SURABAYAONLINE.CO – Mantan Aparatur Sipil Negara (ASN) asal Porong, Kabupaten Sidoarjo, Dyah Retno Nilawati, berhasil membuktikan bahwa keberanian beralih profesi mampu membuka peluang usaha yang lebih luas. Melalui Batik Kreasi Nila yang dirintis sejak 2017, ia kini sukses memasarkan produk batiknya ke berbagai daerah di Indonesia hingga menembus pasar internasional.

Produk batik Kreasi Nila saat ini telah dipasarkan ke Jakarta, Kalimantan Barat, Balikpapan, Sulawesi Utara, Lamongan, Tuban, Gresik, dan Probolinggo. Bahkan, batik khas Sidoarjo tersebut telah menjangkau pasar luar negeri melalui jaringan galeri dan mitra usaha di Korea Selatan, Singapura, serta Malaysia.

Keberhasilan tersebut berawal dari keputusan besar Dyah meninggalkan pekerjaannya sebagai tenaga administrasi di Kantor Urusan Agama (KUA) Kabupaten Pasuruan setelah mengabdi selama 17 tahun.

“Sebagai perempuan, saya ingin lebih mendampingi suami dan membantu mengembangkan usaha yang saat itu sedang dirintis,” ujar Dyah.

Keputusan itu kemudian menjadi titik awal lahirnya Batik Kreasi Nila yang mengusung motif khas Sidoarjo. Berbekal kecintaan terhadap budaya lokal dan semangat melestarikan batik, Dyah memilih mengembangkan batik dengan karakter berbeda dari Batik Jetis yang telah lebih dulu dikenal masyarakat.

Untuk menguasai teknik membatik, ia belajar secara otodidak sekaligus berguru kepada tujuh perajin batik dari Pasuruan, Purwosari, Pacet, hingga Nganjuk.

Perjalanan usahanya dimulai pada 2017 ketika menerima pesanan pertama dari seorang dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sebanyak lima lembar kain batik setelah melihat hasil karyanya melalui media sosial. Sejak saat itu, pemasaran Batik Kreasi Nila terus berkembang melalui promosi dari mulut ke mulut.

Perkembangan usaha semakin pesat setelah Dyah bergabung dengan komunitas UMKM Porong yang memberikan akses pendampingan dan pengembangan usaha.

Pencapaian penting diraih pada 2022 saat Batik Kreasi Nila lolos dalam program kurasi UMKM yang diselenggarakan Kimia Farma. Dari sekitar 15 ribu peserta dari seluruh Indonesia, usahanya berhasil masuk 35 besar nasional sekaligus menjadi satu-satunya wakil Kabupaten Sidoarjo yang lolos.

“Dari Jawa Timur hanya tiga UMKM yang lolos, yakni dari Jember, Malang, dan Sidoarjo,” ungkapnya.

Program tersebut memberikan pendampingan bisnis, pelatihan pengelolaan usaha, hingga akses permodalan yang turut meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas jaringan pemasaran.

Tak hanya fokus mengembangkan usaha, Dyah juga aktif sebagai guru di SLBN Juwet Kenongo. Rumah produksi Batik Kreasi Nila dimanfaatkan sebagai tempat belajar sekaligus pelatihan keterampilan bagi para siswa.

Ia melibatkan anak didiknya dalam proses produksi sesuai kemampuan masing-masing dan memberikan upah sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi mereka.

Selain itu, usaha Batik Kreasi Nila juga memberdayakan ibu tunggal, penyandang disabilitas, serta pelajar melalui pelatihan membatik dan kegiatan produksi.

Saat ini, pemasaran produk dilakukan melalui berbagai platform digital seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, TikTok, pameran UMKM, hingga lapak Car Free Day (CFD). Produk Batik Kreasi Nila juga dipercaya menjadi penyedia seragam batik haji Kabupaten Sidoarjo selama tiga tahun berturut-turut.

Ke depan, Dyah berharap pemerintah dapat menghadirkan galeri bersama bagi pelaku UMKM agar produk-produk lokal memiliki ruang promosi yang lebih luas.

“Harapan kami ada galeri bersama untuk UMKM. Dengan begitu, pelaku usaha yang baru berkembang juga memiliki kesempatan yang sama untuk dikenal masyarakat,” pungkasnya.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version