupsi di PT Timah yang merugikan negara RP 271 Triliun itu.
Jadi orang orang seperti Harvey Moeis (HM), Sandra Dewi (SD) dan Herlina Lim (HL) itu sebetulnya dalam skema Rp 271 T bukanlah pemain utama alias cuma alas kaki sebagai pemeran pengganti level paling bawah yang bisa sewaktu waktu dikorbankan demi kepentingan yang berpangkat diatasnya dan diatasnya lagi dan seterusnya.
HM, SD dan HL ketiganya hanyalah aset money laundring yang dari investigasi terhadap mereka Kejagung mulai dapat menelusur benang merahnya keatasnya lagi. Siapa siapa saja yang terlibat terutama para pelaku utama.
Dan sejak kasus Rp 271 T ini disidik oleh Jampidsus Dr. Febrie Ardiansyah SH sejak itulah ia mendapat banyak teror dan presure intimidasi agar jangan meneruskan penyidikan. Cukup publik dipuaskan dengan penangkapan ketiga “artis”beserta duapuluh jajaran direksi PT Timah dan swasta rekanan. Cukup itu buat memuaskan publik tidak perlu diungkap semua.
Namun Jampidsus tak menggubris teror tersebut maka atas inisiatif Jampidmil (Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Militer) yang dijabat pati dari TNI memberikan fasilitas pengamanan tambahan berupa pengawalan oleh anggota PM (Polisi Militer) kemanapun Jampidsus Febri bergerak.
Puncaknya adalah malam itu ketika Jampidsus Febrie merasa dikuntit beberapa personel berpakaian sipil dan dimata matai hingga kedalam restoran Prancis di Cipete yang kemudian para pemata mata tersebut salah satunya diringkus oleh pengawal dari PM.
Anggota PM dari kesatuan PoMaL (Polisi Militer Angkatan Laut) dari Korps Marinir tersebut merangkul keras orang itu saat hendak kabur sedang peneror satunya berhasil lolos.
Kemudian peneror itu digiring keluar resto dan digeledah oleh PM ternyata ia anggota Densus 88 dan menunjukan sekitar dua puluhan kawan kawannya mengintai dipojok gedung sebelahnya.
Segera oleh sang PM kejadian ini dilaporkan ke Jampidsus Febrie yang segera melaporkan juga keatasan Kajagung RI yang malam itu juga menelpon Kabareskrim Polri apa maksud mengerahkan Densus meneror anak buahnya. Namun Kabareskrim mengaku tak tahu menahu dan meminta anggotanya dilepaskan.
Permintaan itu ditolak dan anggota Densus 88 bernama Briptu Iqbal itu digelandang ketahanan Kejagung untuk diinterogasi lebih lanjut.
Disitulah makanya para anggota kepolisian berkonvoi malam meneror komplek Kejagung RI meminta anggotanya dilepaskan namun tiap pintu masuk depan dan belakang komplek Kejagung sudah bersiaga penuh Pamdal Kejagung dan para Marinir.
Kasus ini sendiri diduga erat terkait dengan “upeti rutin” yang “wajib” disetorkan oleh PT Timah ke kantong jenderal B lewat perusahaan anaknya yang bernama Herviano Widyatama yang juga menjabat sebagai ketua BMI organ sayap PDIP.
RBS alias Robert Bonosusatya yang merupakan pemain utama aliran korupsi tambang timah inilah sebenarnya yang diduga yang mengatur aliran dana berapa yang dipegang dan harus dipamerkan oleh HM, SD, HL sebagai aktor flexing agar disangka sebagai penerima paling banyak Rp 271 T itu dan berapa jatah keamanan buat B lewat anaknya yang akan menjamin keamanan mereka lewat dua institusinya.
Dari sini sudah cukup jelas benang merahnya lebih jelas dari kasus Vina Eki Cirebon bukan.
Karena seperti prinsip FBI dalam menangani kasus korupsi besar adalah “follow the money”.
Kita doakan dan dukung sepenuhnya Kejagung RI karena KPK sudah mlempem mirip krupuk disiram air apalagi sejak dipimpin Firli Bahuri
Dan si Iqbal anggota densus muda itu yang jelas masih ditahan dibawah tatapan tegas para Marinir !
Semangat Pagi Jurnalis Muslim Indonesia !!!
(FIM)


