Bos BukaLapak Angkat Bicara Tentang Saham Perusahaannya yang Terus Anjlok

SURABAYAONLINE.CO – Presiden Direktur PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), Rachmat Kaimuddin mengatakan perseroan selalu mengamati fluktuasi harga saham perseroan yang terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dia menegaskan, manajemen BUKA akan fokus pada perbaikan kinerja bisnis perusahaan.

“Fluktuasi adalah sesuatu yang terus kita perhatikan, kita selalu ingin menciptakan nilai tambah pemegang saham kita,” kata Rachmat, dalam paparan publik Bukalapak, Selasa kemarin (19/10).

Dari pasar modal, pada penutupan perdagangan Selasa (19/10) kemarin, data perdagangan mencatat saham Bukalapak minus 2,13% di Rp 690/saham. Nilai transaksi saham BUKA mencapai Rp 269 miliar dengan volume perdagangan 388,72 juta saham dan kapitalisasi pasar Rp 71 triliun.

Dalam sepekan terakhir saham BUKA turun 6,12% dan sebulan terakhir juga masih terkoreksi 18,82%. Seperti diketahui, perseroan melakukan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) di harga Rp 850 per saham pada 6 Agustus silam dan menghimpun dana sebesar Rp 21,90 triliun, terbesar dalam sejarah pasar modal RI.

Harga saham BUKA sudah turun 18,82% di bawah harga IPO tersebut, kendati dari sisi net buy asing tercatat investor asing memborong saham BUKA Rp 731 miliar di semua pasar dalam sebulan terakhir.

Dari sisi kinerja, sampai dengan kuartal II-2021, perseroan mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 37% menjadi Rp 440 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 321 miliar.

Sedangkan, pertumbuhan pendapatan mitra di kuartal kedua ini tumbuh 292% menjadi Rp 145 miliar dari tahun sebelumnya Rp 37 miliar.

Rachmat melanjutkan, pada akhir tahun 2020 lalu, jumlah mitra Bukalapak hampir mencapai 7 juta dan saat ini sudah meningkat menjadi 8,7 juta mitra UMKM di semester pertama 2021.

Sedangkan, dari sisi Total Processing Value (TPV) pada kuartal II-2021 tercatat tumbuh 56% senilai Rp 29,4 triliun. Sementara itu untuk pada semester I-2021 TPV tercatat tumbuh 54% senilai Rp 56,7 triliun.

Pertumbuhan TPV terutama ditopang oleh kenaikan jumlah transaksi sebesar 15% dan kenaikan sebesar 34% pada Average Transaction Value (ATV) sepanjang semester I-2020 (1H20) sampai dengan semester I-2021.

“Kinerja bisnis terus membaik kami berharap, itulah yang bisa kami kendalikan, fokus kita itu tentunya memperbaiki, meningkatkan kinerja perusahaan. So far, performa Bukalapak align, kami optimistis ke depan terus seperti itu,” ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah, pada Kamis pekan lalu (14/10), President Bukalapak Teddy Oetomo mengatakan penurunan saham yang terjadi karena adanya peningkatan harga komoditas belakangan ini, dan menyebabkan terjadinya rotasi portofolio dari para investor pasar saham di BEI.

Adanya perubahan portofolio ini pun berimbas pada saham-saham perusahaan teknologi termasuk Bukalapak.

“Kalau dari feedback dari analis di capital market peningkatan harga komoditas dan terjadi rotasi dari portofolio investor dari kepemilikan di sektor tersebut berkurang, karena mereka masuk ke perusahaan yang lebih mengarah ke komoditas,” kata Teddy.

Perubahan portofolio dari perusahaan teknologi, menjadi yang mengarah ke komoditas tidak hanya terjadi pada Bukalapak tetapi juga yang lainnya.

“Ini terjadi bukan hanya di Bukalapak dan sebagian besar terdampak, jadi trennya sama,” kata dia.

Teddy mengatakan saat ini Bukalapak terus berusaha meningkatkan kinerja perusahaan secara internal. Dia optimistis kinerja perusahaan akan terus naik, seiring dengan perbaikan kondisi ekonomi nasional.

Perbaikan ekonomi nasional menurutnya berdampak pada bisnis Bukalapak, terutama di luar Jawa. Dengan begitu, terjadi peningkatan kontribusi dari Mitra Bukalapak yang berada di luar wilayah Jawa dan kenaikan signifikan pada bisnisnya. Selain itu, jumlah Mitra Bukalapak pun terus naik secara konsisten.

“Karena ini memperbaiki keseimbangan daya beli di Indonesia, karena di luar Jawa itu banyak yang komunitas, kalau nggak salah, 30% bisnis kami dari luar Jawa,” kata dia.