SURABAYAONLINE.CO, Surabaya – TNI Angkatan Laut (TNI AL) kini memiliki Fire Fighting Training Center (FFTC) Koarmada II yang telah berstandar internasional National Fire Protection Association (NFPA). Fasilitas tersebut disiapkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan awak kapal dalam menghadapi kondisi darurat, khususnya kebakaran di kapal.

Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Edwin mengatakan, FFTC Koarmada II menjadi sarana penting untuk melatih para awak KRI maupun anak buah kapal (ABK) agar mampu menghadapi situasi kritis di kapal.

“Fasilitas ini kita gunakan untuk melatih pengetahuan dan keterampilan para awak KRI, para ABK, untuk menghadapi situasi-situasi kritis di kapal, khususnya kebakaran. Kita juga melihat tadi ada Damage Control Simulator,” kata Edwin saat peresmian Fire Fighting Training Center di Koarmada II, Jumat (11/9).

Menurutnya, terdapat dua kondisi darurat yang menjadi ancaman krusial di kapal, yakni kebakaran dan kebocoran. Karena itu, prajurit TNI AL terus dilatih agar senantiasa siap menghadapi kondisi kedaruratan tersebut.

“Ada dua permasalahan yang ada di kapal yang cukup krusial, yaitu bahaya kebakaran dan bahaya kebocoran. Dan inilah yang kita laksanakan, salah satunya melatih para prajurit Jalasena untuk senantiasa siap siaga menghadapi kondisi kedaruratan ini,” ujarnya.

Edwin menjelaskan, pembangunan FFTC merupakan proyek tahun jamak yang dimulai pada 2024. Fasilitas tersebut kemudian diresmikan dan telah mengantongi standardisasi atau sertifikasi internasional NFPA.

Dengan standar tersebut, TNI AL membuka peluang pemanfaatan fasilitas FFTC secara bersama-sama dengan kementerian/lembaga maupun berbagai pemangku kepentingan di bidang kemaritiman. “Fasilitas ini kita harapkan juga bisa kita manfaatkan bersama-sama, baik itu kementerian atau lembaga, kemudian rekan-rekan stakeholder yang bergerak di bidang kemaritiman,” jelasnya.

Ia menegaskan, kesiapsiagaan menghadapi kebakaran kapal sangat penting karena api dapat menyebar dengan cepat, terlebih ketika terjadi di ruang-ruang tertutup. Melalui latihan berulang, diharapkan respons awak kapal menjadi otomatis dan semakin cepat ketika menghadapi kondisi darurat.

Dalam latihan tersebut, kemampuan awak kapal dalam memadamkan api juga menggunakan standar waktu yang terukur. Para peserta ditargetkan mampu memadamkan api dalam waktu maksimal empat menit. “Tadi kita tanyakan, salah satunya empat menit maksimum mereka harus bisa memadamkan api. Lebih dari empat menit, fail,” tegas Edwin.

Selain FFTC, TNI AL juga memiliki Damage Control Simulator yang digunakan untuk melatih penanganan kondisi kebocoran kapal. Kedua fasilitas tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal tidak hanya oleh internal TNI AL, tetapi juga bersama seluruh stakeholder kemaritiman.

Edwin menyebut kehadiran Menteri Perhubungan, Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Pelindo, Pelni, Bakamla, serta sejumlah kementerian dan stakeholder lainnya menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi dalam meningkatkan keselamatan pelayaran.(*)

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version