SURABAYAONLINE.CO, Surabaya – Isu krisis energi dan tuntutan untuk transisi energi hijau terus mendorong para akademisi untuk melahirkan inovasi alternatif. Sebagai jawaban dan untuk menunjukkan dukungan terhadap inovasi energi yang terbarukan dan berkelanjutan, dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Hosta Ardhyananta bersama timnya mengembangkan metode pembuatan bahan bakar alternatif berbahan baku kelapa sawit yang rendah emisi.
Melihat situasi geopolitik saat ini, di mana negara-negara di dunia, terutama ASEAN, sedang dihadapkan dengan kondisi krisis bahan bakar minyak (BBM). Rektor ITS Bambang Pramujati menyampaikan bahwa inovasi bensin sawit (Benwit) karya tim peneliti ITS tersebut bisa membantu pemerintah Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. “Ini kesempatan bagi pemerintah untuk mengembangkan sumber energi alternatif di tengah isu krisis bahan bakar akibat konflik di wilayah Timur Tengah saat ini,” tutur Bambang, Selasa (7/4).
Hosta yang merupakan ahli di bidang polimer, komposit, dan nanomaterial menyampaikan bahwa fokus penelitian ini berada pada pengurangan residu yang dihasilkan dari proses produksi. “Fokus dari inovasi kami ini adalah bagaimana mengonversi minyak mentah kelapa sawit yang padat menjadi produk bensin biogasoline yang siap digunakan,” terang Hosta yang meneliti bersama timnya.
Dalam prosesnya, tim ITS memanfaatkan metode catalytic cracking, yakni teknik pemecahan molekul besar menjadi molekul yang lebih kecil menggunakan katalis. Awalnya, proses ini menggunakan katalis berbasis alumina (?-Al?O?) yang berperan sebagai “gunting molekuler” untuk memecah trigliserida dalam Crude Palm Oil (CPO) menjadi fraksi hidrokarbon ringan. Melalui pendekatan ini, konversi biogasoline dapat mencapai sekitar 60 persen, meskipun masih membutuhkan suhu operasi tinggi hingga 420 derajat Celsius.
Sementara residu cair yang menyerupai minyak dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif lain, sehingga mendukung konsep produksi yang minim limbah. “Karena karakteristiknya yang menyerupai oli atau minyak jelantah, residu cair itu bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar kompor,” papar Hosta.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) Fadlilatul Taufany mengaku akan berkoordinasi dengan pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM, agar produk inovasi ini dapat diuji coba sebagai proyek nasional.(*)


