SURABAYAONLINE.CO, Surabaya – Guna membekali pelajar dengan kemampuan menghadapi risiko bencana sejak dini, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Pusat Studi Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) meresmikan Gerakan Seribu Siswa Sahabat Tangguh Bencana. Kegiatan yang memberikan edukasi kesiapsiagaan bencana kepada ribuan siswa dari jenjang SD hingga SMA di Jawa Timur tersebut berlangsung di Gedung Pusat Robotika ITS, Kamis (29/10).

Mewakili Gubernur Jawa Timur, Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Jawa Timur Adhy Karyono dalam sambutannya menekankan pentingnya kesiapsiagaan sebagai langkah mengurangi risiko bencana. Menurutnya, penguatan mitigasi sebelum bencana terjadi dapat membantu menekan dampak saat keadaan darurat. “Ketika kesiapsiagaan mitigasinya kuat, 70 persen risiko dapat berkurang saat tanggap darurat,” tegasnya.

Adhy menambahkan, kesiapsiagaan perlu dimulai dari kemampuan individu dalam mengenali potensi bahaya dan melakukan penyelamatan diri. Pasalnya, masyarakat yang berada di lokasi kejadian menjadi pihak pertama yang dapat bertindak sebelum bantuan tiba. “Pada kesempatan pertama, jangan berharap langsung ada yang menolong, kita harus menolong diri sendiri dulu,” ujarnya mengingatkan.

Sementara itu, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITS Nurul Widiastuti menyampaikan pentingnya membekali pelajar dengan pengetahuan kebencanaan. Ia juga berharap agar para peserta ini dapat menjadi duta kebencanaan di sekolah, keluarga, dan lingkungan tempat tinggal masing-masing. “Ingat tiga kunci utama: kenali, siapkan, dan lakukan,” pesannya.

Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Pusat Studi MKPI ITS Hepi Hapsari Handayani menjelaskan bahwa Indonesia, termasuk Jawa Timur, memiliki beragam potensi bencana yang perlu dikenali sejak dini. Melalui program ini, pelajar dibekali pengetahuan dan keterampilan dasar agar mampu mengambil langkah tepat ketika menghadapi situasi darurat. “Detik-detik awal sangat berharga sebelum tim penyelamat seperti BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) atau SAR datang,” jelasnya.

Program ini menyasar 1.000 siswa dari wilayah Gerbangkertosusilo, yang meliputi Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan. Untuk memperkuat pemahaman peserta, kegiatan dikemas melalui edukasi interaktif, simulasi Virtual Reality (VR), serta pengenalan materi kebencanaan melalui Education Booth.

Lebih lanjut, Wakil Ketua Pusat Studi MKPI ITS Berlian Al-Kindhi menyampaikan bahwa pendekatan tersebut dirancang agar pelajar dapat memahami dan menerapkan pengetahuan kebencanaan dalam kehidupan sehari-hari. Peserta juga diharapkan mampu menyebarkan pemahaman tersebut kepada orang-orang di sekitarnya. “Mereka bisa menjadi agen di sekolah, keluarga, dan lingkungan untuk memberitahu apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana,” paparnya.

Selain pembelajaran di dalam ruangan, peserta mengikuti pelatihan praktik sesuai jenjang pendidikan. Siswa SD memperoleh simulasi pemadaman api bersama Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar). Sedangkan siswa SMP dan SMA mengikuti pelatihan keselamatan diri, pertolongan pertama, serta prosedur evakuasi bersama Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) ITS dan BPBD Jawa Timur.(*)

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version