SURABAYAONLINE.CO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik memperkuat penanganan dampak musim kemarau dengan menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air. Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani turun langsung menyalurkan bantuan ke Desa Tenggor, Kecamatan Balongpanggang, Rabu (26/8/2026).

Sebanyak empat tangki air bersih disalurkan kepada masyarakat Desa Tenggor. Setiap tangki berkapasitas 5.000 liter sehingga total bantuan mencapai 20.000 liter air bersih.

Bupati Yani mengatakan kebutuhan air bersih berpotensi meningkat selama musim kemarau. Karena itu, Pemkab Gresik menyiapkan distribusi air sekaligus membuka akses pelaporan bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Kami butuh informasi dari masyarakat Gresik, kecamatan atau desa mana yang membutuhkan air bersih. Bisa melalui 112, Lapor Gus di 0812-3225-4001, atau melalui pemerintah desa,” ujar Yani saat berada di Desa Tenggor.

Berdasarkan pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik, terdapat 62 desa di 11 kecamatan yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih. Wilayah tersebut mencakup 136 dusun di Kabupaten Gresik.

Kecamatan Balongpanggang menjadi salah satu wilayah yang masuk dalam pemetaan. Enam desa di kecamatan tersebut berpotensi mengalami kekurangan air bersih, yakni Ganggang, Ngasin, Dapet, Tenggor, Dohoagung, dan Tanahlandean.

Khusus Desa Tenggor, BPBD Gresik menerima permintaan bantuan untuk 720 kepala keluarga atau 465 rumah yang mengalami kekurangan air bersih.

Sebelum distribusi ke Tenggor, BPBD Gresik telah menyalurkan bantuan air bersih ke lima desa. Dua desa berada di Kecamatan Sidayu, yakni Randuboto dan Srowo. Sementara tiga desa lainnya berada di Kecamatan Bungah, yakni Kemangi, Gumeng, dan Pegundan.

Kepala BPBD Gresik Sukardi mengatakan pihaknya telah menyiapkan lima armada tangki untuk memperkuat distribusi air bersih. Masing-masing armada memiliki kapasitas 5.000 liter.

“BPBD sudah memetakan 62 desa dari 11 kecamatan yang berpotensi kekurangan air bersih. Untuk mendukung penanganan, kami sudah menyiapkan lima armada tangki dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter,” kata Sukardi.

Dari sisi dukungan distribusi, BPBD sebelumnya memiliki alokasi sekitar 250 tangki air. Melalui perubahan anggaran, dukungan tersebut ditambah sekitar 200 tangki sehingga total kesiapan mencapai sekitar 450 tangki air.

Pemkab Gresik juga menyiapkan dukungan anggaran untuk menangani kebutuhan air bersih. Melalui perubahan anggaran, tersedia tambahan Rp100 juta untuk mendukung penanganan masyarakat terdampak kekurangan air.

Bupati Yani menegaskan penanganan krisis air bersih membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemkab Gresik akan memperkuat kerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Gresik.

“Insyaallah tahun ini kita lebih siap, termasuk secara anggaran. Armada juga nanti bisa kita kolaborasikan. BPBD punya lima truk tangki, PMI Gresik juga punya anggaran dan infrastruktur truk operasional,” ujar Yani.

Selain distribusi air bersih, Pemkab Gresik menyiapkan mitigasi jangka panjang untuk menghadapi kekeringan. Salah satunya melalui normalisasi waduk dan saluran air untuk meningkatkan kapasitas tampungan saat musim penghujan.

Sebanyak 12 alat telah diturunkan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Gresik untuk mengerjakan sejumlah titik, termasuk normalisasi anak Sungai Kali Lamong dan sejumlah waduk.

Menurut Yani, normalisasi dilakukan untuk menyiapkan cadangan air menghadapi musim berikutnya. Waduk yang mengalami pendangkalan akan dinormalisasi agar mampu menampung lebih banyak air saat musim penghujan.

“Waduk juga sedang kita kerjakan. Seperti yang disampaikan Pak Kades, di Dohoagung, Kedungpring itu juga sedang kita kerjakan waduknya karena musim kemarau ini sudah dangkal,” katanya.

Yani juga mengingatkan persoalan air bersih tidak selalu disebabkan kekeringan. Di sejumlah wilayah, masalah dapat terjadi akibat kelancaran distribusi air perpipaan.

Karena itu, masyarakat diminta aktif melaporkan persoalan air bersih di lingkungan masing-masing. Informasi tersebut akan menjadi dasar pemerintah menentukan langkah penanganan sesuai kondisi lapangan.

“Kami butuh masukan, butuh informasi untuk disampaikan langsung. Desa mana, dusun mana, kecamatan mana. Tidak perlu khawatir, anggarannya juga kami siapkan sampai akhir tahun. Mudah-mudahan musim kemarau ini bisa kita lewati bersama,” tutur Yani.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version