Oleh: Agus Patminto
Menyikapi perilaku politik Eri Cahyadi dan Armuji yang jauh dari adab dan moralitas sebagai kandidat ataupun figur yang masih aktif memimpin Kota Surabaya.
Pasangam Eri Armuji sudah mendaftar sebagai calon yang akan diusung oleh PDI Perjuangan Kota Surabaya, namun mereka ini masih berkeliling melamar atau mendaftar untuk mendapatkan tiket dari partai-partai lain yang ada di Kota Surabaya.
Hal ini, menurut saya, mereka tidak memiliki etika berpolitik karena hal tersebut sama dengan menegakkan marwah dan martabat PDI Perjuangan Kota Surabaya. Terlepas dari alasan apa pun, mau gotong royong atau apalah, itu seharusnya menjadi tugas partai.
Saya juga risih melihat baliho-baliho yang belum waktunya dipasang, malah relawan Eri Cahyadi memberikan contoh yang tidak baik menurut saya.
Itu jauh dari tradisi kami para kader PDI Perjuangan, apalagi di saat Eri Cahyadi dan Armuji masih memimpin sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya.
Pertanyaannya, apa baliho ini sesuai aturan, atau mendatangkan pajak? Kalau tidak ada pajak, ya silakan Satpol PP menertibkan alat kampanye Eri Cahyadi.
Ini mungkin tidak memberikan contoh yang baik. Kesannya memanfaatkan kewenangan sebagai pemimpin.
Contoh perilaku politik buruk tersebut harus sudah diterima. Itu cukup terjadi dan hanya dilakukan oleh seorang Jokowi saja.
Model yang tidak beretika seperti ini jangan ditiru. Sesuatu yang buruk jika tidak ada yang menegur akan menjadi sebuah kebiasaan.
Hanya bertujuan untuk memenuhi syahwat kemenangan semata, Jauh dari harapan masyarakat.
Untuk itu, saya mengimbau dan mendesak Eri Cahyadi dan Armuji yang notabene kader PDI Perjuangan untuk tidak menciderai nilai-nilai demokrasi itu sendiri.
Berpolitik yang cerdas, beretika santun, menjunjung moralitas dalam Pilkada Serentak 27 Nopember 2024 yang akan datang.
Jangan mengambil alih tugas dan resmi partai struktural (DPC PDI Perjuangan) Kota Surabaya untuk mempersiapkan strategi dan pemenangan di Pilwali Kota Surabaya, termasuk membangun komunikasi politik dengan partai lain.
Itu bukan tugas kandidat apalagi kandidat melamar. Itu sama saja dengan menjatuhkan partai marwah. Kecuali PDI-Perjuangan tidak cukup tiketnya untuk mengusung calonnya sendiri.
Mendesak struktur partai DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, khususnya Ketua DPC Adi Sutarwijono untuk ikut aktif dalam hal mempersiapkan kemenangan dan lobi politik ke partai lain.
PDI Perjuangan Kota Surabaya Harus memberikan contoh sistem demokrasi yang baik dan benar dalam kontestasi Pilwali Kota Surabaya saat ini. Bukan menghalalkan segala cara, hal itu Cukup Jokowi saja yg melakukan, kader PDI Perjuangan murni jangan meniru atau melakukan itu.
Cara-cara yang tidak beretika jauh dari adab dan moralitas, jangan dijadikan kebiasaan atau sebuah kewajaran, apalagi di tiru. Apapun elite sudah memberikan contoh tidak baik seperti itu, tapi sekali lagi itu tidak layak untuk ditiru. PDI Perjuangan harus meraih kemenangan dengan cara yang terhormat, dan kalah pun dengan cara yang terhormat.
*Penulis adalah kader PDI Perjuangan Kota Surabaya (korban 27 Juli 1996)


