Surabayaonline.co – Pagi itu ada warga Balas Klumprik Surabaya yang datang ke kantor Surabayaonline.co Rabo (1/7), di Maspion Square Surabaya, mengeluhkan Biaya Pasang Baru PDAM di wilayah Balas Klumprik yang dinilai terlalu tinggi sebesar Rp 11.926.516,- (sebelas juta sembilan ratus dua puluh enam ribu lima ratus enam belas rupiah)
“Aduh mas, baru aja kami ini mau usaha ditengah suasana Covid 19, ternyata sudah tercekik duluan” ujar Indra Wahyudi, anggota Kader Pemberdayaan Masyarakat KPM Surabaya. saat ditemui oleh awak media.
Adapun obyek lahan PSB PDAM yang dimaksudkan adalah
– Di Balas Klumprik RT 03 RW 02 Surabaya, nol jalan, beraspal
– Kanan kiri (tetangga mepet) sudah terpasang PDAM.
– Listrik 1300 watt
– Lebar lahan 9 meter x 20 meter, dengan didalamnya tersedia lahan parkir 5 x 8 meter, krn tidak mungkin parkir di jalan raya mengingat sempitnya jalan.
– Lahan ini direncanakan untuk kuline
Pin Google Map Lokasi Lahan
“Kami ini anggota KPM, disambati warga yang terdampak PHK karena Covid 19, maka kami ada ide untuk bikin kuliner dilahan ini, ayo yang korban PHK tapi bisa masak bisa gabung kesini, kebetulan saya ini dapat amanah dari pemilik lahan” ujar Indra Wahyudi menjelaskan asal usul lahan ini dibangun.
“Ya kaget mas dapat dapat SMS Biaya PSB 12 juta, ini belum tarif per meter kubik nantinya lho ya.., apa iya anggota nanti mampu bayar iuran ?” Sambung Indra sambil menjelaskan bahwa pelanggan yang disasar adalah menengah bawah, yang pakai motor, bukan golongan atas yang pakai mobil, karena parkir lahannya sangat sempit.
“Omset yang diharapkan berapa sih dari kondisi semacam ini ?” Ujar Indra sambil geleng geleng kepala.
Indra kemudian menambahkan “Kalau hasil survei dibilang bangunan mewah, coba dicermati lagi, bangunan gedung dengan tembok terbuka. Meja kursi hasil kreativitas (barang bekas) pemberian instansi PLN, berupa kayu palet sisa gulungan kabel PLN”
Disisi lain Indra melihat ada institusi pemerintah yang paham betul dan peduli dengan kondisi masyarakat saat ini.
“Saya justru salut dengan PLN yang membantu dengan program khusus dan harga khusus boleh dicicil satu tahun untuk PSB DAYA LISTRIK karena penggunaannya untuk warung kuliner/ UMKM” sambung Indra.
Lebih jauh Indra mengharapkan bahwa pemerintah bisa melihat kondisi riil masyarakatnya dan punya kepedulian membantu usaha mikro sehingga tidak dipukul rata dianggap semua lapisan masyarakat ini semuanya kaya.
“Terus bagaimana kami yang kecil ini guna bertahan hidup ditengah Pandemi dimana daya beli masyarakat juga menurun ?” kata Indra saat menutup wawancara.
Saat awak media mengkonfirmasi ke PDAM Surabaya bagian perencanaan, bahwa penentuan Biaya PSB itu secara sistem.
Jadi petugas memasukkan data sesuai survey dengan menginput, luas lahan, lokasi, listrik, peruntukan, besar pipa dan seterusnya kemudian munculah angka Biaya PSB.
“Jadi setelah kami survey, kemudian kami input munculah Biaya itu” ujar Andi saat ditemui oleh awak media.
Andi menyarankan kepada yang bersangkutan untuk menulis surat keberatan, untuk disampaikan kepada Direktur PDAM
“Untuk cara menentukan Biaya PSB seperti disistem, kami belum bisa memberikan” jawab Andi, tanpa memberikan alasannya, saat ditanya oleh awak media mengenai cara perhitungan menentukan Biaya PSB.
Sementara itu salah satu dosen perguruan tinggi swasta yang dihubungi oleh awak media punya opini yang berbeda tentang Biaya PSB
“Kalau tidak ada narik pipa, Biaya PSB itu sebaiknya standart aja, sebab kalo tidak standart jadi lucu, misal saat ini lahan untuk kuliner, setahun kemudian bangkrut, lahan tadi jadi rumah tangga, apa terus PDAM mau ngasih susuk kembalian biaya PSB ? atau sebaliknya dulunya rumah tangga sekarang jadi lahan untuk bisnis apa Biaya PSB ditagih kekurangannya ?” Ujar dosen Ekonomi lulusan Australia.
“Yang naik turun itu tarif per meter kubiknya saja” saran dosen tersebut.
@Adi



