SURABAYAONLINE. CO. Malang – Sebagai pemilih cerdas, mahasiswa harus lebih rasional dalam menjatuhkan pilihannya.

“Jangan emosional apalagi hanya karena gimmick (setingan) dengan mudah langsung menjatuhkan pilihannya,” ujar politikus dan tokoh perempuan Kota Malang, Ya’qut Nanda Gudban.

Mantan anggota DORD Kota Malang, suta periode ini mengatakan, mahasiswa harus memiliki parameter dalam menentukan pilihannya.

“Jangan sampai terbawa suasana hingga melupakan substansi dan program yang diberikan setiap calon pemimpin. Dari pemilih cerdas inilah dapat tercipta pemilu 2024 yang damai,” tandasnya.

Ya’qut yang juga Ketua Komunitas Perempuan Peduli Indonesia ini berharap, meski sebagai pemilih pemula, mahasiswa jangan asal memilih.

“Lihat dulu program – programnya. Sesuai dengan kebutuhan saat ini apa enggak dan masih banyak lagi. Substansi ini jangan sampai dihilangkan,” tegasnya.

Tidak hanya Ya’qut, talk show yang mengambil thema Peran Mahasiswa Di Bumi Arema dalam Pemilu 2024 juga menampilkan Ketua Bawaslu Kota Malang, Mochammad Arifudin, S. Hum dengan moderator Sugeng Winarno.

Dalam talk show yang digelar Univeritas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, Ya’qut menandaskan mahasiswa sebagai agen perubahan miliki nilai lebih.

Nilai tersebut nantinya tidak berhenti hanya pada dirinya, namun juga harus dibagikan agar masyarakat lain juga menjadi pemilih yang cerdas.

Sementara menurut Ketua Bawaslu Kota Malang, Mochammad Arifudin, S. Hum untuk mewujudkan pemilu yang demokrasi sesuai Undang-Undang No. 7 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Pemilu, prosesnya harus diselenggarakan dengan asas-asas yang mengikat.

Tentunya, generasi muda memiliki peran strategis dalam penyelenggaraan pemilu yang berasaskan Luber Jurdil.

Dikatakan, mahasiswa memiliki peran mengkritisi dan melakukan pengawasan terhadap calon pemimpin.

Dibanding tahun – tahun sebelumnya, penyelenggaraan pemilu tahun ini banyak perubahan sistem tata penyelenggaraan.

Pemilu saat ini memanfaatkan media sosial sebagai salah satu media yang banyak digunakan untuk kampanye maupun menyampaikan aspirasi.

“Tapi minusnya, media sosial juga bisa menjadi ladang penyebaran hoaks dan ujaran kebencian,” ujarnya.

Arifudin menambahkan, peran mahasiswa sangat dibutuhkan untuk mengkritisi serta mengawasi penggunaan media sosial serta mengedukasi masyarakat agar tidak mudah terserang hoaks.

Selain itu juga dapat berkolaborasi dengan instansi pendidikan, komunitas, maupun pemerintah untuk menyelenggarakan pemilu yang damai.

“Artinya mahasiswa tak hanya aktif dalam menyelenggarakan pemilu damai namun juga turut aktif 100% dalam pemilu,” terangnya.

Hal serupa juga disampaikan PJ Walikota Malang yang diwakili oleh Drs. Ali Mulyanto, M.M selaku Staf Ahli Bidang Pembangunan, Kesejahteraan Rakyat dan Sumber Daya Manusia Pemerintah Kota Malang.

Menurut PJ Walikota Malang, mahasiswa berperan sebagai penegak dan penengah penyelenggaraan pemilu.

Mahasiswa juga perlu mengedukasi masyarakat, karena suksesnya pemilu 2024 tidak hanya dari penyelenggara, namun juga peran mahasiswa sebagai garda terdepan dalam memberikan edukasi politik kepada masyarakat.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version