Oleh: Rizal Haqiqi (Peneliti Yayasan Satria Merah Jambu)
SURABAYAONLINE.CO – Jombang, akhir Juli. Hujan baru saja reda. Di pelataran Pesantren Tambakberas, tanah masih basah, memantulkan cahaya bulan yang nyaris penuh. Di sinilah, sebulan lagi, ribuan kiai, santri, dan tamu undangan akan berkumpul. Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Hajat besar yang tak sekadar memilih pemimpin, tetapi—sebagaimana diyakini para tetua—menentukan apakah ruh organisasi ini tetap menyala atau perlahan padam.
Di sebuah ruang belakang, seorang kiai sepuh duduk bersila. Di hadapannya, delapan lembar kertas bertuliskan nama. Ia memandangnya lama, lalu berbisik: “Delapan. Tetapi hanya satu yang akan dipanggil.” Ia menyalakan dupa, membuka kitab tua, dan hatinya bertanya kepada langit.
Delapan nama itu kini beredar di kalangan nahdliyin: KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), KH. Zulfa Mustofa, KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), KH. Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, H. Gudfan Arif Ghofur (Gus Gudfan), KH. Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), dan KH. Abdussalam Shohib (Gus Salam). Masing-masing membawa modal: darah, ilmu, jaringan, uang, atau—yang paling sulit diukur—restu para wali.
Bagaimana membaca peluang mereka? Di Nahdlatul Ulama, kalkulasi politik tidak pernah cukup. Di sini, hitung-hitungan suara harus tunduk pada hitung-hitungan langit. Maka, kami menempuh lima jalan sekaligus: membedah peta politik, menyelami akar budaya, menelisik psikologi, mengintai manuver tersembunyi, dan—dengan segala kerendahan hati—mencoba menangkap bisikan semesta.
Bekal Sang Petahana dan Bayang-bayang Kekuasaan
Gus Yahya datang dengan bekal lengkap. Sebagai petahana, ia menguasai mesin organisasi, memiliki akses ke Istana, dan mengantongi jaringan global. Pemikirannya tentang Islam Nusantara dan humanisme universal dikagumi para intelektual dan lembaga donor. Ia laksana pelaut yang sudah hafal peta samudra.
Namun, di balik layar, ada riak. Sumber di lingkungan PBNU menyebutkan adanya friksi dengan Sekretaris Jenderal. Rotasi pengurus yang dilakukan menjelang muktamar dianggap sebagai manuver mengamankan loyalitas. “Muktamar kali ini bukan sekadar memilih, tetapi referendum atas kepemimpinannya,” ujar seorang kiai berpengaruh. Di kalangan tradisional, ada yang menganggapnya terlalu dekat dengan kekuasaan politik. “NU itu harus menjadi pengingat, bukan pengeras suara,” bisik seorang pengasuh pesantren di Jawa Timur.
Secara psikoanalisis, Gus Yahya adalah arketipe Sang Penguasa. Kekuatannya terletak pada visi dan ketegasan. Namun, terlalu lama berkuasa dapat mengaburkan batas antara percaya diri dan otoritarianisme. “Dia cenderung ingin mengontrol narasi, dan itu berbahaya,” ujar seorang pengamat yang enggan disebut namanya. Tarot akan menempatkannya sebagai The Emperor: struktural, mapan, tetapi bayang-bayangnya adalah The Tyrant—kesewenang-wenangan yang lahir dari keyakinan bahwa dirinya paling benar.
Ada pula Menteri Agama Nasaruddin Umar. Akademisi, Imam Besar Masjid Istiqlal, aktivis gender, dan diplomat antaragama. Ia membawa The Radiance: cahaya karisma dan akses kekuasaan. Namun, di kalangan nahdliyin, namanya menimbulkan tanya. “Dia orang baik, tetapi bukan produk pesantren tradisional. Apakah dia paham bahasa langgar dan musala?” komentar seorang kiai sepuh. “Kita butuh pemimpin yang mengerti suara jamaah, bukan suara Jakarta.”
Dalam intelijen politik, pencalonan Nasaruddin dianggap membawa aroma intervensi kekuasaan. “Ada skenario menjadikan NU di bawah kendali,” ujar seorang sumber. Jika benar, resistensi dari akar rumput bisa sangat kuat. Sejarah membuktikan, NU selalu menolak keras segala bentuk pendiktean. Maka, The Radiance bisa memudar ketika dihadapkan pada The Hermit—kesunyian pesantren yang tak terpikat gemerlap.
