SURABAYAONLINE.CO|Sumenep – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merupakan infeksi virus yang bersifat akut dan sangat menular pada hewan berkuku genap/belah (cloven-hoofed).
Nama lain dari penyakit tersebut yakni aphthae epizootica (AE), aphthous fever, foot and mouth disease (FMD). Penyakit ini ditandai dengan adanya pembentukan vesikel/lepuh, erosi di mulut, lidah, gusi, nostril, puting, dan di kulit sekitar kuku.
Berdasarkan peta sebaran kasus penyakit kuku dan mulut (PMK) di Jawa Timur per tanggal 29 Mei 2022, hewan ternak terjangkit mencapai 15.521. Dinyatakan sembuh sebanyak 2.289 dan yang mati sedikitnya 124 hewan.
Apakah daging hewan ternak terjangkit virus PMK membahayakan? Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep Arif Firmanto menjelaskan, daging hewan ternak yang terjangkit PMK aman dikonsumsi jika sudah dimasak matang. Sebab, virus tersebut akan mati ketika terkena suhu tinggi.
“Artinya, virus itu akan mati ketika terkena suhuntinggi 70 selsius dalam waktu 30 menit dan 132 selsius dalam waktu 1 detik. Dan virus itu tidak menular kepada manusia,” terangnya, Senin (6/6).
Dia pun menjelaskan konsep memakan daging yang terbagi menjadi 3 aspek. Pertama safe atau aman karena tidak mengandung bahan yang membahayakan, terlihat sehat dan tidak menjijikkan serta ada keuntungan atau manfaat dari makanan tersebut.
Pihaknya juga memberikan tips tata cara penjualan daging di pasar tradisional agar aman. Hanya menjual daging dan jeroan dari rumah potong hewan yang ditunjuk dan diawasi pemerintah kabupaten setempat.
Daging dan jeroan yang dijual harus disertai dengan surat keterangan kesehatan produk hewan serta berstempel dinyatakan baik. Cuci peralatan daging dan jeroan dengan detergen.
Kemudian tips penanganan daging segar dan jeroan. Daging tidak dicuci sebelum diolah. Artinya rebus terlebih dahulu selama 30 menit dengan air mendidih. Dinginkan lalu bekukan selama 24 jam jika daging tersebut tidak langsung dimasak.
Sebagai bentuk antisipasi penanganan penyebaran virus penyakit mulut dan kuku di Kabupaten Sumenep, pihaknya telah melakukan berbagai upaya. Salah satunya penyemprotan desinfektan dan insektisida, isolasi ternak jangkit dan pemusnahan bingkai semua produk hewan terserang PMK.
“Hal lain yang harus dilakukan masyarakat, memberikan minuman empon-empon untuk meringankan infeksi sekunder seperti kunyit, daun katuk, gula merah dan daun meniran dalam dua kali sehari,” jelasnya
Pihaknya mengimbau masyarakat Sumenep untuk terus berkoordinasi dengan petugas kesehatan hewan (Keswan) sekitar serta mengikuti arahan sebagaimana disebutkan diatas.
“Jangan panik, tapi harus benar-benar diantisipasi bersama,” tegasnya. (Upek)


