SURABAYAONLINE.CO, Jakarta – Tahun ini, Nestlé Indonesia memperingati 50 tahun kemitraannya bersama para peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur. Kemitraan dimulai dengan pendampingan, edukasi dan bantuan untuk peningkatan kualitas dan kuantitas susu sapi segar, maupun peningkatan kesejahteraan komunitas peternak sapi perah rakyat.
Sekarang telah berkembang untuk mendorong implementasi pertanian regeneratif. Saat ini, lebih dari 13.000 peternak sapi perah rakyat dari 28 koperasi di Jawa Timur merupakan mitra kerja Nestlé Indonesia.
Presiden Direktur PT Nestlé Indonesia Georgios Badaro mengatakan, “Kisah kami bermula pada 1975, ketika kami membeli 160 liter susu segar dari sebuah koperasi di Pujon, Malang,” katanya, Selasa (16/12).
“Selama 50 tahun terakhir, kami telah membangun kemitraan yang kuat dengan ribuan peternak sapi perah, koperasi, serta pemerintah pusat dan daerah, dan berperan penting dalam membangun komunitas persusuan yang tangguh di Jawa Timur,” jelas Georgios Badaro.
Menghadiri peringatan 50 tahun kemitraan antara PT Nestle Indonesia dengan peternak sapi perah rakyat Jawa Timur, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Wirata menyampaikan apresiasi terhadap komitmen Nestlé Indonesia yang selama lebih dari 50 tahun konsisten memperkuat industri pengolahan susu nasional.
“Kemitraan jangka panjang antara PT Nestlé Indonesia dan peternak sapi perah rakyat selama lima dekade merupakan contoh kolaborasi strategis yang mampu menjawab tantangan ketersediaan susu segar dalam negeri, mutu dan keamanan pangan asal hewan, serta keberlanjutan usaha peternakan rakyat,” katanya.
Sedangkan Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Produk Peternakan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Karsan, juga menyampaikan bahwa optimis terhadap industri persusuan nasional. “Industri susu Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Kami mengapresiasi langkah Nestlé yang terus meningkatkan kapasitas produksi, memperluas fasilitas, dan memperkuat rantai pasok susu segar lokal,’ jelasnya.
Sustainable Agri Advisor PT Nestlé Indonesia Syahrudi, menambahkan, upaya pihaknya dalam mentransformasi praktik usaha lokal tidak hanya berhenti pada dukungan kepada peternak. Tetapi juga mencakup pendekatan pertanian regeneratif yang memulihkan dan merevitalisasi ekosistem.
“Hingga kini, kami telah membangun 8.700 unit biogas dan 2.000 fasilitas aplikasi pupuk kandang untuk mengubah limbah menjadi energi bersih dan pupuk alami. Lebih dari 200.000 pohon legum seperti Calliandra dan Indigofera, telah ditanam melalui program silvopastura untuk mendukung restorasi tanah,” jelas Syahrudi.
Sejalan dengan landasan Creating Shared Value, Nestlé Indonesia turut berkomitmen untuk meningkatkan perekonomian nasional, melalui pemberdayaan para pemasok bahan baku, seperti para peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur.
Pada tahun 2019, Nestlé Indonesia menginvestasikan sekitar USD 100 juta untuk memperluas tiga pabrik. Pada tahun 2021 berkomitmen sekitar USD 220 juta untuk membangun Pabrik Bandaraya terbaru di Jawa Tengah, sehingga total investasi hingga saat ini mencapai sekitar USD 617 juta.
Momentum peringatan 50 tahun kemitraan PT Nestlé Indonesia dengan peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur dapat menjadi model praktik terbaik pengembangan kemitraan persusuan nasional yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.(*)


