SAMPANG, Surabayaonline.co – Agenda “Piramida” (Ngopi Bareng Kapolres dan Media) yang digelar di aula terbuka Mapolres Sampang, Rabu malam (05/02/2026), berakhir dengan meninggalkan noda pada semangat kebebasan pers. Alih-alih menjadi ruang dialogis yang inklusif, acara ini justru memicu polemik “tebang pilih” yang mengindikasikan adanya upaya memilah-milah mitra bicara di kalangan jurnalis.

Kemitraan Pragmatis: Antara “Butuh” dan “Lupa”
Kritik keras menghantam gaya kepemimpinan AKBP Hartono. Sejak menduduki kursi nomor satu di Polres Sampang pada Januari 2025, agenda Piramida tercatat hanya digelar dua kali dalam setahun. Rendahnya frekuensi ini memperkuat spekulasi bahwa hubungan yang dibangun kepolisian dengan media bersifat pragmatis-aksidental.
Pers seolah hanya diposisikan sebagai “perisai” publikasi saat korps membutuhkan citra positif, namun dikesampingkan dalam rutinitas komunikasi yang setara. Absennya Media Center Sampang (MCS) dari daftar undangan menjadi bukti nyata adanya eksklusivitas yang mencederai semangat sinergitas yang digagas Kapolri.
Sentilan Keras Marwah Profesi
Ketua MCS sekaligus Penasehat PWI Sampang, Fathor Rahman, S.Sos (Mamang), melontarkan kritik pedas terhadap fenomena ini. Tokoh pers senior ini mengingatkan rekan sejawatnya agar tidak terjebak dalam jebakan seremonial yang melumpuhkan daya kritis.
“Jangan sampai pers sebagai pilar keempat demokrasi hanya dihargai saat kepolisian butuh ‘pemadam kebakaran’ untuk meredam isu miring,” tegas Mamang. Ia menekankan bahwa independensi adalah harga mati agar pers tidak sekadar menjadi instrumen sektoral yang mudah dikendalikan.

Alibi “Lupa” yang Naif
Menghadapi mosi tidak percaya tersebut, Kapolres Sampang AKBP Hartono melemparkan tanggung jawab kepada jajaran teknisnya. Ia menyebut tidak terundangnya sejumlah organisasi pers sebagai “kelalaian” staf.
“Itu kelalaian Kasi Humas. Kami memohon maaf atas kelalaian tersebut,” ujar AKBP Hartono berdalih.
Namun, pengakuan Kasi Humas Polres Sampang, AKP Eko Puji Waluyo, justru terdengar naif bagi sebuah institusi yang terbiasa dengan ketelitian intelijen dan administrasi. Meski mengklaim mengundang 15 organisasi dan dihadiri 140 jurnalis, ia mengakui MCS sengaja atau tidak, terlewati.
“Untuk MCS, kami mengakui tidak mengundang karena lupa,” ucap Eko singkat.
Analisis: Profesionalisme yang Dipertanyakan
Alasan “lupa” dalam agenda resmi kepolisian bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan cermin dari buruknya manajemen komunikasi publik. Bagi publik dan insan pers, alasan ini sulit diterima nalar profesionalisme, mengingat MCS adalah entitas pers aktif yang tercatat resmi di Diskominfo Sampang.
Insiden ini menjadi lonceng peringatan bagi jurnalis di Sampang: Apakah mereka hadir sebagai mitra strategis yang kritis, atau sekadar pengisi kursi di bawah kendali narasi satu arah? Jika “lupa” menjadi dalih atas eksklusi, maka integritas kemitraan Polres Sampang sedang berada di titik nadir.(Yat/F-R)


