Surabayaonline.co, – SAMPANG – Upaya akselerasi program nasional Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sampang tengah memasuki fase krusial. Pemerintah Kabupaten Sampang bersama Kodim 0828 terus memacu pembangunan infrastruktur pendukung melalui pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan “Merah Putih”. Inisiatif ini diproyeksikan menjadi tulang punggung suplai bahan pangan sekaligus penggerak ekonomi kerakyatan.
Dandim 0828 Sampang, Letkol Czi Dika Catur Yanuwar Anwar, S.T., menegaskan bahwa koperasi ini dirancang sebagai solusi atas kendala ketersediaan stok bahan baku di daerah. “Tujuannya adalah memastikan perputaran uang tetap berada di wilayah setempat serta membuka peluang kerja baru bagi masyarakat desa,” ujar Letkol Dika.

Progres Fisik dan Target April 2026
Berdasarkan data hingga Februari 2026, progres pembangunan menunjukkan dinamika sebagai berikut:
Target Total: Sebanyak 93 titik Koperasi Merah Putih direncanakan tersebar di seluruh Kabupaten Sampang.
Capaian 100%: Empat lokasi telah rampung sepenuhnya, yakni di Kelurahan Dalpenang, Desa Aeng Sareh, Desa Taden, dan Desa Tanggumong.
Operasional Dapur: Saat ini, tercatat 86 unit Dapur MBG telah mulai beroperasi melayani kebutuhan gizi masyarakat.
Tenggat Waktu: Sisa paket pembangunan ditargetkan selesai secara komprehensif pada akhir April 2026.
Hambatan Teknis: Lahan dan Suplai Material
Meskipun tren pembangunan bersifat positif, pihak penyelenggara mengidentifikasi dua kendala utama yang menghambat kecepatan proyek:
Krisis Material Nasional: Pembangunan infrastruktur pendukung MBG yang dilakukan serentak di seluruh Indonesia memicu kompetisi stok material pada tingkat pabrikan. Tim pelaksana kini harus mencari alternatif suplai di luar wilayah guna menjaga kelangsungan proyek.
Standarisasi Lahan: Aturan mewajibkan setiap koperasi berdiri di atas lahan minimal 600 meter persegi. Faktanya, banyak Tanah Kas Desa (pencaton) di Sampang yang tidak memenuhi kriteria luas tersebut.
Menyikapi masalah lahan, tim di lapangan meningkatkan koordinasi dengan Forkopimda dan Bupati Sampang untuk mengupayakan mekanisme tukar guling, skema pinjam pakai lahan Pemerintah Daerah, hingga optimalisasi lahan kedinasan.
Sinergi Padat Karya dan Penguatan Infrastruktur Dasar
Pembangunan koperasi ini mengedepankan sistem Padat Karya yang melibatkan kolaborasi anggota Babinsa dengan tenaga tukang lokal. Selain memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga selama masa konstruksi, langkah ini juga memperkuat ikatan gotong royong di tingkat desa.
Di sisi lain, aspek stabilitas daya listrik menjadi perhatian serius. Pihak PLN tengah diupayakan untuk menambah trafo di titik-titik isolasi. Hal ini bertujuan untuk menjamin kelancaran operasional alat-alat pendukung di koperasi maupun dapur MBG saat beroperasi penuh nanti.
“Kami tetap optimis bahwa dengan dukungan penuh dari para Kepala Desa dan semangat gotong royong warga, target 93 titik di akhir April akan tercapai,” tutup Letkol Dika. (Yat/F-R)