Putra-putra Pesantren dan Jejak Leluhur
Ada empat nama yang merepresentasikan kemurnian tradisi: Gus Kikin (Jawa Timur), Gus Rozin (Jawa Tengah), Gus Yusuf (API Tegalrego, Magelang), dan Gus Salam (Denanyar, Jombang). Mereka adalah produk pesantren sejati. Masing-masing membawa darah kiai besar.
Gus Kikin menguasai mesin PWNU Jawa Timur. Jumlah cabang di provinsi ini adalah yang terbesar, sehingga siapa pun yang menguasai Jatim seringkali menjadi penentu. “Jika Jatim bersatu, mereka bisa menjadi raja,” ujar seorang pengurus wilayah. Namun, kekuatan regional belum tentu cukup untuk memenangkan dukungan nasional. Gus Kikin harus membangun jembatan ke Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Arketipenya adalah Sang Pengasuh: stabil, dapat dipercaya, tetapi mungkin kurang memberikan kejutan visioner.
Gus Rozin membawa nama besar. Ia putra almarhum KH. Maimoen Zubair, Mbah Moen, wali besar yang karismanya masih terasa hingga kini. “Memilih Gus Rozin seperti merindukan kembali teladan Mbah Moen,” ujar seorang kiai di Pati. Ia adalah The Return—kembalinya nilai-nilai lama yang dirindukan. Namun, nostalgia juga memiliki risiko: mampukah ia melampaui bayangan sang ayah? Di usianya yang relatif muda, ia perlu membuktikan kapasitas manajerial di level nasional.
Gus Yusuf, pengasuh API Tegalrejo, Magelang, memiliki basis alumni yang solid. Pesantrennya adalah salah satu yang terbesar di Jawa Tengah. Ia dikenal alim, teduh, dan berwibawa. Bersama Gus Rozin, ia bisa menjadi kekuatan Jateng. Namun, spektrum nasionalnya masih perlu diuji.
Gus Salam, pengasuh Denanyar, Jombang, adalah kuda hitam yang menarik. Denanyar bukan pesantren terbesar, tetapi memiliki nilai historis dan simbolik tinggi. Muktamar di Jombang memberinya panggung. Yang lebih mistis: Denanyar adalah tempat mondok Gus Gudfan. “Denanyar adalah rahim. Dari situ lahir banyak tokoh,” ujar seorang kiai. Jika poros Jombang mengerucut, nama ini bisa mencuat. Tetapi untuk saat ini, basis dukungannya masih terbatas.
Jalan Sunyi dan Kekuatan Doa: Zulfa Mustofa dan Gus Gudfan
KH. Zulfa Mustofa adalah potret kiai sejati. Wakil Ketua Umum PBNU ini dikenal alim, zuhud, dan tidak terlibat politik praktis. “Dia seperti air jernih di tengah kekeruhan,” ujar seorang santri Rembang. Arketipenya adalah The Innocent—murni, tanpa noda. Namun, justru kemurnian itu yang bisa menjadi kekuatan. “Dalam situasi kacau, orang merindukan pemimpin yang bersih,” lanjutnya. Apakah ia mau? “Itu soal lain. Tipe seperti dia biasanya tidak mengejar.”
Lalu, ada nama yang paling menyita perhatian para pembaca batin: Gus Gudfan Arif Ghofur.
Ia adalah Bendahara Umum PBNU, pengusaha tambang, dan—yang terpenting—keturunan tiga wali: Sunan Drajat dari ayah, Sunan Giri dari ibu, dan Sunan Ampel sebagai porosnya. Darahnya adalah sungai yang mengalir dari hulu Wali Songo. Di kalangan tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah, ia dikenal sebagai salik yang menempuh jalan sunyi.
Yang membuatnya fenomenal adalah penolakannya. Ia menolak dicalonkan. Ia bahkan menolak menjadi pengurus. “Biarkanlah aku di belakang,” demikian kira-kira bisiknya, sebagaimana diceritakan oleh seorang kerabat. Penolakan ini, dalam kultur pesantren, justru menjadi magnet. “Semakin seseorang menolak, semakin para kiai yakin bahwa dia layak,” ujar seorang pengasuh pesantren. “Ini ujian ketulusan. Hanya orang yang tidak haus kuasa yang aman memegang kuasa.”
Tarot akan menempatkannya di tiga kartu sekaligus: The Surrender (warisan Sunan Giri), The Inner Voice (kepekaan Sunan Drajat), dan The Shadow (kebijaksanaan Sunan Ampel). Kartu dasarnya adalah The Channel—saluran yang menyatukan semuanya. “Dia seperti wadah kosong yang siap diisi amanah,” tafsir seorang pembaca kartu yang juga santri.
