Apindo Sebut Eropa Selalu MEnghambat Ekspor Indonesia

SURABAYAONLINE.CO – Tidak hanya penerapan Carbon Tax Adjustment, namun ada satu aturan lagi yang menghambat perdagangan Indonesia ke Uni Eropa (UE). Hal itu diungkapkan Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani.

“Eropa ini memang kalau saya bilang mau menghambat. Isu terakhir juga mau ada sertifikasi untuk pelaksanaan HAM (Hak Asasi Manusia). Tapi ya kita hadapi itu upaya-upaya untuk menghambat ekspor kita. Selalu saja dilakukan,” kata Hariyadi kepada CNBC Indonesia, Jumat (8/10).

Menurut dia, upaya Eropa menghambat perdagangan dengan negara pelanggar HAM ini seperti dibuat-buat. Namun dampaknya sangat besar bagi pengusaha yang melakukan ekspor ke sana.

Dia mencontohkan seperti di produk sawit seperti minyak goreng. Di sana akan diminta detail mengenai supplier perusahaan, apakah ada pelanggaran HAM atau tidak dalam proses produksinya. Bahkan, menurut Hariyadi, dalam rencana auditor untuk mendapatkan sertifikasi harus berasal dari UE.

“Maksudnya ini apa, mau cari duit atau menghambat perdagangan, auditor itu dari EU itu mahal. Ini tidak fair dan upaya itu ada,” ujar Hariyadi.

Nantinya aturan ini akan diterapkan pada seluruh industri yang mau mengekspor ke negara-negara UE. Jadi tidak hanya produk sawit, namun tambang, produk perhutanan, hingga elektronik juga termasuk.

“Emang dasarnya mau menghambat pasar dalam negeri. Mungkin mau menjaga pasar regionalnya,” katanya.

Oleh karena itu, menurut Hariyadi, ada beberapa hal yang bisa dipersiapkan oleh Indonesia. Harus memperkuat pasar non EU seperti pasar regional Asia dan ASEAN. Negara-negara seperti China, Jepang, Singapura, hingga AS memang masih menjadi mitra dagang utama Indonesia.

Meski hal ini tergantung dari kebijakan dan strategi perusahaan eksportir dari Indonesia. Karena permintaan di Eropa juga terbilang besar dari produk sawit, hasil kayu, besi/baja, hingga pertambangan.

“Makanya harus pintar-pintar juga, karena mereka buat barrier. Tapi kalau perusahaan tidak punya pengalaman ekspor ke Eropa pasti malas juga. Mereka standarnya begini,” ujar Hariyadi.