Tradisi Nyekar

Surabayaonline.co | Surabaya – “DADI wong Jawa ojo ilang Jawane”, begitu kira-kira pepatah yang sering diucapkan oleh para tetua ketika menasehati remaja yang akan menjadi dewasa.

Pepatah tersebut bila diterjemahkan adalah “Jadi orang Jawa jangan hilang ke-Jawaannya”. Artinya janganlah menjadi orang Jawa yang sudah tidak memiliki jati diri sebagai orang Jawa.

Orang Jawa yang mempunyai jati diri sebagai orang Jawa adalah orang yang teguh memegang nilai-nilai luhur dan adat istiadat peninggalan para tetua zaman dahulu.

Salah satu di antaranya adalah menjunjung tinggi dan menghormati harkat dan martabat orang tua baik ketika hidup atau sudah meninggal.

Ketika orang tua sudah meninggal senantiasa mendoakan dan mengunjungi makam untuk membersihkan dan mendoakan arwah orang tua dan sanak saudara yang lain. Orang Jawa biasa menyebut tradisi itu dengan “Nyekar”.

Berbeda dengan tradisi ziarah yang ditujukan kepada tokoh-tokoh ulama atau wali yang dianggap keramat, sebagai penghormatan dan upaya mengambil berkah.

Subjek ziarah dalam nyekar umumnya adalah makam leluhur keluarga, diantaranya kakek-nenek, orang-tua, dan saudara.

Yang paling utama adalah orang tua yang dianggap sebagai wakil Tuhan dimuka bumi yang telah melahirkan kita ke dunia.

Nyekar berasal dari kata Jawa “sekar” yang berarti “kembang” atau “bunga”. Dalam praktiknya, memang ziarah ini melibatkan penaburan bunga di atas makam yang dikunjungi.

Bahkan sebagian masyarakat ada yang menyertakan dupa dan kemenyan. Tetapi aspek ritual yang terakhir ini, belakangan sudah jarang dilakukan, meski tidak berarti hilang sama sekali.

Di dalam nyekar, yang pasti dan umum terjadi, adalah pembersihan makam dan pembacaan himpunan doa atau bagian dari surat Al-Quran, yang pendek-panjangnya, bervariasi satu sama lain.

Ini juga membuat waktu yang dibutuhkan dalam nyekar berbeda-beda: dari yang singkat sekitar belasan menit, hingga hitungan jam, bahkan ada yang seharian penuh.

Nyekar bisa dilakukan kapan pun sepanjang tahun. Misal pada waktu tahun pertama dari anggota keluarga yang meninggal, di mana ikatan-ikatan emosional dengan orang yang telah mendahului itu masih sangat kuat.

Nyekar juga biasa dilakukan seseorang menjelang pelaksanaan upacara lingkaran hidup seperti perkawinan, di mana ia menjadi semacam permohonan doa restu.

Nyekar ke leluhur ini juga umum dilakukan oleh mereka yang ingin memohon doa restu dan kekuatan batin karena menghadapi suatu tugas dan tanggung jawab yang berat, akan bepergian jauh, atau karena ada hajat dan keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang besar sekali.

Tetapi yang sering, terpenting dan terutama, nyekar dilakukan sekitar seminggu sebelum bulan Ramadan tiba atau setelah lebaran, pada minggu pertama Syawal. Ini bisa dilakukan secara pribadi maupun bersama-sama dengan anggota keluarga lain, baik laki-laki maupun perempuan.

Tradisi nyekar sebelum Ramadan ini muncul dari keinginan umat Islam di Jawa untuk memasuki Bulan Suci dengan keadaan bersih dan penuh ‘kekuatan’.

Mereka ingin segala kesalahan dan kekeliruan yang telah dilakukan, baik sengaja maupun tidak sengaja, dimaafkan oleh teman-teman, saudara-saudara, dan seluruh keluarga agar mereka bisa menjalani puasa dengan lancar, tenang, dan tulus.

Permohonan maaf ini juga mereka tujukan pada anggota keluarga dan leluhur mereka yang sudah meninggal sekaligus untuk meringankan beban anggota-anggota keluarga yang sudah wafat itu. Nyekar juga akan mengingatkan diri bahwa setiap manusia kelak juga akan mengalami kematian.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits nabi:
ﺃَﻛْﺜِﺮُﻭﺍ ﺫِﻛْﺮَ ﻫَﺎﺫِﻡِ ﺍﻟﻠَّﺬَّﺍﺕِ ‏ ﻳَﻌْﻨِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ
“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian” (HR. Tirmidzi).
ﺍﻟْﻜَﻴِّﺲُ ﻣَﻦْ ﺩَﺍﻥَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ، ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﺟِﺰُ ﻣَﻦْ ﺃَﺗْﺒَﻊَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻫَﻮَﺍﻫَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻤَﻨَّﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ
“Orang yang pandai adalah orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal (mencurahkan semua potensi) untuk kepentingan setelah mati.

Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsu, kemudian berangan-angan kosong kepada Allah” (HR. Tirmidzi).

Ada sementara orang yang menganggap bahwa tradisi nyekar adalah bid’ah yang konotasinya menuju kepada makna ‘sesat’ yang dianggap tidak ada dalam ajaran islam.

Bagi saya silahkan saja menganggap demikian yang jelas hanya Tuhan Semesta Alam saja yang tahu isi hati manusia ciptaanNya.

Dan pada hakekatnya manusia tidak berhak menghakimi selain mereka dengan hukum-hukum yang harus dipaksakan sesuai dengan keinginan manusia itu.

Hanya Tuhan Semesta Alam saja yang berhak menghakimi manusia-manusia ciptaanNya. Menuduh sesat, bid’ah, syirik, musrik selama itu tidak ada dalil yang kuat yang membenarkan.

Dan menguatkannya adalah menyaingi kewenangan Tuhan Penguasa Jagad Raya sebagai Maha Hakim Yang Mutlak dan Absolut pemberi keputusan.

Selama niatan nyekar itu hanya karena niatan ingin menghormati, mendoakan orang tua serta mengingat kematian maka itu adalah sesuatu yang sangat bermanfaat dan perlu diajarkan pada anak-anak kita sebagai sebuah nilai luhur yang patut dilestarikan. (Sanjoto Prijo Djatmiko)

  • Penulis adalah pemerhati sosial tinggal di S