SURABAYAONLINE.CO – PT Petrokimia Gresik menyiapkan stok pupuk bersubsidi sebanyak 443.436 ton untuk mendukung kebutuhan petani menjelang musim tanam Oktober–Maret. Jumlah tersebut berada di atas ketentuan safety stock yang ditetapkan pemerintah.
Kesiapan stok tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero) dalam menjaga ketersediaan pupuk untuk mendukung produktivitas pertanian dan ketahanan pangan nasional.
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, mengatakan ketersediaan pupuk menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan kelancaran musim tanam. Perusahaan terus mengoptimalkan operasional dan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menjaga kesiapan produksi serta ketersediaan stok.
“Paling utama kebutuhan petani itu tercukupi, tidak ada kendala apalagi pada saat musim tanam. Petani dapat mengoptimalkan stok pupuk bersubsidi ini sebaik-baiknya. Ini merupakan bentuk dukungan Petrokimia Gresik dalam meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mewujudkan ketahanan pangan nasional,” ujar Daconi di Gresik, Senin (12/10/2026).
Stok pupuk bersubsidi tersebut terdiri atas Urea sebanyak 95.645 ton, NPK Phonska 261.858 ton, pupuk organik Petroganik 70.054 ton, ZA 4.116 ton, dan SP-36 sebanyak 11.763 ton.
Selain menjaga kesiapan pasokan, Petrokimia Gresik mendorong penerapan pemupukan berimbang untuk menjaga produktivitas pertanian secara berkelanjutan. Upaya ini dinilai penting karena kondisi kesehatan tanah turut memengaruhi efektivitas pemupukan dan hasil pertanian.
Berdasarkan hasil pengujian terhadap 40.282 sampel tanah di 27 provinsi sejak 2016, Petrokimia Gresik mencatat sebanyak 91,9 persen sampel memiliki kandungan karbon organik rendah.
Karbon organik berperan dalam menjaga struktur tanah, mendukung aktivitas mikroorganisme, serta membantu ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Rendahnya kandungan karbon organik menjadi perhatian dalam upaya menjaga kesuburan tanah dan keberlanjutan pertanian.
“Pupuk yang tersedia harus dimanfaatkan secara tepat. Selain memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman, kita juga perlu menjaga kesehatan tanah agar tetap produktif. Karena itu, penggunaan pupuk organik dan anorganik secara berimbang menjadi penting, bukan hanya untuk hasil panen saat ini, tetapi juga untuk keberlanjutan pertanian ke depan,” jelas Daconi.
Ia menjelaskan, pupuk organik seperti Petroganik berperan membantu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Sementara itu, pupuk anorganik digunakan untuk memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman.
Penggunaan pupuk organik dan anorganik secara tepat diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan sekaligus membantu mempertahankan kesuburan lahan dalam jangka panjang.
Sebagai salah satu contoh penerapan pemupukan berimbang pada tanaman padi, Petrokimia Gresik memperkenalkan pola 5:3:2. Pola tersebut menggunakan 500 kilogram pupuk organik, 300 kilogram pupuk NPK, dan 200 kilogram pupuk Urea untuk lahan seluas satu hektare.
Namun, penerapannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, kondisi tanah, serta rekomendasi teknis pertanian setempat.
Untuk menjaga kesinambungan pasokan pupuk, Petrokimia Gresik juga mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital dalam kegiatan operasional. Sistem yang digunakan meliputi Warehouse Management System (WMS), Sistem Scheduling Truk Online (SISTRO), dan Petrokimia Gresik Port Information System (Petroport).
Pemanfaatan sistem tersebut mendukung pengelolaan pergudangan, koordinasi transportasi, serta aktivitas kepelabuhanan. Langkah ini juga ditujukan untuk menjaga kelancaran pasokan bahan baku dan keberlangsungan proses produksi.
Daconi menegaskan, perusahaan terus memperhatikan kelancaran pasokan bahan baku, optimalisasi produksi, dan pengelolaan pergudangan untuk menjaga ketersediaan pupuk, terutama ketika kebutuhan meningkat pada musim tanam.
“Sebagai produsen pupuk, tanggung jawab kami adalah memastikan kesiapan produksi dan ketersediaan pasokan agar kebutuhan petani dapat terus terpenuhi. Kami ingin kontribusi Petrokimia Gresik tidak hanya membantu kelancaran musim tanam, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi peningkatan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan nasional,” pungkasnya.


