SURABAYAONLINE.CO, Sidoarjo – Keberadaan relawan selama ini kerap menjadi garda terdepan dalam setiap upaya penanggulangan bencana. Salah satunya, seperti, dalam penanganan kebakaran hutan (Karhutla) di Gunung Bromo dan penanganan dampak gempa di Flores NTT yang masih berlangsung saat ini.

Sebagai bentuk perhatian atas kesehatan para relawan, selama tiga hari, Rabu-Jumat (19-21/8), BPBD Jatim berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Chiba Institute of Science (CIS) Jepang dan Universitas Budi Luhur memberikan pelayanan kesehatan kepada para relawan di Jatim.

Pelayanan cek kesehatan yang diikuti 200 relawan kebencanaan se-Jatim ini dilangsungka di Aula Taman Edukasi Bencana BPBD Jatim, dengan diawali seremoni pembukaan, Rabu (19/8).

Hadir dalam pembukaan ini, Koordinator Tim CIS Jepang Prof Ryo Tanaka, peneliti utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Ma’mun Nuryana dan perwakilan dari Universitas Budi Luhur. Mewakili Kalaksa BPBD Jatim, Sekretaris Andhika N Sudigda dan Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan (PK) BPBD Jatim Deni Kiki Melia Tamara.

Prof Ryo Tanaka dengan didampingi Ma’mun Nuryana mengatakan, tujuan kehadiran mereka di Jatim untuk melakukan cek kesehatan kepada para relawan bencana di Jatim.

Baginya, cek kesehatan ini penting karena relawan yang selama ini terlibat dalam penanganan bencana. Mereka kerap kurang memperhatikan kesehatan yang disebabkan karena kurangnya waktu istirahat, terlambat makan, dan beban aktivitas yang berlebihan.

“Kita akan melakukan cek kesehatan, baik fisik maupun mental. Karena beban kerjaan yang berat kadang juga berdampak pada psikologis seseorang,” terangnya.

Sementara, Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto yang turut hadir menyapa tim Jepang dan para relawan, menyampaikan terima kasih atas kolaborasinya kali ini.

Kolaborasi ini, menurutnya, bukanlah yang pertama, namun sudah yang kesekian kali karena potensi bencana di Jatim memang sangat beragam. Hanya saja, fokus kali ini pada pemeriksaan kesehatan relawan.

Baginya, layanan cek kesehatan ini juga penting, mengingat aktivitas para relawan di lapangan cukup berisiko karena berbagai faktor, termasuk kelelahan. “Selain dampak fisik, tentu juga ada dampak psikologis akibat padatnya aktivitas mereka, dan beban hidup keluarga yang kerap mereka tinggalkan,” ujarnya.

Harapannya, dengan adanya pemeriksaan kesehatan ini, akan ada kajian yang bisa menjadi rekomendasi atas kesehatan para relawan. Sekaligus menjadi upaya pencegahan terhadap dampak yang tidak diinginkan.(*)

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version