Secara psikoanalisis, penolakannya adalah proses individuasi. Ia bergulat dengan bayang-bayang: rasa tidak layak, beban nama besar leluhur, dan ketakutan akan kegagalan. “Tapi justru dengan menghadapi bayang-bayang itu, ia bisa menjadi pemimpin yang utuh,” ujar seorang psikolog yang akrab dengan tradisi pesantren. “Pemimpin yang tidak pernah ragu justru berbahaya. Mereka cenderung otoriter.”
Dari sisi intelijen, di balik diamnya, ada jaringan yang bergerak: kiai-kiai tarekat, pengusaha, mantan aktivis NASIONALIS, mantan aktivis SOSIALIS dan para perindu Gus Dur. Gus Gudfan pernah mendampingi Gus Dur dalam misi-misi sunyi. “Dia belajar politik dari yang paling paham politik, yaitu Gus Dur. Tapi dia juga belajar bahwa kekuasaan bukan tujuan,” ujar seorang mantan ajudan Gus Dur. “Itu bekal yang tidak dimiliki yang lain.”
Apakah ia akan menerima jika didorong? “Itu pertanyaan besarnya,” kata seorang kiai. “Dia seperti kuncup yang belum mekar. Tapi jika semesta menghendaki, kuncup itu akan mekar tepat pada waktunya.”
Hitung-hitungan Langit dan Manuver Tersembunyi
Dalam tradisi NU, keputusan besar seringkali diwarnai oleh isyarat langit. Mimpi seorang kiai, hasil istikharah, atau “kebetulan” yang bermakna. Muktamar di Jombang, tempat Denanyar berada, adalah isyarat bagi sebagian orang. “Jombang adalah poros. Para muassis lahir di sini. Maka, pemimpin yang dipilih harus memiliki akar di sini,” ujar seorang pengamat sejarah NU.
Teori intelijen organisasi membaca beberapa skenario. Pertama, jika Gus Yahya mampu meredam konflik internal dan mengamankan dukungan mayoritas wilayah, ia bisa kembali terpilih. Tetapi, resistensi dari Jatim dan ketidakpuasan sejumlah kiai bisa menggagalkannya.
Kedua, koalisi Jatim-Jateng bisa mengusung calon alternatif seperti Gus Kikin atau Gus Rozin. Jika ini terjadi, suara akan terpecah dan kemungkinan terjadi deadlock.
Ketiga, deadlock justru membuka jalan bagi kandidat kompromi yang selama ini diam. Di sinilah nama Gus Gudfan mencuat. “Dia tidak memiliki musuh. Dia tidak terlibat friksi. Dia diterima banyak pihak karena tidak mengancam siapa pun,” ujar seorang analis politik. Poros tengah—para kiai sepuh—bisa memainkan peran: memanggil Gus Gudfan untuk “menerima amanah”. Jika itu terjadi, dukungan akan mengalir deras, karena para kiai akan mengikutinya.
Keempat, jika intervensi kekuasaan terlalu mencolok melalui figur Nasaruddin Umar, resistensi akan mempersatukan faksi-faksi yang bertikai untuk melawan. “Itu skenario paling buruk bagi pemerintah. Mereka akan kehilangan NU,” ujar sumber intelijen.
Siapa yang Akan Dipanggil?
Menerawang masa depan organisasi sebesar NU ibarat membaca langit malam yang penuh bintang. Setiap calon memiliki kelebihan dan kelemahannya. Namun, jika kita membaca tanda-tanda, ada satu nama yang frekuensinya terus meninggi: Gus Gudfan.
Bukan karena ia yang paling alim. Bukan pula karena ia yang paling kaya atau paling kuat secara politik. Tetapi karena ia merepresentasikan kombinasi langka: darah wali, tarekat, kapasitas ekonomi, dan—yang paling penting—ketiadaan hasrat terhadap kekuasaan. “Di dunia yang dikuasai oleh mereka yang haus kuasa, kehadiran orang yang menolak kuasa adalah oase,” ujar seorang kiai.
“Jika saya ditanya siapa yang paling mungkin ‘dipanggil’ langit, saya tidak bisa menjawab. Tetapi jika saya ditanya siapa yang paling siap secara batin untuk dipanggil, saya akan menyebut namanya,” lanjutnya.
Di pelataran Tambakberas, bulan purnama akan segera tiba. Para kiai akan berdatangan dengan hati berdebar. Mereka akan ber-istikharah, bermimpi, dan membaca isyarat. Dan di sebuah sudut sunyi, mungkin di Denanyar, seorang lelaki berusia 40 tahun akan duduk menatap kitab, masih dengan suara hatinya yang sama: “Bukan aku, tapi Engkau.”
Dan sejarah, sebagaimana biasanya, akan memilih mereka yang tidak pernah memilih dirinya sendiri.


